Advertorial
Intisari-Online.com – Yuan Shikai (1859-1916), merupakan seorang komandan militer Qing berpangkat tinggi dan Presiden pertama Republik China dari tahun 1912 hingga 1916.
Sebagai seorang militer yang kuat daripada pemimpin politik, upaya Yuan Shikai untuk menghidupkan kembali monarki dan mengangkat dirinya sebagai kaisar, bak membunyikan lonceng kematian bagi republik.
Shikai lahir di pedesaan Henan dan menerima pendidikan yang baik, namun setelah gagal dalam ujian kekaisaran dia memilih untuk bergabung dengan tentara nasional Qing.
Pada tahun 1880-an, Shikai dikirim ke Korea untuk melatih pasukan di sana.
Dia kemudian menjadi duta besar Beijing untuk Korea, menasihati para pemimpin lokal dan mencegah kudeta Jepang.
Pada tahun 1895, Shikal dipanggil kembali dan diberi komandi Angkatan Darat Baru yang dimodernisasi di China utara.
Dia mempertahankan loyalitas tentara ini sampai kematiannya, dan kemudian terbukti menjadi alat politik yang berharga.
Pada tahun 1898, Shikai bersekutu dengan Janda Permaisuri Cixi selama Reformasi Seratus Hari, membantu wanita itu untuk menyikut Kaisar Guangxu dari kekuasaan.
Kemudian dia diangkat sebagai gubernur provinsi Shandong pada tahun 1899 dan menolak untuk membantu atau mendukung Pemberontakan Boxer di sana.
Dia lalu mengabaikan instruksi Cixi, menggunakan pasukan Angkatan Darat Baru untuk menekan Boxer daripada mendukung mereka.
Shikai terus mengumpulkan kekuasaan setelah Pemberontakan Boxer, sampai-sampai beberapa orang di istana Qing khawatir dia akan memimpin kudeta militer.
Oleh karena itu, pada tahun 1907 Shikai dicopot dari jabatan politiknya dan dipaksa pensiun, tetapi kematian Cixi pada tahun 1908 berarti bahwa Yuan Shikai belum keluar dari bingkai.
Saat pecahnya Revolusi Xinhai pada Oktober 1911, pandangan politik Yuan Shikai tidak menentu, namun kontrolnya atas Tentara Baru, kekuatan militer China yang paling kuat, membuat dia menjadi tokoh penting, tetapi berakibat dia dirayu oleh Qing dan Republik.
Pada akhir 1911, Shikai memerintahkan pasukannya dalam pertempuran melawan kaum revolusioner republik di Yangxia.
Seminggu kemudian, dia berpindah pihak lagi setelah Sun Yixian menawarinya jabatan resmi dalam pemerintahan republik pasca-Qing.
Kemudian, Shikai dilantik menjadi Presiden pada Februari 1912, melansir alphahistory.
Sebagai presiden pertama Republik China, Shikai menikmati rasa hormat dari kaum konservatif dan kekuatan asing.
Namun, dia tidak memiliki komitmen pribadi terhadap republikanisme atau demokrasi.
Sebagian besar masa kepresidenannya dihabiskan untuk melemahkan Majelis Nasional terpilih.
Tindakan politik Shikai itu ternyata adalah upayanya untuk menghidupkan kembali monarki.
Pada bulan Desember 1915, sebuah majelis boneka yang dibuat oleh Shikai, mengajukan petisi kepadanya untuk memulihkan kekuasaan kekaisaran dan menerima gelar kaisar.
Tentu saja, ini disambut dengan kecaman dan oposisi, baik di dalam China dan dari kekuatan asing, terutama Jepang.
Pada Maret 1916, Shikai membatalkan rencananya tersebut.
Tiga bulan kemudian, dia meninggal.
Ingin mendapatkan informasi lebih lengkap tentang panduan gaya hidup sehat dan kualitas hidup yang lebih baik? Langsung saja berlangganan Majalah Intisari. Tinggal klik di https://www.gridstore.id/brand/detail/27/intisari