Advertorial
Intisari-online.com - Setelah mengancam Korea Selatan melalui pernyataan Kim Yo Jong, Korea Utara akan melakukan tindakan militer untuk mengamankan negara mereka dari negara tetangga mereka.
Kemunculan Kim Yo-Jong yang semakin sering mengambil posisi kunci dalam hierarki negara tersebut.
Wanita tersebut juga sangat tegas terkait oknum pelaku Korea Selatan yang mengirimkan propaganda anti-Pyongyang di perbatasan.
Dalam sebuah pertanyaan, ia mengatakan: "Aku merasa ini saatnya untuk memutuskan hubungan dengan pemerintah Korea Selatan. Kami akan segera lakukan aksi kami.
Baca Juga: Catat! Tanggal 1 Juli Polri Bagi-bagi SIM Gratis, Begini Syarat dan Ketentuannya
"Dengan melatih kekuasaanku yang diijinkan oleh Pemimpin Agung (Kim Jong-Un), Partai kami dan negara kami, aku berikan instruksi kepada departemen pengembangan senjata untuk lakukan aksi yang diperlukan kepada musuh kita."
Ia tambahkan juga jika "hak mengambil tindakan melawan musuh akan dipercayakan kepada Staff Umum militer kami."
Tindakan agresifnya yang kali pertama ini telah timbulkan ketakutan di Seoul, kunci aliansi Amerika.
Dengan adanya kepentingan ideologi terlibat, komentator telah lama berspekulasi jika konflik antara Korea Utara dan Selatan akan menjadi Perang Dunia 3.
Hal ini karena China dan Amerika terlibat, dengan China memihak Kim Jong-Un dan Amerika bersekutu dengan Korea Selatan.
Ketegangan antara Washington dan Korea utara telah berlangsung cukup lama.
Hal tersebut juga menjadi tema tenur Donald Trump di Kantor Oval.
Di bulan September 2017, ia mengancam untuk menghancurkan total negara tersebut.
Ancaman tersebut membuat PBB segera lakukan pertemuan umum untuk mencegah hal tersebut terjadi.
Ia mengatakan, "Momok di planet kita sekarang adalah rezim kasar dari grup kecil.
"Jika tindakan benar tidak dilakukan sekarang, maka iblis yang akan menang."
Ia kemudian menuduh Korea Utara, sembari menyebutkan 'kesalahan' mereka.
Antara lain adalah sejarah penculikan, penindasan dan tes nuklir.
Trump menambahkan: "Amerika memiliki kekuatan dan kesabaran yang besar.
"Jika kami dipaksa melindungi diri kami atau sekutu kami, kami tidak punya pilihan untuk benar-benar menghancurkan Korea Utara.
"Rocket Man (julukan untuk Kim Jong-Un) sedang dalam misi bunuh diri untuk dirinya dan rezimnya."
Trump sebutkan Amerika "siap, bersedia dan mampu" untuk lakukan aksi militer.
Meski begitu ia berharap hal tersebut semoga tidak diperlukan jika seluruh dunia maju untuk hentikan rezim mereka.
Lalu ia menyimpulkan, "Itulah gunanya PBB. Mari kita lihat bagaimana mereka bekerja."
Perang kata antara Washington dan Pyongyang meningkat ke level yang sangat intens setelah pidato Trump di PBB.
Namun hubungan antara kedua negara tersebut tetap tenang dan Kim pun sudah bertemu Trump beberapa kali.
Pada Februari 2019, keduanya bertemu di Hanoi, Vietnam.
Pertemuan tersebut sepertinya menjanjikan sesuatu yang baik ketika seorang reporter menyanyai Kim Jong-Un dan ia sebutkan ia pertimbangkan denuklirisasi.
Ingin mendapatkan informasi lebih lengkap tentang panduan gaya hidup sehat dan kualitas hidup yang lebih baik?Langsung saja berlangganan Majalah Intisari. Tinggal klik di sini