Rumah Tangga yang Harmonis Bikin Panjang Umur

K. Tatik Wardayati

Editor

Pasangan Harmonis Tahan Banting
Pasangan Harmonis Tahan Banting

Intisari-Online.com -Sebagai entitas terkecil dari masyarakat, tak pelak keluarga menjadi kunci pembentukan generasi unggul. Namun, untuk menjalin ikatan keluarga yang harmonis, tidak selalu mudah. Perlu disiapkan juga jurus-jurus jitu agar ikatan perkawinan tahan banting. Apa ancaman yang perlu diwaspadai, apa tanda-tanda awal retaknya relasi suami-istri, dan bagaimana kiat mengatasinya? Perkawinan ternyata memperpanjang usia, lo!

(Akhir Pekan Ini, Memasaklah Bersama Pasangan untuk Menambah Keharmonisan Hubungan)

Secara ilmiah sudah dianalisis dan dapat diramalkan bahwa kehidupan perkawinaan memang bisa memperbaiki kesehatan jiwa dan badan. Soalnya, perkawinan mengubah pola hidup ke arah yang lebih disiplin, lebih tertib, dan teratur. Belum lagi faktor jaminan bahwa pasangan biasanya saling mengurus dan mengingatkan. Irama hidup yang tadinya semau gue "terpaksa" dibuat lebih teratur, karena tenggang rasa pada pasangan.

Dari segi kejiwaan, berbagi kebahagiaan dalam sebuah perkawinan yang harmonis juga menyehatkan. Semacam makanan rohani bagi kesehatan jiwa. Kebahagiaan dalam perkawinan tidak datang sendiri. Harus dikejar, dipertahankan, ditumbuhkan dan diciptakan.

(Orkestra Kehidupan yang Harmonis)

Pentingnya dibangun relasi yang baik antarsuami-istri. Kalau relasi suami-istri baik, relasi dengan anak-anak, lingkungan sekitarnya, bahkan dengan Tuhan pun akan baik. Kunci menuju relasi yang baik adalah komunikasi. Contoh relasi antar suami-istri, ciuman sebelum berpisah untuk bekerja di pagi hari, mengucapkan terima kasih secara nonverbal dengan sentuhan, menonton TV sambil duduk berdampingan, jalan-jalan atau joging berdua, saling menelepon kalau sedang berjauhan, nonton bioskop berdua, makan berdua di restoran, dan lain-lain kegiatan yang membuat akrab relasi suami-istri. Berdoa bersama secara teratur, walaupun tidak setiap hari, pun sudah bermakna, karena tujuannya menghadirkan Tuhan dalam relasi mereka. Yang terakhir, saling memaafkan.

Perkawinan yang didasarkan cinta dan kebersamaan ternyata melahirkan ikatan lahir batin yang membahagiakan. Cinta itu penting, tetapi bukan satu-satunya. Sedangkan kebersamaan baru tercipta bila pasangan berhasil menumbuhkan semangat berkorban dan saling pengertian.

(5 Hal Romantis yang Wajib Dilakukan Istri Jika Ingin Pernikahan Langgeng dan Harmonis)

Gejala Renggangnya Perkawinan

Apakah ikatan perkawinan Anda mulai kendur? Kalau banyak di antara gejala berikut ini mewarnai kehidupan perkawinan Anda, segeralah atasi sumber-sumber penyebabnya kalau tidak ingin bahtera keluarga hancur.

  • Suasana murung dalam perkawinan.
  • Perasaan kecewa, jemu, kosong, dan kesepian dalam relasi dengan pasangan.
  • Cuek terhadap masalah, kesenangan, dan pekerjaan pasangan.
  • Dingin, tak ada keintiman lagi dengan pasangan.
  • Kurangnya perhatian dan saling memberi tanda cinta kasih antara suami dan istri.
  • Jarang membuat rencana dan kegiatan bersama.
  • Komunikasi rutin dan dangkal.
  • Lebih memperhatikan kedudukan dan uang daripada relasi dengan pasangan.
  • Sering bertengkar, termasuk tentang masalah sepele.
  • Saling menghina, menuduh, menyindir, mengkritik.
  • Terus-menerus mencari alasan untuk menjauhkan diri.
  • Menurunnya kemampuan untuk saling mengagumi.
Terlepas dari sikap masing-masing pribadi suami-istri, relasi pasangan juga dipengaruhi oleh situasi dan lingkungan sekitar. Di Asia, ada beberapa masalah sensitif yang potensial mengganggu.

  • Masalah ipar-mertua; tidak adanya kesepakatan dalam soal bantuan keuangan, misalnya. Atau ibu suami "berebut" cinta kasih dengan sang istri.
  • Masalah pengelolaan keuangan. Seyogianya pasangan mengelola keuangan keluarga bersama.
  • Masalah seks. Di banyak kultur dan subkultur Asia, seks masih tabu untuk dibicarakan. Walhasil, bila salah satu pihak tak puas, pihak yang lain tidak mengetahuinya.
  • Masalah karier. Timbul bila istri juga berkarier, dan lebih maju daripada suaminya. Atau suami mengalami PHK sedangkan istri tidak.
Bila suami-istri dapat saling menciptakan situasi dan kondisi tertentu agar kebutuhan batin masing-masing terpenuhi, maka mereka berada di jalur benar untuk membuat rumah mereka menjadi "istana" yang menenteramkan.

(Sumber: Psikologi 1 )

Artikel Terkait