Intisari-online.com -Baru-baru ini, China memusatkan perhatian mereka kepada Presiden Milo Djukanovic.
Ia adalah presiden negara Montonegro, sebuah negara kecil di Eropa Timur.
Salah satu negara Balkan tersebut mendekati China, rupanya untuk kepentingan tertentu.
Seperti dilaporkan dari South China Morning Post, beberapa hari sebelum pertemuan antara Presiden China Xi Jinping, dengan 17 negara di Eropa Tengah dan Timur awal bulan ini, hampir 90 investor China mendengarkan pidato Djukanovic.
Para investor tersebut berkumpul di ruang pertemuan mewah di hotel Beijing untuk mendengarkan pidatonya.
"Jika tidak ada kemampuan merencanakan, sulit untuk mencapai, dan jika tidak ada kemampuan merencanakan, hal ini akan gagal," ujar Djukanovic mengutip ahli strategi militer China kuno Sun Tzu.
Ia lantas mengatakan jika negaranya dengan 680 ribu warga menyambut masuknya investasi China dalam bidang wisata, energi, dan transportasi.
Lantas ia melanjutkan: "China dan Montonegro seharusnya lebih baik lagi memahami tantangan ekonomi global dan bergabung untuk solusi lebih baik."
Montonegro adalah satu dari negara-negara kecil di Balkan yang berharap mendapatkan investasi dari China untuk memperbaiki ekonomi mereka.
Perekonomian Montonegro runtuh setelah pandemi Covid-19 menyebar juga ke Eropa.
Negara itu tetap mengharapkan China bisa memberikan pinjaman meskipun ada keraguan yang meningkat mengenai apakah Beijing dapat memenuhi janji mereka.
Salah satu proyek yang dibiayai China di bawah perjanjian Belt and Road adalah jalan layang senilai 750 juta.
Proyek itu disalahkan menjadi penyebab utang Montonegro meningkat menjadi 80%.
Namun Djukanovic mengatakan ia berharap hal itu akan "memberi loncatan lebih tinggi untuk pemulihan ekonomi lebih cepat di era setelah pandemi."
"Baik dalam istilah geopolitik dan pasar, kepemimpinan China menganggap Balkan sebagai sesuatu seperti jembatan atau pintu terbuka menuju Eropa.
"Ini adalah produk strategi geografi wilayah tersebut yang menempatkannya dalam posisi antara Eropa dan Eurasia yang lebih luas," ujar Vuk Vuksanovic, peneliti di Pusat Belgrade untuk Kebijakan Keamanan.
"Lebih jauh lagi, beberapa negara seperti Serbia adalah kandidat anggota Uni Eropa yang berguna untuk ambisi China menghubungkan mereka dengan pasar Uni Eropa lebih luas," ujarnya.
"Ikatan politik adalah produk ambisi China dan keinginan oleh negara lokal untuk mencari tahu lebih jauh kesempatan yang ditawarkan China."
Meskipun sebagian dari proyek infrastruktur China adalah berdasarkan pinjaman, apa yang ditawarkan China tampaknya menarik untuk negara-negara Balkan barat yang bukan anggota Uni Eropa.
Mereka ingin untuk dana yang bisa membantu mereka mengejar kemajuan yang sudah terlaksana di sebagian wilayah benua Eropa, ujar Filip Sebok, analis dari lembaga penelitian di Praha, Association for International Affairs.
"Negara-negara Balkan, umumnya, lebih menerima model bisnis China, yang berhasil China terapkan untuk negara berkembang," ujar Sebok.
"Ada lebih sedikit kesulitan aturan dan lingkungan positif yang bersahabat, yang menjadi faktor."
Perubahan ini menjadi bukti gambaran investasi.
Tahun 2010, empat anggota Uni Eropa: Hungaria, Republik Ceko, Polandia dan Slovakia, menerima 78% dari investasi China di 16 negara Eropa Tengah dan Timur, sementara hanya 20% yang masuk ke Balkan.
Namun pada tahun 2019, setahun sebelum Yunani bergabung dengan kelompok "17+1" negara Eropa, investasi di Balkan telah meningkat menjadi 41%, dibandingkan dengan 43% yang pergi ke 4 negara tadi.
China juga telah meningkatkan investasi mereka di Balkan dan berjanji menyuplai vaksin Covid-19 untuk negara-negara Eropa non-Uni Eropa.
Dari 53 perjanjian komersial dan pinjaman yang diumumkan selama pertemuan 17+1 terakhir, 25 perjanjian itu meluncur ke 5 negara: Serbia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro, Albania dan Macedonia Utara.
Namun keraguan masih ada dalam jangka waktu panjang.
"Saat dunia berusaha lepas dari dampak pandemi dan perluasan Uni Eropa tidak berlanjut di wilayah ini, negara-negara lokal khawatir dengan tantangan jangka pendek dan jangka menengah serta perkembangan infrastruktur," ujar Vuksanovic.
"Pertanyaan jangka panjang tetap ada apakah Balkan akan tumbuh lebih jauh dari Uni Eropa, sebagaimana standar China berbeda dari standar Eropa."
Sepuluh tahun setelah dibentuknya inisiatif 17+1, banyak negara Eropa tidak puas dengan hasilnya, menyebut defisit perdagangan yang terus tumbuh dengan China, kegagalan menciptakan lapangan pekerjaan dan lambatnya Beijing membuka pasar mereka ke ekspor pertanian.
"Untuk waktu lama, China dilihat sebagai investor potensial menarik yang membawa hal baru ke ekonomi Eropa Tengah dan Timur," ujar Sebok.
"Namun pada beberapa kasus, hasil yang sebenarnya dari investasi China telah gagal dan jauh dari yang diharapkan.
"Fakta bahwa banyak investasi tidak membawa lapangan pekerjaan juga memperburuk keadaan. Sehingga harapan jika China akan menjadi investor menjanjikan jauh lebih meragukan sekarang."
Tahun ini pemimpin dari 6 negara Uni Eropa: Bulgaria, Romania, Slovenia, Lithuania, Latvia dan Estonia, gagal menghadiri pertemuan 17+1 dengan Xi, mereka malah mengirim perwakilan juniornya.
Xi berjanji China akan mengimpor 170 miliar Dollar AS berupa barang-barang dan mendobelkan pembelian produk pertanian dari wilayah itu selama 5 tahun ke depan, tapi hal itu juga tidak cukup untuk menghapus kekhawatiran.
"Ini bukan tentang kenaikan perdagangan, tapi mengenai separuh jalan pertemuan dan akses perdagangan yang diperbaiki. Sekalinya di pasar, produk pertanian kami juga menghadapi persaingan misal dari Australia atau Selandia Baru, yang sudah punya perdagangan bebas dengan Beijing," ujar Sebok.
Ingin mendapatkan informasi lebih lengkap tentang panduan gaya hidup sehat dan kualitas hidup yang lebih baik?Langsung saja berlangganan Majalah Intisari. Tinggal klik di sini