Advertorial

Nyaris Segala Aspek Kehidupannya Dikuasai Wanita, Penduduk Pulau Ini Jadi Masyarakat Matriarkal Terakhir di Dunia

Ade Sulaeman

Editor

Intisari-Online.com – Pulau Kihnu adalah sebuah pulau milik negara Estonia.

Pulau yang terletak di Laut Baltik itu didominasi oleh kaum wanita.

Hal ini karena pulau yang berjarak 11,2 km dari teluk di bagian barat negara, itu langka dengan kaum pria.

(Baca juga: 7 Kota Besar Tiba-tiba Berubah Menjadi 'Kota Hantu' Gara-gara Ditinggalkan Penduduknya, Simak Alasannya!)

Tempat aneh dari pedusunan yang tenang ini hanya dihuni oleh 400 penduduk dan kebanyakan wanita.

Itu sebabnya Pulau Kihnu menjadi masyarakat matriarkal terakhir di dunia.

Wanita yang berkuasa di Pulau Kihnu.
Keadaan itu bukan karena wanita di Kihnu menentang adanya pria.

Itu hanya mereka tidak punya pilihan, tetapi mereka memegang kendali sosial dan administratif.

Pasalnya, kaum prianya pergi berbulan-bulan jauh dari pulau sebagai komunitas kecil nelayan.

Hal ini menjadikan kaum wanita bertanggung jawab untuk menjalankan segala sesuatu.

Mereka telah melakukannya selama berabad-abad, membesarkan anak-anak, bekerja di ladang dan mengambil alih urusan pemerintahan.

(Baca juga: Duh, WHO ‘Meramal’ Setengah Penduduk Bumi Akan Alami Rabun Jauh pada 2050)

Pemimpin komunitas di pulau ini adalah wanita bernama Mare Matas.

Ia juga menjabat sebagai presiden Kihnu Cultural Space Foundation.

“Kaum pria selalu pergi jauh dari pulau sejak lama. Dan itulah alasan sejarahnya mengapa kaum wanita menjadi sangat tangguh dan sangat mandiri,” jelas Mare Matas.

Satu hal istimewa dari kaum wanita ini adalah berhasil menjaga tradisi dan warisan budaya Kihnu.

Menurut Mare Matas, kebudayaan Kihnu menarik karena mereka masih memakai pakaian tradisional mereka setiap hari.

Mereka memiliki lagu rakyat kuno yang masih hidup dan tariannya juga.

Lagu pernikahan Kihnu dan pernikahan tradisional itu telah berusia lebih dari 2.000 tahun.

Namun ini adalah sebuah pekerjaan berat menjaga sebuah warisan ketika kaum mudanya pergi meninggalkan pulau.

(Baca juga: Supervolcano Yellowstone akan Meletus Kembali, Efeknya Bisa Hancurkan Kehidupan Penduduk Bumi)

Kaum mudanya pergi untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi atau mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dan seringkali tidak kembali.

Pulau Kihnu terkenal dengan turis Eropa di musim panas.

Namun, di sana tidak ada yang menarik untuk menahan kaum mudanya meninggalkan komunitas.

“Aku merasa prihatin setiap hari bahwa budaya kami yang unik bisa hilang. Ini sangat berhrga jika segala sesuatunya tetap eksis dan bertahan di dunia yang modern. Ini benar-benar sebuah keajaiban,” kata Mare Matas.

Hal baiknya adalah bahwa pemerintah tidak tinggal diam.

Kebudayaan Kihnu, khususnya tradisi pernikahan, dicatat sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity dari UNESCO.

Selain itu, Museum Kihnu telah direnovasi dan menjaga sejarah lokal, penghargaan warga terkemuka, dan menghidupkan adat dan kebiasaan pulau.

Secara keseluruhan dari keunikan dan keindahan itu, Pulau Kihnu memiliki tantangan dan tinggal di sana bukan untuk mereka yang berhati lemah.

Menurut Mare Matas, gaya hidup di Kihnu berbeda dibandingkan dengan di dataran utama negara dan bertahan hidup di sana juga sulit.

Warga di pulau itu tidak punya cara lain dan percaya bahwa mereka tinggal di tempat terbaik di dunia.

Artikel Terkait