Find Us On Social Media :

Cerita Tentang Perempuan Cantik di Samping Mobil

By Yoyok Prima Maulana, Senin, 22 Januari 2018 | 16:30 WIB

Intisari-online.com - Kenapa pameran mobil selalui dihiasi perempuan cantik? Ada yang bilang, alasannya karena mobil adalah dunianya lelaki.

Jadi, “bumbu” yang bisa ditambahkan untuk memikat adalah lawan jenisnya, yakni perempuan.

The heels and the wheels, kombinasi mematikan untuk membuat pria tekuk lutut. Teori ini barangkali benar. 

BACA JUGA: 

Beragam penggolongan diberlakukan tak resmi di dalam dunia “anak jaga” ini. Sebutannya pun beragam, dari mulai Sales Promotion Girl (SPG), Female Presenter (FP), Umbrella Girl, dsb. 

SPG adalah istilah yang paling jamak digunakan. Ada semacam pembagian untuk SPG ini mulai dari kelas A,B, dan C.

Kelas C adalah yang paling sederhana, contohnya SPG yang berjaga di ajang promosi kecil di dalam supermarket kelas menengah.

Adapun kelas B, di dalam perhelatan motor show, biasanya bertugas di gerai suku cadang atau stan kecil lainnya. Kedua kelas inilah yang lazim disebut SPG. 

BACA JUGA: 

Bagaimana dengan kelas A? Mereka lebih suka menyebut dirinya usher atau female presenter.

Barangkali ini untuk membedakan dengan dua kelas lainnya yang lebih rendah. Gadis-gadis yang bertugas di booth pabrikan mobil besar, biasanya berasal dari kelas ini.

Karena tak kasat mata, pembagian kelas ini berlangsung alami mirip seleksi alam. Hanya berdasarkan pengalaman, informasi mulut ke mulut, juga sejarah kerja.

Semua itu tidak sulit dilakukan lantaran dunia penjaga pameran ini cukup sempit. Rata-rata para agen dan SPG sudah saling mengenal.

Tembus puluhan juta rupiah 

Mendengar pengakuan beberapa SPG kelas A atau para usher, terungkap, mereka pada umumnya berstatus mahasiswi.

Pekerjaan semusim ini dilakoni hanya sekadar sambilan dan bukan yang utama. 

Untuk acara besar misal Indonesian International Motor Show yang lamanya hanya di kisaran sepuluh hari, seorang usher bisa mengantongi belasan juta rupiah, tergantung shift.

Namun sebenarnya tanpa acara reguler pun, usher dapat mengantongi hingga 20 juta rupiah sebulan (data 2014). Tentu bukan penghasilan yang sedikit di usia mereka yang relatif muda. 

Bonus yang tak kalah penting, para usher ini berkesempatan untuk  berinteraksi dengan banyak orang, sehingga membuka banyak pintu baru, juga jaringan koneksi/networking.

Selain itu, profesi usher seringkali menjadi batu loncatan untuk memasuki ranah hiburan, walaupun  jalan ke arah sana tidak selalu mulus.

Beruntung bila mendapatkan job bintang iklan, namun untuk terjun ke bisnis sinetron atau pertelevisian memerlukan perjuangan panjang dan modal tidak sedikit. (Penulis dan Novelis, Irene Dyah di Jakarta)

BACA JUGA: