Advertorial
Intisari-online.com -Pastilah umat Islam di dunia memahami, bahwa sosok Rasulullah SAW atau Nabi Muhammad tidak boleh dibuat karikatur ataupun kartun.
Bahkan, bentuk perjuangannya pun tidak boleh difilmkan dan tidak boleh ada manusia yang menjadi sosoknya.
Hal tersebut karena Nabi Muhammad adalah sosok yang sangat dihormati, dan perintah dari Allah membuatnya demikian.
Namun, banyak negara-negara yang berani menggambarkan Nabi Muhammad dalam bentuk kartun.
Contohnya di Perancis ini.
Mengutip Channel News Asia, seorang guru Perancis baru-baru ini tunjukkan kepada muridnya karikatur Nabi Muhammad SAW.
Dengan segera, ia alami hukuman berupa dipenggal kepalanya di luar sekolahnya pada Jumat 16 Oktober kemarin.
Hal itu memicu reaksi luar biasa dari Presiden Perancis, Emmanuel Macron.
Ia menyebut hal itu sebagai "serangan teroris Islam".
Macon kunjungi sekolah tempat guru tersebut mengajar, yaitu di kota Conflans-Saint-Honorine dan bertemu para staf setelah pembantaian tersebut.
Presiden ungkapkan jika "seluruh negara" siap membela para guru dan tindakan ekstrimis tidak akan menang.
"Salah satu guru kami dibunuh hari ini karena dia mengajarkan…kebebasan untuk percaya ataupun tidak percaya," ujar Macron.
Ia juga sebutkan serangan itu seharusnya tidak membagi Perancis, karena itu yang diinginkan oleh ekstrimis.
"Kita harus berdiri bersama sebagai rakyat Perancis," ujarnya.
Keempat penyerang telah ditangkap, salah satunya masih di bawah umur.
Perancis telah menghadapi gelombang kekerasan Islam sejak serangan teror tahun 2015.
Serangan tersebut bermula dari sampul majalah Charlie Hebdo, tunjukkan karikatur Nabi, serta dengan dibukanya supermarket Yahudi di ibukota mereka.
Korban tersebut adalah seorang guru sejarah yang menunjukkan karikatur Nabi Muhammad sebagai bagian dari diskusi kelas mengenai kebebasan berekspresi.
Orang tua salah seorang murid mengatakan guru tersebut mungkin telah membuat kontroversi dengan meminta murid-muridnya yang beragama Islam untuk tinggalkan ruangan sebelum tunjukkan karikatur tersebut.
"Menurut anakku, ia guru yang sangat baik dan ramah," ujar orang tua tersebut, Nordine Chaouadi kepada AFPTV.
"Guru itu dengan mudah mengatakan kepada para murid beragama Islam: 'keluar, aku tidak ingin menyakiti perasaan kalian.' itu yang anakku ceritakan kepadaku," ujarnya.
Menurut polisi, KTP yang ditemukan pada penyerang tunjukkan ia lahir di Moskow pada tahun 2002, tapi investigator masih menunggu identifikasi formal.
Polisi mengatakan mereka sedang menyelidiki tweet yang diunggah dari akun yang baru-baru ini menunjukkan foto wajah guru itu, dan kini sudah ditutup.
Tidak jelas apakah pesan itu diunggah oleh si penyerang.
Namun pesan tersebut berisi ancaman terhadap Macron, yang digambarkan sebagai "pemimpin kaum kafir".
Warga setempat makin khawatir dengan apa yang terjadi.
Mereka mengatakan di daerah itu tidak pernah terjadi hal seperti itu sebelumnya.
Polisi segera tiba di TKP setelah menerima telepon mengenai seseorang yang dicurigai menunggu di dekat sekolah.
Mereka temukan sosok guru tersebut dan kemudian temukan tersangkanya, yang membawa pedang.
Ia mengancam mereka saat polisi mencoba menahannya.
Akhirnya ia ditembak oleh polisi dan hal tersebut mencederainya, dan ia meninggal karena cederanya.
Serangan ini datang setelah pasukan keamanan sedang siap siaga selama sidang para tersangka serangan teror di Paris pada Januari 2015.
Serangan ini juga datang beberapa hari setelah pengikut kelompok militan ISIS yang menyerang petugas polisi dengan palu di luar katedral Notre-Dame di Paris dihukum 28 tahun di penjara.
Serta, bulan lalu, tuntutan dilayangkan kepada warga Pakistan berumur 25 tahun setelah ia melukai dua orang dengan pisau daging untuk membalas publikasi karikatur Nabi Muhammad oleh Charlie Hebdo, yang konon memicu pembunuhan tahun 2015.
Tujuh belas orang tewas dalam tiga hari perayaan yang menandai gelombang kekerasan Islam di Perancis.
Sejauh ini kelompok ekstrimis di Perancis telah merenggut lebih dari 250 nyawa.
Ingin mendapatkan informasi lebih lengkap tentang panduan gaya hidup sehat dan kualitas hidup yang lebih baik?Langsung saja berlangganan Majalah Intisari. Tinggal klik di sini