Intisari-online.com - Belakangan ini ketegangan terus meningkat, Israel dan Hamas saling membalas serangan.
Baik Israel dan Hamas keduanya saling melemparkan tembakan rudal untuk saling menggempur.
Situasi ini dipandang cukup mengkhawatirkan, dan berpotensi mengarah pada perang skala penuh.
Jika terjadi hal ini akan sangat merugikan rakyat Palestina dan Israel, karena keduanya menjadi koban peperangan.
Sementara itu, belakangan Israel tengah merencanakan serangan penuh untuk menghancurkan Hamas.
Menurut 24h.com.vn, Minggu (16/5/21), rencanya adalah Israel akan menghancurkan terowongan persembunyian Hamas dengan rudal.
Namun, kemudian Israel menarik rencana itu karena Israel sadar mereka tidak berada di terowongan tersebut.
Penarikan rencana Israel tersebut dianggap sebagai tipuan yang dilakukan Israel untuk mengelabui Hamas, lalu tentara Israel meminta maaf.
Seorang juru bicara militer Israel meminta maaf atas klaim palsu bahwa Israel akan memulai jalur operasi darat di Jalur Gaza.
Namun, media internasional mengatakan bahwa itu bukanlah kesalahan, permohonan maaf Isrel ternyata juga merupakan bagian dari akal bulus Israel.
Israel melakukan permohonan maaf supya mendorong angkatan bersenjata Islam Hamas masuk ke terowongan, dan kemudian akan menghancurkan mereka.
Menurut surat kabar Haaretz (Israel), wartawan asing yang bekerja di Israel dan editor senior media internasional marah dengan informasi di media Israel.
Bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sengaja menyesatkan mereka.
Beberapa wartawan mengatakan kepada surat kabar Haaretz bahwa insiden ini akan menyebabkan media kehilangan kepercayaan terhadap pernyataan IDF di masa mendatang.
Namun, itu bukan satu-satunya alasan ketegangan antara Israel dan media internasional.
Pada sore hari tanggal 15 Mei (waktu setempat), IDF menghantam gedung tinggi di Jalur Gaza yang menjadi kantor beberapa media internasional.
Termasuk di dalamnya ada kantor berita AP dan saluran Al Jazeera.
Menurut Times of Israel, militer Israel sebelumnya telah menginformasikan kepada penghuni gedung bahwa gedung tersebut akan dibom dalam waktu satu jam.
Mereka juga meluncurkan roket yang "merobohkan atap" tetapi tidak menimbulkan kerusakan serius sebagai peringatan.
Orang-orang di gedung itu bisa dievakuasi.
IDF yakin gedung itu dibom karena digunakan oleh satuan intelijen pasukan Hamas.
Militer Israel mengatakan Hamas menggunakan media sipil sebagai "perisai manusia".
Kedua peristiwa tersebut di atas diperkirakan akan merusak posisi Israel dalam hal liputan internasional atas konflik yang sedang terjadi di saat Israel sedang berusaha meredam gelombang kritik terhadap aksi-aksi militernya di Jalur Gaza.
Sebelumnya, tak lama setelah tengah malam pada 14 Mei, IDF secara singkat memberi tahu media asing bahwa pasukan darat telah memasuki Jalur Gaza.
Bahkan unit juru bicara militer mengulangi informasi di atas dalam percakapan dan pesan dengan wartawan ketika ingin dikonfirmasi kembali.
Saat itu, kantor berita terkemuka dunia memiliki sederet berita utama tentang pendaratan Israel.
Tetapi hanya dua jam setelah konferensi pers awal, IDF mengoreksi perwakilan media asing bahwa tidak ada pasukan yang memasuki Jalur Gaza.
Semua outlet media diharuskan untuk menarik laporan berdasarkan pernyataan resmi IDF dan konfirmasi oleh pejabat Israel.