ISPA: Bisa Atas, Bisa Bawah

K. Tatik Wardayati

Editor

ISPA: Bisa Atas, Bisa Bawah
ISPA: Bisa Atas, Bisa Bawah

Seorang bapak tergopoh-gopoh menggendong anaknya yang baru berusia tujuh tahun, masuk ke ruang praktik dokter umum. Beberapa saat kemudian, ia kian tergopoh-gopoh setelah dokter memberi tahu, anaknya kena ISPA. "ISPA itu kependekan dari infeksi saluran pernapasan akut, Pak," jelas sang dokter. "Akut? Gawat, kok bisa kronis seperti itu sih, Dok? Tadinya saya pikir, ia cuma pilek biasa," sambung si bapak dengan wajah memelas.

Pak dokter hanya tersenyum. Salah kaprah seperti ini bukan baru pertama kali terjadi di kliniknya. Kata "akut" buat sebagian awam memang berkonotasi menyeramkan. Bahkan kadang disalahartikan sebagai sesuatu yang "kronis". Padahal, kata "akut" itu sendiri artinya "datang mendadak". Kalau seseorang hari ini sehat walafiat, lalu besok pagi mendadak batuk dan panas, itu artinya dia sakit secara akut.

"Kronis" lain lagi. Ia merujuk pada penyakit yang berkembang secara perlahan-lahan, tetapi berjangka waktu panjang. Misalnya, seseorang yang setiap hari batuk-batuk, atau setiap pagi sesak, selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Jadi, akut dan kronis berhubungan dengan waktu datangnya penyakit, tidak selalu berhubungan dengan berat atau parahnya penyakit.

Orang yang menderita flu secara akut belum tentu langsung berpenyakit kronis. Bisa saja penyakit akutnya itu tidak berat. Dengan beristirahat secukupnya, ia akan sembuh. Namun, ada juga penyakit yang datang secara akut, menjadi serangan mematikan. Seorang anak yang sebelumnya tampak sehat, lalu mendadak (akut) panas karena demam berdarah, misalnya, jika terlambat ditolong sakitnya dapat menjadi amat parah.

Di sisi lain, orang yang menderita sakit gula selama bertahun-tahun, setelah diperiksa lebih teliti akhirnya disimpulkan menderita diabetes mellitus kronis. Kalau tidak segera ditangani, bisa makin gawat dan menyebabkan kematian. Namun, ada juga kasus kronis yang tidak berakhir dengan cara mengerikan. Orang yang punya tekanan darah tinggi bertahun-tahun (kronis) misalnya, jika ditangani dengan baik, penyakitnya bakal tetap terkontrol.

Satu lagi salah kaprah soal ISPA. Ia sering dipanjangkan sebagai "infeksi saluran pernapasan atas". Padahal, ISPA sendiri terjemahan dari acute respiratory infection. Ia dianggap sebagai salah satu masalah kesehatan penting di dunia, karena menyebabkan banyak kematian di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Terutama bila infeksi terjadi di saluran napas bawah, infeksi paru yang disebut dengan pneumonia.

Di seluruh dunia, diperkirakan 3,9 juta orang (terutama anak-anak) meninggal setiap tahunnya karena ISPA. Jadi, ISPA dapat terjadi baik di saluran pernapasan atas, misalnya pilek karena flu, dan dapat juga terjadi di saluran pernapasan bawah, misalnya bronkitis atau pneumonia. Kata "infeksi" sendiri aritnya radang, atau masuknya kuman, virus, jamur, atau parasit ke dalam tubuh, sehingga menimbulkan berbagai akibat.

Sementara saluran napas bermula dari mulut dan hidung, lalu bersatu di daerah leher menjadi trakea (tenggorok) yang akan masuk ke paru-paru. Di dalam paru-paru, satu saluran napas trakea itu mula-mula akan bercabang dua, satu ke paru kiri dan satu ke paru kanan. Setelah itu, masing-masing akan bercabang-cabang lagi 23 kali sampai berujung di alveoli, tempat terjadinya pertukaran gas, oksigen (O2) masuk ke pembuluh darah dan karbon dioksida (CO2) dikeluarkan.

Jadi, yang dimaksud dengan saluran napas atas adalah wilayah hidung sampai ke tenggorok, sedangkan saluran napas bawah di paru-paru. Dua-duanya bisa mengalami ISPA lo!

(Sumber: Intisari)