Editor
Siapa dulu yang menanti tayangan Gemar Menggambar yang diasuh Tino Sidin di TVRI? Inilah riwayat 'Bapaknya Anak-anak Indonesia' itu.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com - “Sejak dua tahun terakhir ini, dia mungkin satu-satunya orang yang paling dianggap simpatik bagi para penonton teve. Berjuta-juta anak Indonesia — termasuk orangtuanya, menjadi pemerhati teve, terutama setiap hari Minggu sore di mana acara yang diasuhnya, Gemar Menggambar, berlangsung," tulis Majalah HAI dalam artikel berjudul "Tino Sidin" yang tayang pada 6 Mei 1980.
Pada masa-masa jayanya, mustahil anak-anak tak menanti-nanti acara tersebut untuk sekadar bisa “bertemu” dengan Pak Tino. Mereka tidak lagi sekedar memperoleh ilmu bagaimana menggambar secara praktis alias "yang penting berani mencoret — mencoretkan apa saja" atau "dengan garis lurus atau garis melengkung, kalian akan bisa menggambar”seperti yang senantiasa terlontar dari mulutnya yang murah senyum.
Satu lagi yang khas dari Tino Sidin dan acara itu adalah jargonya: “Ya, bagus!”
Ketika itu, acara Gemar Menggambar tak lagi sekedar ilmu pengetahuan praktis. Lebih dari itu, di sanalah anak-anak merasa mendapatkan kesempatan untuk “berdialog”, memupuk sikap kreatif mereka, menumbuhkan rasa percaya pada diri mereka; juga, kebanggaan mereka memperoleh tempatnya.
“Tino Sidin adalah ‘Bapak anak-anak Indonesia’ yang secara diam-diam setengahnya diirikan para orangtua,” tulis HAI.
Bekas juara lari
Tino Sidin lahir di Tebingtinggi pada 25 November 1925. Tak seperti gambaran seorang seniman zaman itu yang biasanya ceking dan awut-awutan, tubuh Tino Sidin tampak sehat dan kekar. Maklum, dia pernah jadi guru olahraga di Tebing Tinggi yang setiap hari dia mengajar bagaimana cara melempar lembing, tolak peluru, lempar cakram, dan sebagainya.
Perihal kekekaran, memang ada riwayatnya. Sejak kecil dia telah dididik membantu ayah dan kakeknya. Seperti ngarit, mencari rumput dengan arit, atau memotong kayu di hutan karet.
Dengan sebuah kapak besar, dia memotong kayu-kayu karet menjadi potongan yang sama ukurannya. Kayu-kayu itu kemudian dia jual kepada mereka yang membutuhkan.
Berkat ajaran gurunya yang orang Belanda tentang cara yang tepat untuk lari, dia bahkan pernah menjadi juara lari di Tebing Tinggi. Satu-satunya semangat yang mendorongnya untuk mengikuti lomba lari sejauh 15 kilometer yang dimenangkannya itu adalah karena wanita yang dia taksir lebih menyukai pemuda lain yang seorang wartawan. Kebetulan, pemuda saingannya itu juga ikut lomba lari tersebut.
Walau cintanya bertepuk sebelah tangan, paling tidak dadanya cukup menggelembung waktu dinyatakan sebagai pemenang. Apa hadiahnya? "Sepasang sepatu yang bau," jawabnya sambil ketawa, kepada HAI.
Di zaman Jepang yang serba kekurangan, hidup keluarga Tino relatif lebih mendingan dibanding yang lain. Kebetulan rumahnya berdekatan dengan asrama tentara Jepang.
"Di antaranya malahan ada yang bintang film — entah lupa siapa namanya," ceritanya. Dan dia sering memperoleh kelebihan makanan atau sisa-sisa nasi dari para serdadu Jepang itu. Satu hal yang sulit didapat oleh keluarga lain kala itu.
Terlebih setelah dia memperoleh kerja di kantor Jepang. Seorang opsir Jepang menemukan bakatnya, sewaktu dalam kesempatan mengantar para serdadu Jepang pelesir, ketika dia iseng-iseng mencoret-coret di atas pasir.
Sejak itu dia bekerja sebagai pelukis, yang membikin poster-poster propaganda pihak Jepang. Gajinya jelas lumayan, sedangkan jabatannya pun bukan main-main: Kepala Jawatan Penerangan di kota itu.
"Semata-mata karena tak ada orang lain yang memegangnya. Cuma saya satu-satunya di kantor itu," kilahnya. Padahal usianya baru 19 tahun waktu itu.
Memasang bendera merah-putih
Sejak lahir namanya memang cuma Tino. Ayahnya bernama Sidin. Tebing Tinggi, kota kelahirannya itu, lokasinya antara Medan dan Pematangsiantar. Dia lahir dari keluarga Jawa tulen.
Kakeknya, Sastrosentono, menurut dongengnya, dulunya termasuk salah seorang pengikut Diponegoro; bersama Gusti Ahmad, seorang bangsawan Yogya yang dianggap "sisip" mata Belanda, mereka "diselonkan" —istilah bagi para pemberontak yang dibuang ke Ceylon atau Srilanka — tapi entah kenapa sampai nyangkut di Tebing Tinggi.
Waktu kecil dia jarang berkelahi. Dia juga mengaku bukan seorang pemberani.
Namun suatu ketika dia pernah menunjukkan keberanian yang bukan olah-olah dalam ukuran seorang anak kala itu. Suatu malam, kira-kira jam satu malam, gurunya mendatangi rumahnya. Ada sebuah bungkusan di tangannya. Dan waktu dia diajak si guru, Tino hanya menurut saja, "Itu repotnya kalau jadi murid terlalu disayang oleh gurunya."
Dalam kepekatan malam itu mereka menuju halaman kantor Gunseibun, kantor walikota. Sesampai di sana, bungkusan itu baru dibuka. Ternyata sebuah bendera merah-putih. Dan Tino disuruh memasangnya di tiang bendera di halaman kantor tersebut.
Dia menurut saja. Lantaran talinya macet, Tino terpaksa memanjatnya dan memasangnya di puncak tiang. Waktu menunjuk sekitar jam 3 dinihari. "Dinginnya bukan main, mana tiangnya licin sekali," kisahnya. Itu terjadi dua hari menjelang Proklamasi.
Esoknya ada serdadu Jepang tewas di bawah tiang bendera. Perkaranya, si Jepang bermaksud menurunkan bendera merah-putih, dan sementara itu seorang polisi kita mempertahankannya.
Sejak itu suasana menjadi gawat. Dan bertambah gawat lagi, sampai akhirnya guru yang pernah menyuruhnya memasang bendera merah-putih, namanya Blendot Sundoro, pernah jadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), tewas oleh tiga tusukan bayonet Jepang.
Di akhir pendudukannya, "saudara tua" kita itu sempat menciptakan banjir darah di daerah Tebing Tinggi. Saking ketakutan, Tino bersembunyi di dalam sumur. Dalam sumur yang kebetulan legok ke samping itu, dia sempat mendekam selama dua malam. "Jika malam baru saya berani ke luar, untuk mencari makanan."
Ke Yogya
Pada masa perjuangan fisik itu Tino Sidin masuk barisan Pelopor di daerah Tebing Tinggi. Dan suatu ketika dia bersama sekelompok temannya hijrah ke Yogya.
Di Yogyakarta yang ketika itu adalah ibu kota negara dia masuk menjadi Tentara Pelajar. Bersama Daoed Joesoef, yang di kemudian menjabat Menteri P&K, dan Sam Suharto yang jadi bintang film, dia melanjutkan sekolahnya di SMA. Sebagai tentara yang masih berstatus sebagai pelajar, Tino mengaku belum pernah panggul bedil.
Bukan hal aneh waktu itu jika dia sering membolos dari sekolah, karena dia dan kawan-kawannya memang lebih sering berada di front. Ketika itu, perjuangan dinilai lebih penting ketimbang menekuni buku di sekolah. Barangkali lantaran dalam keadaan yang serba semrawut itu, sekolahnya di SMA tak sampai tamat.
Pada waktu Clash II (Agresi Militer Belanda II), Belanda menduduki Yogyakarta pada Desember 1948, dia ikut melakukan long march ke Jawa Barat, bergabung dengan Batalion X di bawah pimpinan Letnan Lukas. Sedangkan pangkat terakhir yang disandangnya adalah Sersan Satu Polisi Tentara.
Jadi anggota Seniman Muda Indonesia
Bakat alamnya dalam bidang menggambar makin terpupuk sewaktu dia ikut masuk ke dalam kelompok pelukis yang menyebut dirinya Seniman Muda Indonesia (SIM.), sekitar tahun 1946. Dalam kelompok tersebut tercatat beberapa nama yang kemudian menjadi pelukis besar Indonesia saat ini, seperti Affandi, Sujoyono, Trisno Sumardjo, Srihadi, Dullah, Kartono Yudokusumo, juga Nurnaningsih.
Dalam kelompok pelukis yang kemudian mengganti namanya jadi kelompok Pelukis Rakyat itu, "Tugas saya baru hanya membersihkan kuas cat, dan membuat sket dengan arang,” katanya.
Waktu Wikana duduk sebagai menteri dalam Kementerian Pendidikan dan Kesenian (1946), Tino Sidin jadi salah seorang karyawannya. Tugasnya sebagai pelukis poster dan mengabadikan momen-momen perjuangan dalam bentuk lukisan, di bawah pimpinan Abdulsallam
Sekitar 1949, dia terdampar di Jakarta. Bersama Daoed Joesoef dan Djohar Arifin, Tino Sidin bekerja sebagai ilustrator pada usaha penerbitan di bawah Sutan Takdir Alisyahbana. Dia dan banyak kawan-kawannya yang lain dari Yogya mondok rame-rame secara gratis di sekolah Taman Siswo di Jl. Garuda, yang dipimpin oleh Mohammad Said Reksohadiprodjo.
Waktu itu dia sempat mengenal Chairil Anwar. Apa yang mengesankan dirinya tentang penyair besar itu? "Ngawurnya," tukasnya.
Ya, hidupnya yang amat ngawur dan serba tak teratur, katanya. Pernah suatu ketika Tino ditraktir makan di sebuah warung. Tumben-tumbenan, pikir Tino. Lalu dia tanya dari mana Chairil memperoleh uang. Dijawab, "Dari penjualan baju lu."
Dari penyair yang meninggal pada 28 April 1949 tersebut Tino memperoleh kenang-kenangan sebuah tulisan tangannya, berupa esai mengenai Angkatan '45 dalam bidang sastra. Tulisan itu semula dia simpan, tapi kemudian konon disimpan oleh H.B. Jassin.
Membuka kursus melukis
Tahun 1951, dia kembali ke Tebing Tinggi. Di bekas sekolahnya di Taman Dewasa (setingkat SMP), dia menjadi guru olahraga di situ. Dan sewaktu hijrah ke Medan (1953) dia mulai membuka kursus melukis.
Siapa saja yang jadi muridnya? "Macam-macam. Ada yang kepala jawatan, bahkan ada yang tukang becak." Di antaranya terdapat pula C.M. Nas (penulis cerita film), Ishak Suhaya (sutradara film), Misran DS, Rush Hakim.
Dan salah seorang murid perempuannya, kemudian dia petik menjadi teman hidupnya.
Atas dorongan Taguan Hardjo – pelukis komik mashur itu, dia pun sempat menerbitkan beberapa cergam, antara lain Selendang Sutera. “Karena yang mensketnya mula-mula saya serahkan kepada murid-murid saya, jadinya malah acak- acakan," cerita Tino Sidin.
Dia pun mengasuh penerbitan sebuah majalah berkala dari pihak kepanduan. Sejak kecil dia memang aktif di bidang kepanduan. "Saya punya ijasah waktu mengikuti kursus pimpinan tingkat Pemula," katanya.
Itulah sebabnya, hingga jauh di kemudian hari, dia merasa paling dekat dengan anak-anak. Tata pergaulan dan nilai-nilai yang dia peroleh dalam kepanduan itulah rupanya yang masih melekat dalam penampilannya yang simpatik terutama di kalangan anak-anak.
ASRI
Tahun 60-an dia hijrah kembali ke Yogya sambil memboyong keluarganya. Berkat kedudukannya sebagai pengurus veteran di kota itu, dia berhasil masuk ke sekolah senirupa ASRI, dengan biaya pampasan Jepang. Dan tatkala pampasan tersebut habis, kandas pulalah kuliahnya.
Dalam usia 36 tahun menjadi mahasiswa di tingkat pertama, dia sering jadi olok-olokan teman-temannya, mana dia sering bersikap 'nyentrik'. "Dia sering kuliah hanya pakai sarung," cerita Jan Mintaraga, salah seorang teman kuliahnya. Dwi Koendoro, Pramono, GM Sudarta adalah juga teman-teman seangkatannya.
Drop-out dari ASRI, dia lebih banyak menganggur. "Saya ini pemalas," Tino mengaku. Mengandalkan tunjangan sebagai veteran sambil melukis sedikit. "Kadang laku satu biji, tapi lebih banyak tidak lakunya."
Tentu saja akibatnya diderita keluarganya. Dengan penghasilan yang jauh dari stabil, maklum jika keluarga dengan 5 anak (putri semua) itu banyak "pinjam" sana-sini.
Karena itulah Tino pernah hidup bergelimang utang. Sampai-sampai dia pernah berjanji dalam hatinya, “Suatu ketika, andai punya uang banyak, saya akan adakan suatu pesta besar, dan di saat itulah saya akan membayar semua utang-utang saya.”
Gaji tak seberapa
Mungkin agak sulit dipahami, satu-satunya kekayaan Tino Sidin adalah kecintaannya dengan anak-anak. Kepopulerannya lewat TVRI (mulai mengasuh acara “Gemar Menggambar” di TVRI Yogyakarta sejak 1969, kemudian hijrah ke TVRI Jakarta sejak 1979), lebih banyak melahirkan berbagai “kerepotan”, dan bukan yang bersifat materiil.
Dia bahkan ketika belum punya rumah sendiri. Sebuah rumah di luar batas kota bagian barat kota Yogya yang ketika itu didiami oleh istri dan anak-anaknya, adalah rumah "pinjaman", artinya bukan rumahnya sendiri. "Dulunya rumah itu kan banyak hantunya, sehingga tak ada yang berani menempatinya," cerita Tino Sidin.
Dia juga miskin perabot. Satu set meja tamu di ruang tamunya dia beli waktu dia berhasil menang lotere, tahun 60-an. "Tujuhpuluh lima ribu waktu itu. Dan percaya atau tidak, meja makan saya kakinya sudah sambungan, saking rapuhnya,” ceritanya.
Tino Sidin selalu murah senyum, ketawa penuh sayang terhadap setiap anak. Dia repot membagi waktu menatar guru SD di berbagai provinsi di Indonesia, dijewer kupingnya, dicubit bajunya, selalu mendapat suguhan makanan gratis oleh ibu-ibu dan mendapat souvenir-souvenir tanda simpati, setiap dia berkunjung ke suatu daerah. Dia sibuk dengan kursus-kursus melukis untuk anak-anak.
Mengadakan lomba ini-itu dan dipanggang matahari. Dia juga repot membagi waktu antara pihak Stanvac yang akan mensponsorinya dan pihak Istana Negara yang mengundangnya. Dia masih berusaha tetap muncul setiap hari Minggu sore, mengasuh acara yang dinanti-nanti setiap anak. Lebih dari separuh kamarnya dipadati oleh gambaran anak-anak yang bertumpuk-timbun.
Gajinya ketika itu juga tak seberapa. "Saya takut mau minta dinaikkan," katanya terus terang. "Kalau siaran saya sampai distop, 'kan kasihan anak-anak kalau ikut-ikutan kena setop."
Begitulah kehidupan Tino Sidin di masa kejayaan Gemar Menggambar.
Tino Sidin meninggal dunia pada tanggal 29 Desember 1995. Namun sebelum meninggal dunia, sebagaimana dikutip dari Budaya.jogjaprov.go.id, ada satu cita-citanya yang belum terwujud, yaitu membangun sebuah sanggar seni yang akan dinamakan “Taman Tino Sidin”.