Makan Siang Bersama di Sekolah Jepang Ternyata Menyimpan 'Rahasia' Besar

K. Tatik Wardayati Minggu, 9 September 2018 | 11:30 WIB
()

Intisari-Online.com – Anak-anak sekolah bukan hanya disuguhi makan siang, tetapi mereka harus membantu mempersiapkannya, menerangkan nilai gizinya, mengajar cara makan yang baik dan kemudian membereskannya lagi.

Inilah ceritanya yang dimuat dalam Pacific Friend, yang dimuat dalam Majalah Intisari edisi September 1980.

Lebih dari 30 tahun telah berlalu sejak di Jepang diintrodusir program makan siang di sekolah. Kini tak kurang dari 16 juta anak sekolah mendapat makan siang di sekolah.

Tak kurang dari 99,4% murid sekolah dasar dan 81,8% murid sekolah menengah pertama Jepang menikmati program makan siang sekolah itu.

Baca Juga : Topan Jebi Terjang Jepang: WN Taiwan 'Dipaksa' Jadi WN China Demi Selamatkan Diri

Menurut undang-undang makan siang itu harus menambah perkembangan fisik dan mental serta memperbaiki kebiasaan makan bangsa.

Pemerintah pusat dan lokal juga dianjurkan untuk terus memasyarakatkan makan siang sekolah itu dan terus memperbaikinya.

Makan siang itu memang merupakan sebagian dari sistem pendidikan sekolah, terutama untuk bimbingan kelas.

Makan bersama itu memang akan mendekatkan murid dan guru dan memperkaya kehidupan sekolah.

Anak-anak juga belajar makan dengan baik dan dengan membantu mempersiapkan makanan dan membereskan kemudian, mereka juga belajar bekerja sama dan melakukan pekerjaan untuk kepentingan umum.

Tujuan pendidikan Jepang sekarang ialah mendidik mental Sosial anak dan keluwesan.

Sistem makan siang di sekolah banyak membantu untuk mencapai tujuan itu.

Baca Juga : Topan Jebi Terjang Jepang: WN Taiwan 'Dipaksa' Jadi WN China Demi Selamatkan Diri

Anak sekolah masih dalam taraf perkembangan, sehinggga makanan yang bergizi, seimbang juga baik demi kesehatan dan fisiknya.

Kebiasaan makan baik melalui program makan sekolah ini juga penting untuk memperbaiki kebiasaan makan nasional setelah anak itu terjun dalam masyarakat dan mempunyai rumah tangga sendiri.

Setiap desa atau kota harus menyediakan fasilitas dan tenaga untuk melaksanakan program itu sedangkan orangtuanya harus membayarnya.

Agar sekolah dasar bisa melaksanakannya dengan baik Pemerintah juga memberi fasilitas, peralatan dan subsidi untuk membiayai dapur, ruang makan, lemari es dan mobil pengangkut.

Ada badan-badan khusus yang membantu penyediaan bahan murah dan baik untuk makan siang sekolah itu.

Baca Juga : Wanita Jepang Lebih Suka Punya Pacar Pria Indonesia, Ini 10 Fakta tentang Wanita Jepang

Selama tahun fiskal 1979 harga rata-rata makan siang untuk murid sekolah dasar ialah 150 yen dan 180 yen untuk sekolah menengah pertama.

Ini berarti sepertiga dari harga makanan yang sama di sebuah restoran biasa.

Keluarga yang tidak mampu untuk membayar makan siang tambahan itu  diberi subsidi.

Anggaran untuk tahun fiskal 1980 bagi program makan siang sekolah berjumlah 75,6 milyar yen (sekitar Rp 204,12 milyar) jumlah ini termasuk beras dengan harga 60% dari harga pasar dan susu dengan harga yang murah.

Ada sekolah yang mempunyai dapurnya sendiri, tetapi ada juga dapur yang menyediakan  makanan untuk beberapa sekolah.

Karyawan yang bertugas untuk mempersiapkan dan mengontrol makan siang sekolah itu ialah ahli gizi, dan koki. Seperti para pendidik mereka mendapat separuh dari gajinya dari Pemerintah.

Biarpun program ini sudah maju pesat toh masih ada kekurangannya.

Misalnya makanan itu kurang lezat dan banyak. Sekarang makanan itu masih makanan standar.

Baca Juga : 'Karang Bunuh Diri', Tempat Ribuan Tentara Jepang Bunuh Diri karena Malu Setelah Kalah Perang

Seharusnya lebih banyak diperhatikan bahan makanan yang sedang musim dan gizinya  lebih seimbang. Ruang makan juga belum semua seperti yang diharapkan.

Makan siang itu terutama terdiri dari roti dan susu seperti waktu dimulai selesai perang.

Waktu itu Jepang masih kekurangan makan dan makan siang di sekolah masih sangat tergantung pada bantuan luar negeri.

Mereka sekarang juga sedang, berusaha untuk lebih banyak memasukkan menu beras.

Masih  banyak yang harus diperbaiki.

Gambar-gambar akan memberi keterangan lebih lengkap mengenai program ini.

Meski begitu, program ini terbukti sukses. Jika dulu sebelum era orang jepang terkenal bertubuh pendek, sekarang mayoritas berbadan tinggi besar.

Baca Juga : Dari Piala Dunia, Asian Games, Hingga Ibadah Haji, Aksi Bersih-bersih Orang Jepang Benar-benar Patut Diteladani

Source : intisari
Penulis : K. Tatik Wardayati
Editor : Yoyok Prima Maulana