Editor
Artikel ini akan membahas tentang apa peran pendidik menurut Ki Hadjar Dewantara, semoga bermanfaat untuk para guru dan pembaca sekalian.
---
Intisari hadir di WhatsApp Channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com - Berbicara tentang pendidikan Indonesia tanpa menyebut nama Ki Hadjar Dewantara tentu saja ada yang kurang. Salah satu hal yang paling khas dari dirinya adalah tentang bagaimana penjadi pengajar yang baik.
Artikel ini akan membahas tentang apa peran pendidik menurut Ki Hadjar Dewantara, semoga bermanfaat untuk para guru dan pembaca sekalian.
Secara garis besar, peran pendidik menurut Ki Hadjar Dewantara adalah menuntun tumbuh dan hidupnya kekuatan kodrat yang ada pada anak atau peserta didik.
Ki Hadjar pernah mengatakan, "Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.”
Artinya, peran pendidik adalah memberi arah, bukan mengendalikan sepenuhnya. Guru bertugas membantu anak menemukan dan mengembangkan potensi alami yang dimilikinya, agar tumbuh menjadi pribadi yang utuh, mandiri, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Sistem Among
Yang juga terkenal dari sosok Ki Hadjar Dewantara adalah bagaiaman dia memperkenalkan sistem Among dalam pendidikan Indonesia.
Mengutip buku Seni Berpikir & Bertindak Besar (2020) oleh Miftakhuddin, sistem among Ki Hajar Dewantara merupakan metode yang sesuai untuk pendidikan, karena metode pengajaran dan pendidikan tersebut didasarkan pada asih, asah, dan asuh.
Among berasal dari bahasa Jawa (mong, momong, atau ngemong), yang artinya mengasuh anak dengan penuh pengayoman. Artinya, para guru atau para pengajar adalah seorang pamong, karena mereka bertugas untuk mendidik dan mengajar anak sepanjaang waktu dengan kasih sayang.
Sistem Among sering dikatkan dengan asas yang berbunyi: "tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngraso sung tuladha". Asas ini telah banyak dikenal oleh masyarakat daripada Sistem Among, karena banyak dari anggota masyarakat yang belum memahaminya. Bahwa yang sebenarnya paling dominan dalam Sistem Among adalah semboyan tut wuri handayani (yang di belakang memberikan dorongan), bukan ing madya mangun karsa (yang di tengah membangun semangat) atau pun ing ngarsa sung tuladha (yang di depan memberikan contoh).
Selain itu, tujuan dari Sistem Among adalah membangun anak didik untuk menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa, merdeka lahir dan batin, berbudi luhur, cerdas dan berketrampilan.
Praktik pelaksanaan Sistem Among, setelah anak didik menguasai ilmu, adalah mendorong siswa mampu memanfaatkan ilmunya dalam masyarakat, atas dasar cipta, rasa, dan karsa. Itulah penjelasan mengenai penggagas dan pengertian dari Sistem Among.
Ki Hajar Dewantara adalah tokoh pergerakan yang dikenal keras terhadap Belanda. Pamornya semakin naik ketika pangeran dari Pakualaman ini mendirikan sebuah sekolahyang diberi nama Taman Siswa, yang bertujuan untuk mencerdaskan rakyat pribumi.
Lewat Taman Siswa, Ki Hajar meyakinibahwa pendidikan dan pengetahuan adalah kunci mencapai kemerdekaan. Sebagai penghormatan atas jasa dan perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam bidang pendidikan pada masa penjajahan, tanggal lahirnya pada 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Ki Hajar Dewantara yang dijuluki sebagai Bapak Pendidikan Indonesia juga telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional sejak 28 November 1959.
Ki Hajar Dewantara lahir pada 2 Mei 1889 di Yogyakarta dengan nama Soewardi Soerjaningrat. Ayahnya Soerjaningrat dan Raden Ayu Sandiah. Keluarga Ki Hajar Dewantara masih trah Mataram. Dia adalah cucu GPH Sasraningrat atau KGPAA Paku Alam III. Terlahir sebagai keturunan bangsawan, Ki Hajar Dewantara mendapatkan privilese di dunia pendidikan.
Pendidikan formalnya dimulai di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah dasar untuk anak-anak Eropa. Pada masa itu, tidak semua rakyat pribumi bisa bersekolah. Ki Hajar Dewantara sempat bersekolah di Kweek School (Sekolah Guru) di Yogyakarta, sebelum akhirnya melanjutkan ke School tot Opleiding voor Inlandsche Artsen (STOVIA), atau kerap disebut Sekolah Dokter Jawa, di Jakarta.
Tapi karena masalah kesehatan, Ki Hajar Dewantara tidak dapat menamatkan sekolahnya di STOVIA.
Ki Hajar Dewantara memulai perjalanan kariernya sebagai seorang jurnalis. Dalam menulis, Ki Hajar Dewantara begitu komunikatif dan halus, tetapi di saat yang sama sangat tajam dalam melempar kritik kepada pemerintah kolonial Belanda. Dia menulis untuk beberapa surat kabar, antara lain Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara.
Selain mengkritik pemerintah Belanda melalui tulisan, Ki Hajar Dewantara juga aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui organisasi. Perannya dalam perjuangan bangsa Indonesia dapat ditelusuri melalui organisasi Budi Utomo. Di Budi Utomo, Ki Hajar Dewantara berperan sebagai tokoh propaganda yang bertugas menyadarkan pribumi untuk bersatu agar mencapai kemerdekaan.
Aktif dalam dunia jurnalistik dan organisasi menyadarkannya pada pentingnya nasionalisme, yang membuatnya berakhir sebagai seorang aktivis kemerdekaan. Bersama Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo, Ki Hajar Dewantara mendirikan organisasi bernama Indische Partij (IP) pada 25 Desember 1912.
Itulah artikel tentang apa peran pendidik menurut Ki Hadjar Dewantara, semoga bermanfaat untuk para guru dan pembaca sekalian.