Penulis
Intisari-online.com - Sejak tahun 2001 sejak Taliban dilengserkan oleh Amerika bersama dengan militer Afghanistan.
Taliban dan Amerika adalah musuh, keduanya terus berperang, Taliban memiliki tujuan untuk mengambil alih Afghanistan.
Namun setelah 20 tahun bermusuhan, dan melakukan pertempuran dalam jangka waktu lama.
Amerika akhirnya menarik pasukannya di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden.
Alhasil, Afghanistan dengan cepat dijatuhkan oleh Taliban, dan pada Minggu (15/8), ibu kota Kabul berhasil dikuasai Taliban.
Meski berhasil mengambil alih negaranya dan kini Afghanistan di bawah kuasa penuh Taliban.
Mereka ternyata membutuhkan dukungan Amerika untuk menjalankan negaranya.
Hal itu terbukti dari laporan yang dimuat Kyodo News, pada Sabtu (28/8/21) menurut seorang pejabat senior Taliban, melalui sumber diplomatik.
Taliban telah meminta AS untuk tetap membuka kedutaan besarnya di Afghanistan setelah batas waktu 31 Agustus untuk menarik pasukan.
"Kami sangat ingin AS mempertahankan kedutaannya di Afghanistan. Kami akan memastikan keamanan mutlak bagi kedutaan AS," Kyodo News Jepang mengutip seorang pejabat senior Taliban mengatakan .
Menurut beberapa sumber diplomatik, tawaran Taliban mungkin merupakan bagian dari pertemuan rahasia antara direktur Badan Intelijen Pusat AS (CIA), William Burns, dan pemimpin senior Taliban, Abdul Ghani Baradar pada 23 Agustus.
Pengamat mengatakan bahwa tujuan Taliban dalam proposal ini adalah untuk menghindari kehilangan keselarasan dengan AS.
Bertujuan menciptakan premis untuk pengakuan internasional terhadap pemerintah yang didirikan oleh Taliban.
Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan kepada wartawan pada 25 Agustus bahwa Taliban telah berkomitmen, baik secara terbuka maupun diam-diam.
Mereka akan mengizinkan warga Amerika, warga negara ketiga, dan warga Afghanistan meninggalkan negara Asia Selatan itu setelah batas waktu 31 Agustus.
"Kami sedang mengembangkan rencana konkret untuk terus mendukung konsulat dan memfasilitasi evakuasi mereka yang ingin pergi setelah 31 Agustus," katanya.
Ketika ditanya secara khusus tentang masa depan Kedutaan Besar AS di Afghanistan dan apakah diplomat AS akan tinggal di negara Asia Selatan itu setelah penarikan penuh pasukan AS, Blinken mengatakan, "Kami sedang mengamati. mempertimbangkan banyak pilihan".
Menurut Kyodo News, apakah Washington akan mengakui pemerintahan baru yang dibentuk oleh Taliban sebagian bergantung pada pertimbangan hak asasi manusia, terutama hak untuk melindungi perempuan.
Taliban berusaha membangun hubungan dengan komunitas internasional dengan menunjukkan bahwa mereka menghormati hak-hak perempuan.
Selain itu, kekhawatiran internasional adalah apakah Afghanistan yang dikuasai Taliban akan menjadi hotspot terorisme karena negara tersebut belum memutuskan hubungan dengan kelompok Islam radikal.
Pada 26 Agustus, sedikitnya 170 orang, termasuk 13 anggota militer AS, tewas dalam serangan bom bunuh diri di dekat bandara Kabul, Afghanistan.
ISIS-K, sebuah cabang dari ISIS, telah mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
Sebelum dan sesudah serangan, Kedutaan Besar AS di Afghanistan menyarankan warga AS untuk tidak pergi ke bandara Kabul atau jika mereka berada di gerbang bandara untuk segera pergi.