Intisari-Online.com – Seorang professor yang mengajar di kelas psikologi sosial setiap akhir semester selalu memberikan pertanyaan yang unik.
Pertanyaan ini meminta mahasiswa untuk memilih mendapatkan dua poin atau enam poin tambahan ke tugas akhir mereka.
Syaratnya adalah, mereka yang memilih enam poin hanya bisa mendapatkan poin tersebut bila di seluruh kelas tidak lebih dari 10% yang memilih enam poin.
(Baca juga:Mewah di Bagian Depan, Biasa di Bagian Belakang, Orang-orang Menyebutnya Rumah Abu Nawas)
Jika di dalam satu kelas ada lebih dari 10% yang memilih enam poin, maka tak ada seorang pun di kelas yang akan mendapatkan poin.
Pertanyaan ini sebenarnya menjelaskan dilema yang sering terjadi dan dikenal dengan istilah dilema penjara.
Orang dipaksa untuk memilih bisa mendapatkan enam poin untuk diri sendiri atau mendapatkan poin yang lebih sedikit namun adil untuk seluruh kelas.
Rupanya, latihan dilema semacam ini sudah ada sejak 25 tahun lalu. Profesor ini sendiri mendapatkan metode ini dari dosen kuliahnya, profesor di bidang psikologi, Steve Drigotas, lebih dari satu dekade lalu.
Latihan ini sebenarnya mengetes bagaimana kepercayaan sosial kita pada orang-orang asing. Sekilas, pilihan paling aman tentu memilih dua poin karena semua akan mendapatkan poin tersebut.
(Baca juga:Fadli Zon: Sebaiknya Karangan Bunga di Depan Balai Kota Diganjar Rekor MURI)
Walau begitu, sejumlah mahasiswa selalu memilih enam poin. Menurut data, sejak pertanyaan ini diberikan di akhir semester pada tahun 1008 lalu, selalu ada lebih dari 10% mahasiswa yang memilih enam poin.
Hanya sekali saja ada satu kasus di mana orang yang memilih enam poin tidak lebih dari 10%, tepatnya persis 10%.
Sekarang mari kita analisis pilihan ini. Memilih enam poin adalah hal yang ‘rasional’ karena kemungkinan pilihan kita memengaruhi keseluruhan kelas sangatlah kecil.
Namun, jika dilihat secara keseluruhan, pemikiran ini menjadi sangat buruk dan tidak rasional bisa semua orang berpikir seperti itu.
Jika semua orang merasa pilihannya tak akan berdampak besar pada seluruh kelas, maka akan ada terlalu banyak orang (lebih dari 10%) yang memilih enam poin.
Ini adalah representasi dari dunia kita. Kita sebenarnya selalu tahu konsekuensi dari tindakan kita. Jika kita memilih untuk berpikir ‘sedikit saja tak berpengaruh apa-apa’, hasilnya bisa kita lihat sendiri sekarang.
Lihat saja bagaimana kita mengalami masalah sampah di mana-mana, polusi begitu hebat karena manusia, tanah dieksploitasi dengan berlebihan, kekurangn makanan dan minuman, dan sebagainya.
(Baca juga:Dinilai Serakah, Wanita Ini Ceraikan Suaminya 3 Jam Setelah Menikah, Lalu Nikahi Pria Lain di Hari yang Sama)
Ini semua terjadi karena orang-orang berpikir bahwa untuk keuntungannya sendiri, mereka hanyalah bagian yang sangat kecil saja dan tak akan berdampak besar pada dunia keseluruhan.
Untung saja, persentase menunjukkan bahwa setiap semester sektiar 80% mahasiswa memilih dua poin. Ini menunjukkan bahwa mayoritas orang masih memilih kebaikan bersama ketimbang keuntungan sendiri.
Ini merupakan bukti bahwa kebanyakan orang masih menghargai makna kebersamaan. Orang secara umum akan senang bila bisa memberi keuntungan juga untuk orang-orang di sekitarnya.
Persentase 80% ini menunjukkan bahwa kita masih punya harapan untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik.
Jadi, pelajaran apa yang bisa kita ambil dari masalah dilema sederhana ini? Ketika kita membutuhkan kooperasi dengan orang lain, kita bicara tentang etika dan keadilan.
Jika kita ingin orang lain memilih dua poin, tentu kita juga seharusnya melakukan hal yang sama. Ini logis jika diterapkan juga dalam kehidupan sehari-hari.
Jika kita ingin sekolah atau komunitas kita berkembang, kita juga harus memberikan sumbangsih. Jika kita egois, tentu tujuan itu tak akan tercapai, bukan?
Saat kita bisa berpikir seperti ini, maka kita sebenarnya sudah berpikir patriotik. Kita membatasi kemungkinan diri sendiri untuk untung demi kebaikan bersama.
(Baca juga:[Foto] Lagi, Kecelakaan Maut di Jalur Puncak, Kali Ini 12 Orang Meninggal Dunia)
Nah, saat diterapkan untuk sumber daya alam, berarti kita seharusnya mau membatasi penggunaan sumber daya alam dengan bijak demi kebaikan kita bersama dan generasi mendatang.
Sebuah pertanyaan sederhana ini sebenarnya memiliki latar belakang pemikiran yang sangat mendalam.
Kesetiaan pada masyarakat luas dan keadilan adalah dua hal yang membuat kooperasi bisa dilakukan. Jika kita bisa berpikir dan bertindak seperti ini, maka masalah polusi dan lingkungan di dunia akan terselesaikan dengan mudah.
Latihan kecil ini sebenarnya mendemonstrasikan bahwa jika kita di kehidupan nyata juga mau memilih dua poin dan membatasi konsumsi energi berlebih, lingkungan yang sudah rusak bisa terselamatkan.
Menyelamatkan lingkungan hanyalah satu contoh kecil saja. Jika pemikiran ini bisa diterapkan di semua hal mulai dari politik, ekonomi, dan sebagainya, bayangkan betapa banyak manfaat yang bisa kita dapatkan.