Ajaklah Si Kecil Berolahraga

K. Tatik Wardayati

Editor

Ajaklah Si Kecil Berolahraga
Ajaklah Si Kecil Berolahraga

Intisari-Online.com – “Ajarlah anak-anak berolahraga sedini mungkin.” Itu nasihat dr. Sadoso Sumosardjuno, Sp.K.O. Olahraga bukan semata-mata mendongkrak kesegaran jasmani, tetapi yang lebih penting untuk pengembangan kemampuan koordinasi tubuh anak secara optimal.

Bahwa olahraga atau aktivitas fisik sebaiknya dilakukan sejak usia muda banyak orangtua sepakat. Tetapi jika lantas para orangtua harus memilih jenis olahraga dan mengapa gerakan-gerakan itu perlu dilakukan oleh anak-anak mereka, pasti banyak memunculkan silang pendapat. Yang pasti, setiap anak pada dasarnya suka berolah fisik. Entah itu berlompat-lompatan atau berlari-larian. Akan tetetapi, bisa saja terjadi ketika seorang anak diajak bermain bola di luar oleh temannya, ia menolak dengan alasan akan mengerjakan sesuatu. Ada dua kemungkinan mengapa anak tersebut menolak. Mungkin ia memang tidak suka main bola. Atau bisa jadi ia berminat, tetapi malu lantaran tidak terampil melempar dan menangkap bola. Contoh lain adalah seorang anak yang mulai berlatih tenis. Mula-mula ia sangat bersemangat, tetapi entah kenapa ia tiba-tiba mogok tanpa alasan yang jelas. Persoalannya, barangkali bukna pada kemampuannya dalam memukul bola, tetapi ketika ia harus berlari mengelilingi lapangan. Ia kehabisan napas karena memang tidak pernah dilatih lari.

Kejadian-kejadian di atas sering dijumpai. Tak ada yang salah dalam diri anak-anak itu. Mereka tetap individu normal dan pasti bersemangat untuk mengikuti latihan-latihan olahraga. Cuma memang ada hambatan dalam berolahraga lantaran tidak pernah mengenyam latihan.

Namun, para orangtua menyerah dengan situasi ini dan baru mengajak berlatih sesudah anak menginjak remaja, yang sebetulnya sudah terlambat. Soalnya, beberapa fungsi fisik perlu dilatih sejak usia muda. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika banyak pemuda, pria maupun wanita, kurang baik kebugarannya. Ini akibat minimnya pengetahuan tentang manfaat olahraga bagi kesehatan dan kebugaran.

Misalnya, soal pandangan bahwa keterampilan fisik akan datang dengan sendirinya, oleh karena itu tidak berlu dilatih. Ini adalha pernyataan yang tidak benar. Memang sudah kodrat, manusia dapat melakukan berbagai gerakan, tetapi itu tidak cukup. Gerakan ini masih perlu dilatih dan diperbaiki. Tanpa latihan, gerakan tak akan sempurna. Orangtua juga sering berpendapat karena anak-anak akan mendapat latihan olahraga di sekolah, maka tidak perlu dibimbing sebelumnya. Ini juga pernyataan yang tidak benar.

Dalam soal bermain bola, sebagian orangtua juga berpendapat, kalau putranya tidak perlu bermain bola, toh nantinya akan dapat bermain dengan sendirinya. Pendapat ini juga tidak benar.

Sejak lahir

Kesimpulannya, anak-anak tidak bisa dibiarkan berlatih atau berolahraga sendiri. Ia perlu dibimbing sejak dini. Ketika dilahirkan ia mempunyai kaki, namun untuk dapat berjalan membutuhkan proses belajar. Mulai dari merangkak, ditatih, sampai dapat berjalan. Demikian pula halnya dengan kemampuan lari, melompat, melempar dan menangkap, semuanya membutuhkan latihan. Jika kemampuan ini tidak dilatih sejak dini, maka koordinasi tubuh tidak dapat berkembang dengan baik.

Latihan ini bisa dimulai sejak anak dilahirkan. Pada dua tahun pertama misalnya, anak mulai membentuk rasa percaya diri dan rasa ingin tahu. Berilah ia penghargaan dengan memberi semangat pada gerakan-gerakannya. Perkenalkan dengan lingkungan sekitar yang bervariasi dan jauhkan dari barang-barang yang membahayakan.

Ketika menginjak usia 2 – 5 tahun anak sudah bisa berbicara dan relatif banyak bergerak. Ia pun siap mempelajari berbagai aktivitas fisik. Keterampilan melempar, menendang, dan melompat mulai bisa diperkenalkan.

Sementara anak-anak yang berumur 5 – 8 tahun, biasanya melakukan latihan olahraga atau aktivitas fisik dengan sendirinya. Mereka tidak mempersoalkan menang atau kalah. Pada umur ini latihan-latihan olahraga lebih dititikberatkan pada kesenangan, bermain beramai-ramai dengan teman-teman, dan menghabiskan tenaga. Sasaran utamanya untuk meningkatkan kebugaran. Oleh karena itu sebaiknya disediakan cukup waktu dan ruangan agar anak bisa seaktif mungkin bergerak dan mendapatkan peningkatan keterampilan.

Pada tingkat usia yang lebih tinggi, 8 – 10 tahun, anak-anak sudah siap bermain dalam sebuah tim olahraga. Mereka sudah dapat diikat dalam aturan-aturan permainan. Peran orangtua pada tahap ini adalah membantu anak agar dia menyenangi berbagai macam aktivitas dengan temannya. Baik olahraga beregu seperti sofbol, sepakbola, bola voli, atau olahraga individu seperti senam aerobik, bela diri, atau berenang.

Memasuki usia remaja, umur 10 – 14 tahun, ia pantas mendapat bimbingan yang benar. Umur-umur ini adalah waktunya untuk dapat menjadi pemenang, juara, bila anak mendapat latihan-latihan yang tepat.

Evaluasi kemampuan

Guna mengetahui kemampuan anak berolahraga, ada banyak cara evaluasi terhadap kemampuan anak. Di antaranya adalah lari 45,7 m untuk mengetes kecepatan lari, lari bolak-balik untuk tes kelincahan lari, lompat vertikal untuk mengetes kekuatan yang eksplosif, dan lari 1,6 km, untuk tes kapasitas aerobik.

  • Tes lari 45,7 m

    Sebelum melakukan pengukuran, lintasan lari ditentukan terlebih dulu. Sebaiknya lintasan dipilih yang datar dan lurus sepanjang 45,7 m. Berilah tanda pada garis start dan finish. Jangan lupa siapkan stopwatch yang dapat mencatat waktu sampai sepersepuluh detik.

    Pelari yang akan dites berdiri di belakang garis start. Sedang pencatat waktu (guru atau orangtua anak) berdiri pada garis finish dengan membawa stopwatch. Pencatat waktu mengangkat tangan dan berteriak, “Siaap!” kemudian berteriak, “Ya!” atau “Go!” sambil menurunkan tangannya, dan mulai menjalankan stopwatch.

    Umur

    Putri

    Putra

    9 -1 0

    7,5

    7,5

    11

    7,5

    7,2

    12

    7,2

    7,0

    13

    7,0

    6,7

    14

    7,0

    6,4

    15

    7,0

    6,4

    16

    7,1

    6,2

    17

    7,0

    6,0

  • Tes lari bolak-balik

    Siapkan dua potong kayu, dengan ukuran kurang lebih 5 x 5 x 10 cm dan stopwatch. Berikan tanda di tanah dua garis sejajar yang berjarak 9,14 m. Kemudian tempatkan kedua potong kayu tadi di belakang garis kedua. Anak yang mau dites mulai start di belakang garis pertama.

    Tes dimulai saat pencatat waktu mengangkat lengannya, dan berteriak “Siap!”. Kemudian pencatat berteriak “Ya!” atau “Go!” sambil menurunkan lengannya dan memencet stopwatch. Sementara anak yang dites, lari dari belakang garis start menuju ke kayu yang berada di belakang garis kedua. Ia mengambil salah satu kayu, kemudian lari kembali ke garis start tadi, dan menempatkan kayu tadi di belakang garis. Ingat, kayu harus diletakkan, tidak dilemparkan ke tanah.

    Kemudian anak lari kembali ke garis kedua, mengambil kayu yang lain, dan membawanya lagi ke belakang garis start. Pada waktu anak tadi telah melampaui garis start dengan kayu yang kedua, pencatat waktu menghentikan stopwatch-nya. Waktu yang digunakan untuk lari tadi dihitung sampai ketepatan sepersepuluh detik.

    Anak kemudian diberi kesempatan lagi untuk melakukan tes tadi. Hasil yang lebih baik yang digunakan untuk menentukan waktu dalam tes bolak-balik ini.

    Diharapkan waktu yang dicapai seperti tersebut di bawah ini.

    Umur

    Putri

    Putra

    9 -1 0

    10,5

    10,2

    11

    10,3

    9,9

    12

    10,2

    9,8

    13

    10,0

    9,5

    14

    10,0

    9,2

    15

    10,0

    9,1

    16

    10,2

    8,9

    17

    10,0

    8,9

  • Tes lompat ke atas

    Diperlukan dinding agak tinggi, yang permukaannya rata sehingga mudah digores, sepotong kapur tulis, dan ukuran. Anak yang akan dites berdiri dengan sisi kanan berdekatan dengan dinding. Kedua tumit saling berdekatan dan terletak datar di lantai. Tangan kanan memegang kapur tulis.

    Dengan kedua tumit bersama-sama berada di lantai, ia diminta meraih ke atas setinggi mungkin, dan membuat tanda/coretan pada dinding dengan kapur tadi. Akhirnya, ia harus melompat ke atas setinggi mungkin, dan membuat tanda/coretan di dinding pada puncak lompatannya yang tertinggi. Kemudian pencatatnya mengukur jarak antara tanda yang dapat diraih dan tanda dari coretan lompatannya. Itu adalah nilai dari anak tersebut.

    Anak dianjurkan melompat empat atau lima kali agar terbiasa melakukan lompatan. Hasil yang paling baik dicatat sebagai hasil kemampuan loncatannya. Sebagai catatan, anak tidak boleh melompat dobel. Ia juga harus berusaha agar kedua kakinya tetap di tempat sebelum melompat, tetapi tentu saja boleh membengkokkan kedua lutut sebelum melompat. Harus juga dianjurkan agar anak memegang kapur tulisnya pada tempat yang sama dengan tangannya pada waktu dia melompat dan pada waktu dia meraih. Dengan demikian akurasi dari tes ini lebih baik.

    Skor pada anak laki-laki dan perempuan adalah sebagai berikut (dalam cm).

    Umur

    9 - 11

    12 - 14

    15 - 17

    Perempuan

    37,5

    37,5

    40

    Laki-laki

    37,5

    45

    60

  • Tes lari 1,6 km

    Skor dari tes ini, dalam menit dan detik, adalah sebagai berikut.

    Umur

    Putri

    Putra

    10

    9:09

    8:13

    11

    8:45

    7:25

    12

    8:34

    7:13

    13

    8:27

    6:48

    14

    8:11

    6:27

    15

    8:23

    6:23

    16

    8:28

    6:13

    17

    8:20

    6:08

    18

    8:22

    6:10

Setelah kemampuan berolahraga anak terdeteksi, saatnya Anda sebagai orangtua mengarahkannya. (Kumpulan Artikel Kesehatan Anak)