Advertorial

Diduga Jadi Penyebab Tsunami Banten, Gunung Krakatau Ternyata Raih Volcano Cup 2018, Pilihan para Vulkanolog

Mentari DP
,
Ade Sulaeman

Tim Redaksi

Volcano Cup 2018 adalah sebuah ajang kompetisi yang dilakukan para vulkanolog untuk membahas fakta-fakta menarik  gunung api yang ada di dunia.
Volcano Cup 2018 adalah sebuah ajang kompetisi yang dilakukan para vulkanolog untuk membahas fakta-fakta menarik gunung api yang ada di dunia.

Intisari-Online.com – Nama Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perbincangan.

Hal ini terkait tsunami yang menerjang daerah di sekitar Selat Sunda.

Dilansir darikompas.compada Minggu (23/12/2018), BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) menyatakan bahwa ada gelombang yang menerjang sejumlah wilayah di kawasan Banten yang berada di sekitar Selat Sunda.

Dan mereka mengatakan itu adalah tsunami.

Baca Juga : Tsunami Banten: Kisah Mengerikan saat Tsunami Menerjang Pulau Jawa Akibat Letusan Krakatau 1883, Terjepit di Antara Dua Rumah

BMKG menyampaikan kesimpulan tersebut setelah mendapatkan data dari 4 stasiun pengamatan pasang surut di sekitar Selat Sunda pada waktu kejadian tsunami, yaitu Sabtu (22/12/2018) pukul 21.27 WIB.

Hanya saja penyebab pasti dari tsunami yang menerjang Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12/2018) malam masih belum bisa dipastikan.

Namun, ahli tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko, setelah melakukan kaji cepat menduga bahwatsunami tersebut disebabkan oleh erupsi Anak Krakatau.

"Kemungkinan besar terjadiflankfailure/collapseakibat aktivitas Anak Krakatau petang ini dan akhirnya menimbulkan tsunami," katanya, seperti dilansir darikompas.com.

Jika memang benar gelombang tinggi di Banten dan Lampung disebabkan oleh aktivitas Anak Krakatau, rasanya pantas jika masyarakat mulai waspada.

Bicara soal Gunung Krakatau, ada banyak fakta menarik soal gunung berapi yang terletak di Selat Sunda ini.

Salah satunya adalah bahwa Gunung Krakatau menjadi juara dalam Volcano Cup 2018.

Baca Juga : Tsunami Terjang Banten di Akhir 2018: Ini Daftar Bencana Alam yang Diramal akan Terjang Indonesia pada 2019, Menurut BNPB

Apa itu Volcana Cup 2018?

Volcano Cup 2018 adalah sebuah ajang kompetisi yang dilakukan para vulkanolog untuk dapat membahas fakta-fakta menarik dari gunung api yang ada di dunia bersama masyarakat.

Vulkanolog, Dr. Janine Krippner, yang merilis Volcano Cup, mengumumkan Gunung Krakatau menjadi pemenang Volcano Cup 2018 lewat akun Twitternya @janinekrippner, Jumat (2/3/2018).

"Dengan total 27.056 pemungut suara untuk seluruh gunung api sepanjang 2018 #VolcanoCup, aku mengumumkan KRAKATAU, INDONESIA sebagai pemenang!

Terima kasih banyak untuk membantu kesadaran mengenai aktivitas vulkanik, bahaya, risiko, dan kesiapan di seluruh dunia," tulis Krippner.

Total ada 40 gunung api di dunia yang masuk dalam kontes Volcano Cup 2018.

Gunung api tersebut berasal dari Indonesia, Amerika, Selandia Baru, Meksiko, Cile, Jepang, Eslandia, Italia, Filipina, dan Guatemala.

Masing-masing negara memiliki empat gunung yang masuk dalam nominasi dan gunung-gunung tersebut adalah gunung api terkenal.

Baca Juga : (Video) Detik-detik Panggung Seventeen Diterjang Tsunami, Tepat Saat Ifan Minta Penonton Tepuk Tangan

Indonesia sendiri diwakili oleh Gunung Agung, Toba, Merapi, dan Krakatau.

Laiknya pembagian grup di Piala Dunia, maka Volcano Frup juga membagi 40 gunung api dalam delapan grup berbeda.

Kemudian lewat pemungutan suara netizen di Twitter, gunung api ini melewati perempat final, semi final, dan final.

Pada babak final, Gunung Krakatau bersaing dengan Gunung Taupo di Selandia Baru dan berhasil unggul.

Volcano Cup 2018 sendiri bukanlah sebuah kompetisi yang resmi dari institusi vulkanologi internasional.

Akan tetapi kompetisi ini merupakah sebuah kegiatan yang dilakukan para vulkanolog untuk bisa membahas fakta-fakta menarik dari gunung api yang ada di dunia bersama masyarakat.

“Ini adalah salah satu cara untuksharefakta-fakta gunung api, tentunya yang ingin diketahui dan dibahas oleh masyarakat,” kata Devy Kamil Syahbana, Kepala Subbidang Mitigasi Bencana Geologi Wilayah Timur dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) saat dihubungiKompasTravel, Selasa (27/2/2018).

“Jadi nanti gunung mana yang paling banyak di vote masyarakat, maka akan dibahas terus-menerus oleh vulkanolog.” (Silvita Agmasari/Mentari DP)

Baca Juga : Letusan Krakatau 1883 Jadi Tsunami Vulkanik Terbesar, Bukti Bahwa Tsunami Karena Aktivitas Gunung Berapi Memang Sangat Mematikan

Artikel Terkait