Intisari-Online.com – Salah satu pemain dalam industri smartphone sekaligus saingan Apple, Sony menganggap update iPhone terlalu lama.
Ponsel pintar iPhone besutan Apple diperbarui setahun sekali, biasanya pada bulan September setiap tahunnya. Rentang waktu tersebut ternyata dipandang terlalu lama oleh Sony.
Pendapat tersebut dikemukakan oleh Presiden Sony Mobile untuk wilayah Eropa, Pierre Perron, dalam sebuah wawancara dengan The Inquirer di ajang Mobile World Congress 2014 di Barcelona, Spanyol.
Menurut Perron, karena Apple menunggu setahun sebelum merilis iPhone baru, konsumen perusahaan itu tertinggal dalam bidang teknologi ponsel yang seharusnya bisa dinikmati dalam waktu yang lebih singkat.(Baca juga: Mau Beli iPhone 5S? Simak Dulu Plus-Minusnya!)
"Ada siklus di pasaran chipset yang memungkinkan para produsen lebih sering merilis produk baru daripada hanya setahun sekali," ujar Peron. "Pasar ini tumbuh sangat pesat karena tuntutan tinggi konsumen dalam hal entertainment."
Perron mencontohkan produk flagship buatan perusahaannya sendiri, Xperia Z2, yang dilengkapi kapabilitas perekaman video 4K. Kemampuan tersebut tak dimiliki oleh perangkat terdahulu, Xperia Z1, yang dirilis hanya beberapa bulan sebelumnya pada September 2013.
Waktu rilis antar-kedua perangkat yang terbilang singkat itu disebut Perron merupakan bagian dari upaya Sony untuk membawa teknologi terbaik bagi konsumen agar tak membuat mereka kecewa.(Baca juga: iPhone 5C Mencoba Tetap Elite dalam Busana Plastik)
Xperia Z2, masih menurut Perron, menghadirkan kemajuan-kemajuan terkini karena konsumen Sony menghendaki kamera yang lebih baik, berikut layar dan layanan yang lebih baik pula.
Dia menambahkan bahwa siklus pembaruan produk yang terlalu lama juga membuat Apple tertinggal di pasar 4G di Inggris yang tingkat adopsinya sedang mengalami kenaikan.
"Konsumen-konsumen (di Inggris) kini memiliki layanan data yang meghadirkan pengalaman lebih baik, maka kami harus memenuhi permintaan mereka. Apple kehilangan peluang dalam hal ini," imbuh Perron. (Oik Yusuf/kompas.com)