Bedanya Penjualan Jet Tempur Ala Rusia dan AS: Rusia Selalu Pakai Akal-akalan sedangkan AS Pakai Ancaman

Agustinus Winardi Senin, 6 Agustus 2018 | 07:00 WIB
Jet tempur Sukhoi Malaysia ()

Intisari-Online.com - Sebagai negara produsen pesawat, Rusia dan AS sebenarnya punya perbedaan yang mencolok, terutama dalam cara menjual jet-jet tempur.

Dalam menjual jet-jet tempurnya, Rusia biasanya tidak menjual secara paket dan tidak memberi ancaman embargo senjata terhadap negara-negara yang telah membeli jet-jet tempurnya.

Sedangkan AS ketika menjual jet-jet tempurnya selalu satu paket dengan persenjataan dan suku cadang sekaligus menyertakan ancaman embargo senjata bagi negara pembeli.

Embargo biasanya akan dilakukan AS jika negara bersangkutan yang telah membeli jet-jet tempurnya malah menggunakannya untuk menyerang negara sekutu AS.

Tapi cara menjual jet-jet tempur yang dilakukan Rusia bisa merugikan negara pembeli jika tidak memahami trik dagang ala Rusia yang sebenarnya penuh akal-akalan itu.

Baca juga: Indonesia Serahkan Kapal Pesiar Mewah Senilai Rp3 Triliun ke Malaysia, Ini Alasannya

Pasalnya Rusia tidak menjual jet tempurnya secara paket, yakni tidak beserta suku cadang dan persenjataannya sekaligus.

Jadi pada tahap pertama, Rusia hanya akan menjual jet tempur tanpa suku cadang dan persenjataan.

Sedangkan untuk persenjataan bisa dibeli pada tahap kedua dan suku cadang dibeli pada tahap ketiga oleh negara konsumen.

Cara bisnis Rusia dalam menjual jet tempur, persenjataan, dan suku cadang sengaja dilakukan secara bertahap itu memang bertujuan khusus.

Yakni, agar masing-masing komponen mendapat keuntungan yang jelas pada setiap tahap penjualan.

Baca juga: Pilot Indonesia Ternyata Lebih Jago Menerbangkan Jet Tempur Sukhoi Dibanding Pilot Rusia

Selain itu, Rusia kadang belum siap dengan persenjataan atau suku cadang yang harus disertakan dalam pembelian jet tempur.

Tapi negara pembeli sudah sangat ngotot untuk membawanya pulang.

Akibatnya negara pembeli hanya bisa membawa jet-jet tempur Rusia tanpa persenjataan dan suku cadang.

Jika sudah tiba pada tahap pembelian kedua atau ketiga untuk membeli persenjataan jet tempur Rusia tapi persediaan persenjataan tidak ada, negara pembeli biasanya akan mengatasi dengan membuat persenjataan sendiri.

Tapi jika tahap pembelian yang dilakukan untuk suku cadang dan persediaan suku cadang jet tempur bersangkutan sedang kosong, jet-jet tempur yang dibeli dari Rusia menjadi tidak bisa terbang alias untuk sementara harus di-grounded.

Baca juga: 4 Jet Tempur TNI AU yang Meraung-raung di Atas Udara Yogyakarta Itu Tenyata Hendak Menjemput Api Asian Games dari India

Tahap menghentikan sementara operasional jet-jet tempur yang dibeli dari Rusia sebenarnya bisa dilakukan tidak untuk semua jet tempur.

Pasalnya sebagian kecil jet tempur masih bisa terbang karena menggunakan penggantian komponen secara kanibal antara sesama jet tempur yang masih satu jenis.

Kasus ketiadaan suku cadang jet-jet tempur Rusia yang sedang kosong dan membuat negara pengguna menjadi seperti macan ompong saat ini sedang menimpa AU Malaysia.

Pasalnya pada 31 Juli 2018, seperti dikutip oleh media The Star Online, Menteri Pertahanan Malysia, Mohamad Sabu, menyatakan, sebanyak 28 jet tempur yang dibeli dari Rusia, hanya ada empat unit yang bisa terbang karena ketiadaan suku cadang.

Hingga saat ini AU Malaysia memiliki 18 jet tempur Sukhoi Su-30 MKM dan 10 jet tempur Mikoyan MiG-29.

Baca juga: Sudah Dilampaui China, Militer Rusia Kini Bukan Ancaman Utama Bagi Amerika

Pengalaman buruk yang sedang dialami AU Malaysia ini jelas menjadi pelajaran berharga bagi TNI AU karena masih memiliki 16 jet tempur Sukhoi (SU-27/SU-30).

Artinya TNI AU harus sedia payung sebelum hujan, agar tidak jerjebak oleh cara penjualan jet-jet tempur Rusia yang serba akal-akalan itu.

Yakni bisa melakukan pembeliaan persenjataan dan suku cadang Sukhoi dari Rusia tanpa menunggu jet-jet tempur mengalami masalah baik dari sisi persenjataan maupun suku cadangnya.

Source : dari berbagai sumber,militaryfactory.com,sputniknews.com
Penulis : Agustinus Winardi
Editor : Moh. Habib Asyhad