Peringatkan Korea Selatan, Adik Kim Jong Un Sebut Hal yang Direncanakan Korsel Bersama AS Ini Akan Merusak Tekad Kedua Korea

Tatik Ariyani

Penulis

Intisari-Online.com -Lama tak muncul, saudara perempuan Korea Utara Kim Jong-un, Kim Yo Jong kembali muncul memberi peringatan keras kepada Korea Selatan.

Kedua Korea, secara teknis masih berperang setelah konflik 1950-53 mereka berakhir dengan gencatan senjata.

Hari Selasa lalu, kedua Korea menghubungkan kembali hotline Korea Utara yang terputus pada Juni 2020.

Menurut sumber tersebut dengan syarat anonim karena sensitivitas diplomatik, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah mencari cara untuk meningkatkan hubungan yang tegang dengan bertukar beberapa surat sejak April, melansir Reuters.

Baca Juga: Gara-gara Terlibat Urusan Ini dengan Korea Utara, Kapal Tanker Singapura Disita Amerika, Pemilik Kapal pun Jadi Buronan

Diskusi tersebut menandakan peningkatan hubungan yang memburuk pada tahun lalu setelah pertemuan puncak tiga pemimpin pada 2018 menjanjikan perdamaian dan rekonsiliasi.

Menurut laporan media pemerintah KCNA, Kim Yo Jong mengatakan pada Minggu bahwa jika Korea Selatan melakukan latihan militer gabungan yang direncanakan dengan Amerika Serikat, hal itu akan merusak tekad kedua Korea untuk bersatu serta membangun kembali hubungan keduanya.

Kim Yo Jong juga mengatakan keputusan baru-baru ini untuk memulihkan hotline antara kedua Korea tidak boleh dilihat sebagai sesuatu yang lebih dari menghubungkan kembali hubungan "fisik", seperti diberitakan Reuters.

Baca Juga: Padahal Tak Ada Masalah Apa-apa, Mendadak Kim Jong-Un Perintahkan Tentara Korea Utara untuk Lakukan Hal Ini,Siap-siap Mau Perang?

Kim Yo Jong menegaskan, sangat "tidak bijaksana" untuk mengasumsikan bahwa KTT kedua Korea sudah semakin dekat.

Pernyataannya itu dirlilis pada saat Korea Utara dan Selatan sedang dalam pembicaraan untuk mengadakan pertemuan puncak sebagai bagian dari upaya untuk memulihkan hubungan.

Sementara, Washington dan Seoul akan mengadakan latihan militer bersama pada akhir Agustus.

Dalam sebuah pernyataan yang dilansir KCNA, Kim Yo Jong mengatakan, "Pemerintah dan militer kami akan terus mengawasi apakah Korea Selatan melanjutkan latihan perang yang agresif, atau membuat keputusan besar. Harapan atau keputusasaan? Itu bukan terserah kami."

Pembicaraan antar-Korea memiliki potensi untuk membantu memulai kembali negosiasi yang macet antara Pyongyang dan Washington yang bertujuan untuk membubarkan program nuklir dan rudal Korea Utara dengan imbalan keringanan sanksi.

Meski demikian, beberapa analis tetap berhati-hati tentang prospek ini.

Artikel Terkait