Penulis
Intisari-Online.com - Satu kasus infeksi Covid-19 varian Omicron terdeteksi di Indonesia.
Pemerintah pun menghimbau agar masyarakat Indonesia tak panik dan tetap menjalankan protokol kesehatan.
"Waspada penting, tapi jangan perkembangan ini membuat kita panik," ujar Jokowi, dalam konferensi pers dikutip dari Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (16/12/2021).
Varian Omicron merupakan varian baru Covid-19 yang belakangan tengah membuat negara-negara di dunia khawatir.
Varian ini pertama kali diidentifikasi di Afrika Selatan pada November lalu.
Seiring dengan penyebarannya, terus dilakukan penelitian terhadap varian Omicron dan juga terhadap vaksin Covid-19 dalam melawan varian baru ini.
Salah satunya dilakukan oleh Sinovac, di mana perusahaan ini melaporkan berdasarkan hasil studi terbaru mereka, suntikan ketiga vaksin inaktif Sinovac mampu menetralkan antibodi hingga dua kali lipat terhadap varian Omicron.
Penelitian tersebut dilakukan terhadap dua kelompok sebagaimana dilansir Antara, Kamis (16/12/2021).
Baca Juga: Dorong Pembangunan Kota Pintar, Menkominfo: Smart City Jawab Tantangan Kependudukan dan Pariwisata
Dua kelompok itu masing-masing terdiri atas 20 orang yang sudah menerima dua dosis vaksin dan 48 penerima dosis ketiga.
Tujuh dari kelompok pertama dan 45 dari kelompok kedua memberikan reaksi positif dalam menetralkan antibodi terhadap varian Omicron.
Dalam pernyataan tertulisnya, Sinovac menyatakan bahwa vaksin dosis ketiga alias booster efektif dalam meningkatkan kapasitas penetral terhadap Omicron.
Vaksin Sinovac tak asing di telinga orang Indonesia dan merupakan salah satu vaksin Covid-19 yang banyak didistribusikan di Indonesia.
Rupanya, ada vaksin lainnya yang diklaim ampuh melawan paparan Covid-19 varian Omicron bahkan dengan sekali suntikan, tetapi vaksin ini jarang terdengar di Indonesia, apa dan bagaimana?
Namanya adalah vaksin CanSino, dan merupakan salah satu vaksin yang hanya disuntikan satu kali saja.
Itu tentunya berbeda dengan sejumlah jenis vaksin lainnya yang memerlukan dua kali penyuntikan, bahkan dengan suntikan ketiga sebagai booster, misalnya Sinovac.
Sejumlah negara diketahui sudah menggunakannya, seperti Meksiko yang telah merilis penggunaan vaksin serta Pakistan.
China pun ikut menggunakan vaksin ini dan menjadikan Cansino sebagai vaksin Covid-19 pertama yang dipatenkan negara tersebut.
Dikabarkan jika vaksin CanSino memiliki efikasi mencapai 68,83%.
Hasil tersebut dikatakan dapat mencegah penyakit Covid-19 bergejala dua minggu setelah sekali suntikan.
Namun, setelah minggu keempat mendapatkan suntikan, efektivitas vaksin menurun 65,28%. Lalu, bagaimana dengan keampuhannya melawan varian Omicorn?
Soal itu, disebut satu dosis vaksin rekombinan adenovirus vektor Covid-19 buatan CanSino yang diberikan sebagai booster setelah dua dosis vaksin inaktif didapati hasil bahwa antibodi penetral pseudovirus terhadap Omicron hanya akan mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan strain asli Covid-19.
Hal itu menunjukkan bahwa efektivitas vaksin dalam menghadapi Omicron hanya sedikit lebih rendah daripada menghadapi Covid-19, demikian menurut studi tersebut.
Selain itu, diklaim bahwa tingkat antibodi penetral terhadap Omicron bagi orang yang mendapat suntikan CanSino, 10 kali lipat lebih tinggi daripada suntikan tiga dosis vaksin inaktif.
"Kami sedang mengembangkan vaksin baru yang dapat mencegah Omicron," kata manajemen CanSino seperti dikutip Global Times.
(*)