Ngeri, Suku Naulu Pernah Gunakan Kepala Manusia Sebagai Mas Kawin dan Punya Tradisi Penggal Kepala Manusia

Tatik Ariyani

Penulis

Bagi suku Naulu, berburu kepala manusia merupakan persembahan kepada nenek moyang. Tradisi inilah yang membuat mereka dianggap sebagai suku primitif.

Intisari-Online.com -Seperti kebanyakan suku pedalaman, masyarakat suku Naulu asal Maluku ini hidup dengan mempertahankan tradisi nenek moyang.

Mereka, tidak seperti umumnya masyarakat Indonesia, lebih banyak hidup tanpa memeluk agama apa pun.

Seperti beberapa suku Indonesia yang mempertahankan tradisi nenek moyang, mereka memeluk kepercayaan yang sudah diwariskan secara turun-temurun.

Untuk bertahan hidup, penduduk suku Naulu akan berladang dan berburu.

Baca Juga: Misteri Suku Perempuan Amazon Hidup Tanpa Pria Mereka Bisa Hamil dan Melahirkan Anak, Ternyata Caranya Untuk Hamil Mengejutkan dan Bikin Merinding

Masyarakat yang mendiami Pulau Seram, Maluku ini memiliki tradisi yang mengerikan bagi sebagian besar orang.

Bagi mereka, berburu kepala manusia merupakan persembahan kepada nenek moyang. Tradisi inilah yang membuat suku Naulu dianggap sebagai suku primitif.

Mereka percaya bahwa tradisi ini wajib untuk dilakukan agar terhindar dari bahaya atau musibah.

Selain itu, tradisi ini dianggap sebagai sebuah kebanggaan dan simbol kekuasaan.

Baca Juga: Suku Kanibal Papua Ini Sering Konsumsi Otak Manusia Sebagai Makananya, Ternyata Kebiasaan Sadis Itu Membawa Dampak Mengerikan Bagi Tubuh Mereka

Kepala manusia memiliki arti penting bagi suku ini. Maka, tidak heran bila kepala manusia juga dijadikan sebagai mas kawin ketika seseorang dalam suku Naulu akan menikah.

Pada zaman dahulu, raja suku Naulu menggunakan cara ini untuk memilih seorang menantu laki-laki.

Sebagai bukti kejantanan, sang pria harus membawa kepala manusia sebagai mas kawin.

Baca Juga: Meski Tak Pernah Mandi, Wanita Suku Himba Diakui Sebagai Wanita Terindah di Afrika, Inilah Cara Mereka Menjaga Kecantikan Tubuh

Persembahan kepala juga dilakukan saat penduduk mengadakan sebuah ritual Pataheri, ritual yang dilakukan sebagai perayaan atas dewasanya seorang anak laki-laki.

Bagi remaja yang berhasil memenggal kepala seseorang, mereka akan mengenakan ikat kepala merah sebagai simbol kedewasaan.

Tradisi ini sempat dinyatakan hilang pada awal tahun 1900-an. Namun, beberapa sumber mengatakan bahwa tradisi ini masih dilakukan hingga tahun 1940-an.

Setelah bertahun-tahun, tradisi ini tidak lagi terdengar.

Hingga akhirnya, pada tahun 2005, ditemukan dua mayat tanpa kepala di kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah.

Baca Juga: Kasus 77 Siswa Dihukum 'Makan' Kotoran Manusia: Awas, Kita Bisa Kena Penyakit Mematikan Ini Jika Memakan Kotoran Manusia

Kedua mayat tersebut diidentifikasi bernama Bonefer Nuniary dan Brusly Lakrane, yang ditemukan dalam kondisi mengenaskan karena bagian tubuhnya telah dipotong-potong.

Seperti dikutip dari Tribun Jambi pada Rabu (17/10/2018), hasil penyelidikan menunjukkan bahwa keduanya dibunuh oleh Suku Naulu sebagai persembahan kepada leluhur.

Pelakunya merupakan warga dengan marga Sounawe, yang melakukan ritual ini untuk memperbaiki rumah adat mereka.

Kejadian ini membuat para pelaku mendapat hukuman yang cukup berat. Ketiga pelaku, Patti Sounawe, Nusy Sounawe, dan Sekeranane Soumorry dijatuhi hukuman mati.

Sedangkan tiga pelaku lainnya, Saniayu Sounawe, Tohonu Somory, dan Sumon Sounawe dipenjara seumur hidup.

Baca Juga: Pasien Suspect Virus Corona di Semarang Meninggal Karena Gangguan Napas Berat, Jenazah Dibungkus Plastik Sebelum Dikremasi

Sejak kejadian ini, lembaga hukum berusaha untuk melakukan sosialisasi kepada semua pihak tentang adanya hukuman tegas bagi tindakan pembunuhan.

Kini, tradisi penggal kepala telah dihapus dan tidak terdengar lagi adanya korban yang menjadi persembahan.

(Nesa Alicia)

Artikel ini sudah tayang di NationalGeographic.co.id dengan judul "Kepala Manusia Sebagai Mas Kawin dan Tradisi Penggal Kepada Suku Naulu".

Artikel Terkait