Intisari-Online.com -Ada beberapa tokoh Islam modernis yang pemikirannya turut mewarnai dinamika Islam di Indonesia.
Dua di antaranya adalah Muhammad Abduh dan Rasyid Rida.
Bagaimana persamaan pemikiran dari Muhammad Abduh dengan Rasyid Ridha?
Terkait ide-ide pembaharuan Islam yang dilontarkan kedua tokoh itu, Prof Harun Nasution membahas itu dalam bukunya.
Prof Harun memulai pembahasan dengan membagi sejarah peradaban Islam dalam tiga masa.
Yaitu masa Klasik (650-1250 M), masa Pertengahan (1250-1500 M), dan masa Modern (1800 M - sekarang).
Pada masa itu, terjadi kebangkitan agama Islam bidang ilmu pengetahuan, pendidikan, politik, maupun melawan penjajah.
Usaha untuk memulihkan kembali kekuatan Islam dikenal dengan gerakan modernisasi atau pembaruan yang didorong, setidaknya beberapa faktor.
Salah satunya peran tokoh-tokoh Islam pada masa Modern.
Di antaranya adalah Muhamammad Ali Pasya, Rifa’ah Baidawi Rafi’at at-Tahtawi, Jamaludin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Sultan Mahmud II, Muhammad Iqbal, KH. Ahmad Dahlan, dan KH. Hasyim Asy’ari.
Muhammad Abduh Hasan Khairullah atau yang akrab dikenal dengan Muhammad Abduh merupakan tokoh Islam yang lahir di Mesir.
Disebutkan bahwa dia masih keturunan Umar bin Khatab dari garis ibunya.
Sementara Rasyid Rida lahir di Qalamun, yang tidak jauh dari Kota Tripoli, Lebanon.
Sebagai anak yang rajin dan suka menghabiskan waktunya dengan membaca, Rasyid Rida terpengaruh dengan pemikiran dari Jamaludin al-Afghani dan Muhammad Abduh.
Namun setelah Jamaludin al-Afghani wafat, dia ingin sekali bertemu dengan Muhammad Abduh.
Tujuannya untuk belajar langsung dan ingin mengetahui lebih banyak terkait reformasi Islam.
Pada akhirnya, Rasyid Rida bertemu dengan Muhammad Abduh pada tahun 1897.
Pertemuan itu rupanya menyatukan keduanya. Di mana keduanya memiliki pemikiran yang sama.
Misalnya pada Ridha menerbitkan majalah al-Manar atas persetujuan Abduh.
Tujuan penerbitan majalah al-Manar tersebut adalah untuk menjadi corong bagi gerakan pembaruan Islam dalam memajukan umat Islam dan membebaskan dari belenggu penjajah.
Ya, saat itu keduanya melihat bahwa Islam sedang mengalami kemunduran. Terutama pada abad pertengahan.
Saat itu, lahir aliran-aliran atau paham-paham yang tidak sesuai dengan agama Islam yang murni.
Oleh karenanya, Rida ingin menyingkirkan aliran-aliran atau paham-paham yang tidak sesuai tersebut.
Rida punya alasan.
Menurutnya, umat Islam umumnya memiliki pengalaman agama berdasarkan taklid.
Di mana umat Islam cenderung lebih meminati sesuatu hukum atau fatwa yang sudah baku.
Sebab hal ini sudah dianggap sebagai suatu kebenaran yang mutlak.
Hukum-hukum fiqih yang berkenaan dengan kemasyarakatan tidak boleh dianggap absolut.
Hukum-hukum itu ditetapkan sesuai dengan tempat dan zaman. Jadi, Ridha menganjurkan untuk berijtihad.
Seperti itulah persamaan pemikiran dari Muhammad Abduh dengan Rasyid Rida.
Itulah artikal tentang bagaimana persamaan pemikiran dari Muhammad Abduh dengan Rasyid Ridha.