Find Us On Social Media :

Ribuan Orang Terinfeksi dan 37 Orang Meninggal Dunia, DBD Ternyata Punya Gejala Baru, Sudah Tak Ada lagi Bintik Merah di Kulit

By Khaerunisa, Kamis, 12 Maret 2020 | 14:11 WIB

(ilustrasi) nyamuk demam berdarah atau dbd

Intisari-Online.com - Kini penyebaran virus corona yang terus meluas banyak menjadi perhatian masyarakat, tak jarang menimbulkan kekhawatiran.

Namun, di sisi lain bukan hanya virus corona saja yang perlu untuk diwaspadai.

Mengutip Kompas.com, Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat sebanyak 37 penderita demam berdarah dengue (DBD) meninggal hingga Rabu (11/3/2020) malam.

Sementara jumlah penderita penyakit ini di NTT mencapai 3.109 jiwa dengan tingkat kematian sebesar 1.19 persen, kata kepala bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan NTT Erlina R Salmun.

Baca Juga: Virus Corona Menyebar di Indonesia Jelang UN 2020, Sekolah Boleh Gunakan Dana BOS untuk Beli Hand Sanitizer, Begini Protokol Selengkapnya dari Kemendikbud

Penyakit DBD sendiri termasuk salah satu penyakit mematikan yang harus diwaspadai.

Salah satu cara menghadapi ancaman penyakit ini yaitu dilakukan dengan orangtua lebih teliti memeriksa kesehatan anak.

Demam Berdarah Dengue (DBD) yang marak saat ini memiliki gejala baru, yakni tidak lagi ditandai bintik atau bercak merah pada kulit.

Kondisi ini jangan membuat orangtua lengah terhadap penularan penyakit mematikan. DBD Memiliki gejala baru.

Baca Juga: Virus Corona Menyebar di Indonesia Jelang UN 2020, Sekolah Boleh Gunakan Dana BOS untuk Beli Hand Sanitizer, Begini Protokol Selengkapnya dari Kemendikbud

Menurut dr Hittoh Fattory SpA, dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Balikpapan, saat ini gejala khas untuk demam berdarah tidak seperti dulu, tidak ada lagi bintik merah di kulit dan sebagainya.

"Itu tidak terlalu terlihat, dan tidak mesti keluar seperti itu," ungkap , dr Hittoh kepada Tribun Kaltim, Rabu (6/1/2015).

Jadi, kata dokter Kittoh menegaskan, gejala khas DBD tidak seperti dulu lagi, yang ditandai timbul bercak-bercak merah di tubuh, atau terjadi pendarahan kulit, atau biasanya pasien mengalami mimisan ditandai keluar darah dari lubang hidung.

"Sekarang tidak semua pasien mengalami gejala seperti itu. Jadi kalau demam panas harus sudah dicek dengan laboratorium, karena gejala demam berdarah salah satunya panas tinggi hingga 40 derajat, harus dilakukan observasi di rumah sakit," kata Hittoh.

Baca Juga: Raja Belanda Kembalikan Keris Naga Siluman dan Bondoyuda Milik Pangeran Diponegoro, Begini Cerita Trah Pangeran Diponegoro Mengenai Asal Usul Keris Tersebut

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Pemkot Balikpapan Sri Soetantinah mengatakan hal serupa.

antin sapaan Sri Soetantinah, menyebutkan, saat ini gejala demam berdarah tidak seperti dulu, selalu ditandai bintik-bintik merah keluar.

"Indikasinya sudah berubah, intinya semua harus waspada. Termasuk dalam kata siaga. Memang sudah siaga, namun untuk kategori kasus luar biasa ( KLB) belum," kata Tantin.

Ada prosedurnya jika wabah dicanangkan KLB, satu di antaranya ada peningkatan kasus dua kali lipat dalam kurun waktu tertentu. Ada kurun waktu tertentu.

Baca Juga: Ada Titik Kritis Sebelum Virus Coroba Membunuh Korbannya, Ini Orang-orang yang Biasanya Tak Mampu Melaluinya dan Harus Berakhir dengan Kematian

Menurut Dokter Hittoh, anak penderita DBD pasti mengalami gejala demam.

Namun tidak hanya demam, ada beberapa gejala lain yang harus diperhatikan.

Dan untuk memastikan apakah anak terjangkit DBD, sebaiknya dilakukan tes darah.

Menurutnya ada beberapa fase yang harus diperhatikan, yaitu fase saat pasien kritis.

 

Baca Juga: Video Nenek Viral di Ulang Tahun ke 94, Dirayakan dengan Pesta dan Didatangi Banyak Orang, 'Doa' yang Dilontarkannya Justri Tak Terduga Seperti Ini

Biasanya, fase kritis ini pasien yang awalnya demam, akan turun secara perlahan.

Saat panas turun, biasanya pasien justru tambah lemas. Pada fase ini, pasien mengalami panas selama tiga hari, dan pada hari ke tujuh fase penyembuhan.

"Fase kritis itu biasanya suhu tubuh mulai turun, ini harus lebih waspada saat panas turun, khususnya pada anak-anak yang demamnya turun, namun anaknya tambah lemas, tidak mau makan dan minum.

"Berbeda dengan anak sehat jika panas turun, mereka (anak) kembali bermain dan berlari-lari," ujarnya.

Hittoh melanjutkan, jika observasi di rumah sakit menunjukkan kesehatan cukup bagus, pasien hanya di rawat jalan.

"Kalau indikasi rawat inap biasanya panas kurang dari tujuh hari, ada didapatkan gejala yang harus diwaspadai, di antaranya adanya panas yang disertai muntah terus-menerus, nyeri perut, dan adanya penumpukan cairan di paru dan perut, didapatkan adanya peningkatan hematocrit (penurunan pada trambosit)," ujarnya.

Hematokrit (Hct) adalah persentase sel darah merah terhadap volume darah total.

Baca Juga: Bau Amis Tercium, di Kota Ini Orang-orang Panik Mendadak Banjir Darah Menyapu Jalanan, Setelah Ditelusuri Ternyata Dari Sinilah Asal Genangan Darah Tersebut

Nilai normal Hematokrit untuk pria 40% - 50% atau 0,4 - 0,5 sedangkan perempuan 35% - 45% (0,35 sampai 0,45).

Masih menurut penjelasan dr Hittoh, indikasi penurunan trambosit di bawah 100 ribu.

Jika trombosit berada di bawah level 100 ribu, observasi harus dilakukan rumah sakit, sedangkan trombosit di atas 100 ribu, diperbolehkan rawat jalan, dengan syarat tanpa ada gejala.

Seperti pasien dapat minum air putih dengan baik, dan aktivitasnya seperti biasa.

(Saeful Imam)

Baca Juga: Bau Amis Tercium, di Kota Ini Orang-orang Panik Mendadak Banjir Darah Menyapu Jalanan, Setelah Ditelusuri Ternyata Dari Sinilah Asal Genangan Darah Tersebut