Advertorial
Intisari-online.com -Pengungsi muslim Rohingya dan Somalia sebagian besar menetap di Indonesia, Bangladesh dan Thailand.
Di Indonesia, mereka menetap di Hotel Pelangi, Medan, Sumatra Utara.
Awal Maret lalu, mereka didatangi perwakilan International Organisation for Migration (IOM).
Perwakilan tersebut sebutkan jika ada virus mematikan mengancam hidup semua orang, saat ini sudah lumpuhkan China, Iran dan Italia.
Cuci tangan dengan sabun sangat penting, lebih-lebih social distancing.
Namun hal tersebut malah membuat para pengungsikebingungan.
Mereka yang datang ke Indonesia 9 tahun yang lalu untuk melarikan diri dari genosida di negara mereka sendiri kebingungan dengan konsep pandemi baru ini.
Pasalnya, hidup mereka tidak memungkinkan untuk hidup sesuai standar panduan yang diberikan perwakilan IOM tersebut.
Baca Juga: China Murka, Taiwan Tawarkan Bantuan Masker dan Medis ke Negara Lain di Tengah Corona, Alasannya?
Mereka tidak memiliki sabun, masker atau hand sanitizer.
Mereka juga tidur dengan satu kamar berisikan 3 atau empat orang berjejal-jejalan.
Tentu, hal tersebut membuat himbauan social distancing bagi mereka sulit dilakukan.
Seorang pelarian dari Somalia mengatakan kepada South China Morning Post, "IOM memberi panduan kepada kami untuk tidak tinggalkan tempat tinggal kami. Namun, kami harus keluar untuk membeli makanan, jika tidak, kami makan apa?"
Hamda saat ini khawatir terhadap kondisi kesehatan ibunya, yang sakit kejang karena telah dipukuli oleh grup teroris al-Shahab di Somalia.
"Aku sangat khawatir karena dia memiliki kondisi kesehatan tidak prima," ujarnya.
"Kami bahkan tidak terlindungi. Tolong berikan kami sabun, maka kami bisa melindungi diri sendiri."
Himbauan IOM tersebut justru membuat mereka stress dan akhirnya mereka meminum pil tidur dan pengobatan untuk mengurangi keresahan mereka.
Fahed Muhammad Abdullah, yang lari dari Somalia tahun 2013, menyebutkan "kami senantiasa mencurigai satu sama lain memiliki virus itu."
"Kami tidak tahu kapan kami akan tertular Covid-19, tapi kami tahu pasti jika kami tertular, kami tidak akan memiliki kesempatan untuk dirawat di rumah sakit.
"Kami hanyalah pelarian."
Fahed kini cemas akan kondisi dua anaknya yang sama-sama mengidap asma.
Ia khawatir keduanya semakin rentan terserang Covid-19.
'Biarkan Virus Corona Datang'
Proses menerima bantuan medis tergolong sulit bagi para pengungsi ini.
Jika salah satu dari mereka tidak sehat, mereka harus pergi ke klinik yang telah dirujuk terdekat.
Jika kasus penyakit mereka dianggap darurat, mereka dikirim ke rumah sakit lokal dan biaya ditanggung oleh IOM.
Namun hal tersebut adalah saat kondisinya masih normal.
Saat ini, hanya ada 11 kamar isolasi Covid-19 di kota Medan yang berpopulasi lebih dari 2 juta jiwa.
Namun Andreas Harsono, peneliti di Human Rights Watch Indonesia menyebut kekurangan sumber tenaga tidak menjadi alasan mendiskriminasi terkait grup tertentu.
Sementara Mariam Khokhar, ketua IOM Medan, mengatakan: "tentu mereka punya akses untuk sabun dan air bersih. Tambahan lagi, mereka selalu kami beri kabar terbaru terkait hal ini. Tempat tinggal mereka juga selalu kami bersihkan dengan disinfektan selama satu kali seminggu."
Sebenarnya, Indonesia bukan tempat tujuan utama menurut Konvensi PBB tahun 1951 atau Protokolnya tahun 1967.
Oleh sebab itu, di Indonesia tidak ada hukum yang mengatur kewenangan pemerintah untuk mengatasi masalah para pelarian seperti ini.
Para pengungsipun menghadapi dilema dengan menghabiskan puluha tahun hidup di kondisi limbo, tidak bisa bekerja secara legal maupun kembali ke negara mereka masing-masing.
Situasi ini ciptakan stress psikologis akut pada para pelarian yang tinggal di Indonesia.
Padahal, di tahun 2017, ada kurang lebih 13 ribu pelarian dari 49 negara berbeda-beda.
Stress mereka sekarang bertambah dengan ancaman Covid-19, walaupun virus tersebut membuat sebagian mengikhlaskan takdir mereka.
Seperti contohnya seorang pelarian dari Rohingya, Muhammad Ismail, ia mengatakan menunggu sakit lebih parah daripada saat benar-benar terinfeksi.
"Biarkan virus Corona datang. Lebih baik begitu daripada tinggal di sini sampai entah kapan."
Demikian pula dengan parapengungsi lain di Hotel Pelangi, mereka sekarang takut jika tujuan akhir mereka mungkin kematian sebelum waktunya dari Covid-19, bukan pemukiman kembali yang telah mereka harapkan bertahun-tahun.
"Jika kami terkena virus Corona setidaknya ini akan berakhir," ujar Muhammad Ismail.
"Seperti ini terus rasanya seperti genosida yang diperlambat."
Sementara itu di Thailand dan Bangladesh, kurangnya akses ke pengobatan medis telah membuat pelarian rentan terhadap wabah Covid-19.
Petugas kesehatan diperingakan akhir bulan lalu saat ada laporan virus Corona pertama di Distrik Cox's Bazar, Bangladesh, yang berdekatan dengan tempat tinggal para pelarian dari Rohingya.
Ingin mendapatkan informasi lebih lengkap tentang panduan gaya hidup sehat dan kualitas hidup yang lebih baik?Langsung saja berlangganan Majalah Intisari. Tinggal klik di sini