Penulis
Intisari-Online.com -Harta berkecukupan dan hidup enak dengan profesi mapan jadi impian semua orang.
Namun ada satu hal lagi yang bisa membuat orang lebih merasa bahagia, berbuat baik atau berbagi kebahagiaan.
Bahkan atas dasar kemanusiaan itu, beberapa orang rela meninggalkan hidup mereka yang nyaman, seperti yang dilakukan Kapten Budi Soehardi.
Telah lewat enam bulan bantuan mengalir untuk para pengungsi eks Timor Timur di Atambua.
Baca Juga: Tito Karnavian Jadi Menteri, DPR Uji Kelayakan dan Kepatutan Calon Kapolri, Begini Mekanismenya
Namun, Kapten Budi Soehardi dan Istrinya, Rosalinda Panagia Maria Lakusa atau Peggy, sapaannya merasa masih kurang.
Bantuan apa saja yang sampai disana, baik makanan, obat-obatan hingga pakaian seakan tak berbekas.
Karena itulah pasangan suami istri ini kemudian mengevaluasi kegiatan sosial mereka disana.
Saat melihat banyaknya anak-anak yang menjadi korban konfilik di Timor Timur kala itu membuat Budi dan Peggy tertegun.
Baca Juga: Karena Berat Badannya Tak Terkendali, Wanita Ini Ambil Kesempatan Terakhir Demi Selamatkan Hidupnya
Ia melihat ada harapan terpancar dari sinar mata anak-anak pengungsi eks Timor Timur itu kelak di kemudian hari.
Bahkan dari sorot mata anak-anak tersebut, pasangan suami istri ini mempercayai akan ada agen-agen perubahan di masa depan.
Namun orang tua dari tiga orang anak ini melihat pengungsian bukanlah tempat yang tepat untuk tumbuh kembang anak mereka.
Bertolak dari kesadaran ini, ia lalu menyiapkan sebuah pendekatan baru, pendekatan transformatif.
Baca Juga: Dapatkan 5 Manfaat dari Olahraga Plank, Salah Satunya Langsingkan Tubuh, Mau Coba?
Bertolak dari keyakinan tersebut, meski tanpa pengetahuan dan pengalaman mengelola lembaga sosial, Budi dan Peggy nekad membuka panti asuhan.
Panti Asuhan ini diberi nama Roslin yang merupakan akronim yang diambil dari dua nama: Rosalin (Ros) dan Violin (lin).
Rosalin adalah nenek Peggy, sementara Violin tak lain adik dari neneknya.
Dua sosok ini berperan penting dalam menyemai nilai-nilai kemanusiaan dan mendorong Peggy aktif mengambil bagian dalam kegiatan-kegiatan filantropi.
Baca Juga: Kisah Penuh Drama Rohimah sang Penipu, Mantan Guru Agama dengan Empat Nama dan Enam Suami
Panti Asuhan Roslin dirintis dengan menyewa sebuah rumah pada 1999, ketika awal dibuka, ada 4 bayi yang dirawat.
Bayi-bayi tersebut terlantar dan tidak ada yang mau mengurus. Kondisi mereka mengenaskan.
Makin hari bayi yang diasuh makin bertambah hingga pada tahun 2002 mereka harus memutuskan untuk membangun sendiri tempat permanen panti yang dananya diambil dari sebagian gaji pilot yang rutin ia sisihkan.
Makin hari PA Roslin makin berkembang, bahkan pernah jumlah anak mencapai hingga 150 orang.
Sebelumnya saat awal merintis Panti Asuhan, Budi tetap bekerja sebagai pilot.
Baca Juga: Ini 4 Tanda Ketika Anda Perlu Mencari Pekerjaan Baru, Salah Satunya Merasa Lelah Berkepanjangan
Ia pernah jadi juru mudi Garuda Indonesia (19767-1989), Korean Air (1989-1998) hingga Singapore Airlines (1998-2015).
Sejak dini, Budi berusaha memperlengkapi anak asuhnya dengan life skills, menanamkan semangat juang, kerja keras, kepercayaan diri, tanggung jawab, kejujuran dan sikap saling mengasihi.
Permasalahan pasangan suami istri ini tak hanya di situ saja, mereka juga harus berpikir keras ketika Budi berhenti dari pekerjaan yang telah menjadi mata pencahariannya berpuluh-puluh tahun.
Tidak hanya membekali anak-anak dengan ilmu pertanian, Budi juga mewajibkan anak-anak asuhnya untuk bersekolah.
Ia yakin benar, akses pendidikan yang berkualitas merupakan jalan terbaik untuk meretas kemiskinan.
Demi menghidupi idenya ini, pada 2013, Budi mendirikan Sekolah Roslin.
Tak ada pungutan biaya untuk murid sekolah itu, bahkan mereka diberi susu dan makanan gratis setiap hari.
Pada tahun 2015 sesaat setelah ia memutuskan berhenti sebagai pilot, pasangan suami istri ini harus memutar otak bagaimana bisa menghidupi keluarga sekaligus dengan Panti Asuhan yang berisi 100 anak lebih.
Untuk menjadi seorang petani di sekitar Panti Asuhan itupun susah sebab unsur tanah yang ada disana tidak dapat mendukung untuk bercocok tanam.
Saat menyadari bahwa tanah tempat tinggalnya sebagai tanah tandus berbatu, ia pantang mengeluh.
Dengan tekun, sedikit demi sedikit, batu-batu yang ada ia singkirkan menggunakan palu godam atau belencong.
Tanah yang sudah bebas dari batu dan semak belukar ini lalu diberi pupuk buatan sendiri.
Dengan pengalaman dan pengetahuannya yang diperoleh secara autodidak, Budi kemudian mengajari anak-anak untuk bercocok tanam.
Melansir dari TribunManado.co.id (7/2/18), anak-anak mereka di Panti Asuhan bahkan sekarang telah banyak yang lulus dan memiliki profesi yang tak bisa dianggap remeh.
“Kami sekarang mengasuh 116 anak. Sebanyak 98 tinggal di PA Roslin Kupang, sementara 18 lainnya bersekolah di Jakarta. Dari anak-anak yang kami asuh, beberapa di antaranya telah lulus dari perguruan tinggi. Ada yang tamat dari kedokteran, keperawatan gigi, pertanian dan IT. Tahun ini, ada 4 atau 5 anak lagi yang akan wisuda sarjana,” ujarnya bangga, dikutip dari TribunManado.co.id (7/2/18).
Kerja kerasnya untuk menetaskan anak-anak di daerah tandus tersebut membawanya meraih penghargaan CNN Heroes 2009.
Dilansir dari Kompas.com, Budi Soehardi dan sang istri telah berhasil mengembangkan daerah ekowisata di Desa Oenaek, Nusa Tenggara Timur (NTT).(Andreas Chris)
Artikel ini telah tayang di Sosok.ID dengan judulKisah Budi Soehardi, TInggalkan Profesi Pilot Demi Jadi Petani Sekaligus Jadi Ayah dari Ratusan Anak di NTT, Dapat Penghargaan CNN Hero