Benarkah Api Abadi Mrapen Muncul dari Tongkat Sunan Kalijaga yang Tertancap? Inilah Riwayat Wali Songo dari Tuban

Moh. Habib Asyhad
Moh. Habib Asyhad

Editor

Kemunculan api abadi Mrapen dikaitkan dengan linuwih yang dimiliki oleh Sunan Kalijaga, wali songo yang hidup antara fakta dan mitos (Kompas.com)
Kemunculan api abadi Mrapen dikaitkan dengan linuwih yang dimiliki oleh Sunan Kalijaga, wali songo yang hidup antara fakta dan mitos (Kompas.com)

Dari masa asal-usul api abadi Mrapen? Benarkah dari tongkat Sunan Kalijaga yang tertancap? Inilah sekilas tentang wali songo asal Tuban yang keberadaannya antara fakta dan mitos ini.

---

Intisari hadir di WhatsApp Channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Ada beberapa kisah gaib yang mengiringi jalan hidup Sunan Kalijogo atau Sunan Kalijaga. Salah satunya adalah api abadi Mrapen yang konon muncul setelah tongkat sang Wali Songo kelahiran Tuban tertancap di tahah.

Setidaknya ada enam api abadi di Indonesia, masing-masing di Pulau Jawa dan Pulau Kalimantan. Salah satunya adalah api abadi Mrapen yang berada di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, Kabupaten Grobokan, Jawa Tengah.

Baca Juga: Maulana Malik Ibrahim Sang Wali Songo Pertama di Tanah Jawa, Sebuah Tinjauan Kritis

Menurut legenda yang beredar, api abadi Mrapen punya hubungan "erat" dengan Sunan Kalijogo. Alkisah, ketikaSunan Kalijaga sedang mencari sumber air untuk prajuritnya, dia menancapkan tongkatnya ke tanah.

Tak lama kemdian lubang bekas tongkat Sunan Kalijaga menyemburkan api yang diyakini masyarakata sebagai titik awal munculnya sumber Api Abadi di Mrapen. Sunan Kalijaga kemudian menancapkan kembali tongkatnya di tempat lain. Di lokasi kedua tersebut mundul semburan air yang bersih dan bening.

Semburan air yang tak jauh dari titik api tersebut kemudian dimanfaatkan rombongan prajurit Sunan Kalijaga untuk minum. Saat ini, titik yang berdiameter tiga meter dengan kedalaman sekitar 2 meter itu diberi nama Sendang Dudo.

Riwayat api abadi Mrapen berlangsung begitu lama. Ia sering dijadikansumber nyala api obor beberapa agenda nasional dan internasional. Dimulai pada tahun 1963, ketika api biru di Mrapen digunakan untuk nyapa api obor pesta olahraga Ganefo pada 1 November 1963.

Ketika itu sekitar2.700 atlet dari 51 negara di Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika Latin yang datang dan ikut bertanding.

Api Abadi Mrapen juga digunakan untuk nyala obor Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII pada 23 Agustus 1966 lalu. Selain itu, selama bertahun-tahun Api Abadi Mrapen juga digunakan untuk menyalakan obor saat upacara Hari Waisak bagi umat Budha di Jawa Tengah.

Dari catatan pengelola Api Abadi Mrapen, api biru di Desa Manggarmas tersebut juga pernah mengecil pada tahun 1966 lalu. Namun api abadi tersebut bisa terselamatkan setelah petugas menemukan sumber gas baru dengan kandungan yang lebih melimpah.

Sumber gas baru tersebut berjarak sekitar 75 sentimeter dari sumber gas lama. Menurut pengelola Api Abadi Mrapen, David Diyanto petugas kemudian mengalirkan gas di sumber baru ke sumber gas lama mengguna pipa. Api abadi yang sempat mengecil kembali menyala sempurna hingga akhirnya padam pada September 2020 lalu.

"Jadi awalnya hanya retakan tanah, kemudian direka sedemikian rupa dengan pipa dan sebagainya. Api Abadi Mrapen tercatat tak pernah padam dan terus menyala, hanya saat dirombak, kami matikan untuk keselamatan pekerja," ucap David.

Dari hasil penelitian sementara, penyebab padamnya api diduga karena berkurangnya pasokan gas metana (CH4) yang menjadi bahan bakar api abadi tersebut. "Apakah retakannya tertutup karena deformasi, apakah pasokan gas habis, dan apakah migrasi gas ke tempat lain karena eksploitasi pembuatan sumur di sekitar? Jadi butuh waktu untuk melakukan kajian," kata Kepala Seksi Energi Cabang Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jateng Wilayah Kendeng Selatan, Sinung Sugeng Arianto.

Sementara itu Handoko Teguh Wibowo, ahli geologi yang digandeng ESDM Provinsi Jateng untuk observasi dan mitigasi mengatakan ada beberapa faktor penyebab padamnya Api Abadi Mrapen. Di antaranya kantong gas alam yang mensuplai api abadi telah habis dan tertutupnya jalan keluar gas alam berupa retakan tanah karena deformasi.

Dugaan terakhir penyebab matinya Api Abadi Mrapen antara laian efek pengeboran sumur yang berjarak sekitar 150 meter dari Api Abadi Mrapen. Sebagai catatan, pengeboran untuk mencari sumber air yang digagas toko waralaba pada 12 September tersebut justru memicu semburan air bercampur gas setinggi 25 meter.

Pengeboran sedalam 30 meter tersebut pun akhirnya dihentikan. "Bisa diindikasikan dari ketiga penyebab di atas, poin ketiga lah yang paling mendekatisebagai penyebabnya," ujar Handoko saat dihubungi Kompas.com pada Senin (5/10/2020).

Dia menjelaskan gas alam (metana) sumber api di tungku Mrapen mengalami penyusutan suplai karena bermigrasi dan keluar di lubang bor yang berwujud semburan air bercampur gas metana. Menurutnya, secara geologi di sekitar Api Abadi Mrapen bersemayam kantong-kantong gas di kedalaman dangkal yang kurang dari 50 meter.

Jadi jangan heran jikasumur bor air penduduk banyak yang mengeluarkan gas.

Menurutnya, jika banyak sumur bor yang mengeluarkan gas maka secara otomatis akan mempengaruhi umur nyala api abadi karena pengurasan gas akan lebih luas, "Semakin banyak sumur di sekitar yang keluar gas akan mempengaruhi nyala Api Abadi Mrapen. Berdasarkan info yang saya peroleh di lapangan, ternyata pasca-semburan air bercampur gas dari pengeboran sumur bor milik toko waralaba, banyak kompor penduduk yang suplai gas diperoleh dari sumur bor yang keluar gas, mendadak mati."

Sunan Kalijogo yang hidup dalam mitos dan fakta

Sunan Kalijogo adalah wali songo yang hidup dalam mitos dan fakta. Terlepas dari perannya dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa begitu besar, banyak hal yang mesti dikorek tentang sosok yang di masa mudanya adalah seorang berandal itu.

Ada beragam versi soal silsilah serta mitos lain soal Sunan Kalijaga. Kemunculan mitos itu tidak lepas dari historiografi lokal, seperti hikayat, tambo, babad, dan semacamnya.

Hingga saat ini,kelahiran Sunan Kalijaga belum terbukti dan diketahui dengan pasti. Dikutip dari Sunan Kalijaga dan Mitos Masjid Agung Demak (2021), Sunan Kalijaga diperkirakan lahir sekitar 1430-an. Dia menikah dengan putri Sunan Ampel ketika usianya kepala dua.

Tapi ada teori lain yang menyebut bahwa Sunan Kalijaga lahir sekitar tahun 1450, berdasarkan keturunan dari Tumenggung Wilatikta. Teori lain dihitung berdasarkan usia kematiannya di usia 131 tahun pada 1586, sehingga kelahirannya diperkirakan pada tahun 1455.

Menurut sebuah paper yang tayang di sebuah jurnal, judulnya "Rekonstruksi Historiografi Islamisasi dan Penggalian Nilai-Nilai Ajaran Sunan Kalijaga" (2016), jika dilihat dari eksistensinya, Sunan Kalijaga mengalami empat masa kerajaan di Jawa.

Empat masa itu meliputi masa Majapahit (sekitar 1478 ketika Sunan Kalijaga masih muda dan hidup sebagai anak Bupati Tuban Tumenggung Wilatikta), masa Kesultanan Islam Demak (sekitar 1481-1546, Sunan Kalijaga terlibat dalam pembangunan Masjid Agung Demak dan pemerintahan Raden Patah), masa Kesultanan Pajang (sekitar 1546-1568, menjadi guru Jaka Tingkir), dan masa awal Kerajaan Mataram Islam (sekitar 1580-an, pernah berkunjung ke Yogyakarta).

Tak hanya itu, terkait leluhurnya juga ada beberaepa versi.Versi pertama, Sunan Kalijaga memiliki garis keturunan Arab dari kakeknya Abdul Muthalib yang juga berhubungan dengan Nabi Muhammad SAW.

Dalam Babad Tuban disebutkan bahwa Sunan Kalijogoadalahsebagai keturunan Muhammad ke-24. Ada versi yang disampaikan sejarawan J Drewes, Van den Berg, dan Tujimah, yang berpendapat bahwa leluhur Sunan Kalijaga berasal dari Hadramaut, Arab Selatan. Disebutkan bahwa dia keturunan Qadi Zaka yang berarti hakim atau penghulu suci.

Versi kedua, Sunan Kalijaga disebut berdarah Tiongkok. Dia disebut punya nama asli Oei Sam Ik. Sementara ayahnya, Bupati Tuban Wilotikto dari keturunan Oei Tik Too. Versi ini didukung catatan sejarah klenteng Sam Poo Kong di Semarang yang ditemukan oleh Residen Poortman pada 1928.

Versi ketiga menyatakan bahwa Sunan Kalijaga adalah wali songo yang asli pribumi. Nenek moyangnya adalah raja pertama Majapahit, Raden Wijaya.

Ayahnya Tumenggung Wilatikta merupakan keturunan Bupati Tuban sebelumnya Ario Tejo III. Leluhurnya yakni Ario Tejo I dan II yang masih menganut ajaran Siwa. Peralihan agama terjadi pada masa pemerintahan Ario Tejo III, sebagaimana bukti dan tanda yang ditemukan di makamnya di Tuban.

Selain itu, Sunan Kalijogo juga dikenal sebagai wali songo dengan banyak nama alias. Mulai dariRaden Said, Syaikh Malaya, Lokajaya, Pangeran Tuban, hingga Abdurrahman. Meskipun begitu, asal usul penamaan Kalijaga sendiri masih menjadi perdebatan.

Pendapat pertama menyatakan bahwa Kalijaga diambil dari nama sebuah desa di Cirebon, tepatnya di Kecamatan Harjamukti. Hal itu didukung dengan masih adanya petilasan, masjid, dan banyaknya monyet yang dikatikan dengan mitos Sunan Kalijaga dengan warga setempat. Pendapat kedua, nama Kalijaga diambil dari bahasa Arab yakni Qadhi Joko yang artinya Hakim Joko.

Akibat masyarakat Demak yang belum fasih dengan bahasa Arab, mereka menyebut Qadhi Joko dengan Kalijaga.

Pendapat ketiga, nama Kalijaga bersumber dari sebutan yang dibuat oleh gurunya, Sunan Bonang. Diceritakan bahwa Sunan Bonang menancapkan sebuah kayu di pinggir sungai atau kali. Sunan Kalijaga diperintahkan untuk menjaga kayu atau tongkat itu selama bertahun-tahun, sehingga muncul sebutan "jogo kali" atau menjaga sungai.

Masyarakat Jawa pun mengenal sosok Raden Said dengan nama Kali Jogo yang kemudian disebut Kalijaga. Pandangan soal historiografi lokal Peran wali dalam Islamisasi di Nusantara dan wilayah Asia Tenggara tidak terlalu dicatat dan diungkap pada masa pra kolonialisme.

Begitulah kisah hidup Sunan Kalijogo, wali songo yang kehidupannya banyak diliputi mitos dan legenda. Termasuk soal api abadi Mrapen yang konon muncul karena tongkatnya tertancap di tanah.

Baca Juga: Inilah Masjid Tertua di Indonesia, Hebatnya Tak Punya Hubungan dengan Kerajaan Islam Besar atau Wali Songo

Artikel Terkait