Intisari-Online.com - Saling memberi komentar tanpa pernah bertemu, membuat hubungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kerap dianggap berseberangan.
(SBY: Saya Turun Gelanggang, karena Saya Melihat Situasi yang Memprihatinkan)
Benarkah demikian? Menurut peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia Arif Susanto menganggap keduanya memang sudah beberapa kali mengalami gesekan politik. Bahkan kelima gesekan tersebut terjadi dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun.
Berikut ini daftarnya:
1. Tour de Java SBY vs Tour de Hambalang Jokowi
Saat berkeliling Pulau Jawa pada Maret 2016, SBY melontarkan kritik pada pemerintah karena dianggap menghambur-hamburkan anggaran untuk infrastruktur. Jokowi tidak memberikan komentar terkait kritik tersebut.
Namun, Jokowi dianggap “membalas” kritik tersebut dengan cara mengunjungi Kompleks Hambalang yang mangkrak di era kepresidenan SBY dan hingga saat ini kasusnya masih diusut KPK.
2. Dokumen TPF Kasus Munir
Kasus pembunuhan aktivis hak asasi manusia Munir turut memperuncing hubungan Jokowi-SBY. Hal ini bermula saat Komisi Informasi Publik (KIP) meminta agar dokumen tim pencari fakta (TPF) kasus pembunuhan Munir dibuka.
Jawaban Jokowi yang menyatakan tidak memiliki dokumen tesebut segera “dibalas” SBY dengan mengirimkan salinan dokumen TPF. Namun, hingga saat ini Jokowi belum juga membuka kasus tersebut.
3. Aktor Politik Aksi 4/11
Tidak berselang lama setelah demo 4 November 2016 yang berakhir rusuh, Presiden Jokowi menyatakan ada aktor politik yang menggerakan demonstrasi tersebut. Sebagian besar masyarakat menganggap bahwa salah satu aktor politik yang dimaksud adalah SBY.
SBY memang tidak memberikan keterangan apa pun mengenai komentar Jokowi. Namun, sang istri justru memberi komentar “pedas” melalui akun Instagramnya: "10 tahun Pak SBY memimpin negara tidak ada DNA keluarga kami berbuat yang tidak-tidak."
4. Isu Hoax
Banyak beredarnya berita hoax di masa kampanye ini, menurut Arif, turut memanaskan hubungan Jokowi-SBY.
“…isu hoax terutama dipicu oleh cuitannya (tweet atau kicauan) SBY waktu itu, yang sebut seolah ada perkubuan antara istana dan rakyat dan mereka yang lemah pada sisi lain," kata Arif.
5. Penyadapan
Terakhir, terkait isu dugaan penyadapan yang dilontarkan SBY dalam pernyataan kepada awak media, pekan lalu.
Pernyataan itu disampaikan menanggapi pernyataan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama dan kuasa hukumnya pada sidang kasus dugaan penodaan agama.
Saat itu, tim kuasa hukum Ahok menanyakan soal percakapan Ketua MUI Ma'ruf Amin sebagai saksi dengan SBY. Pernyataan kuasa hukum Ahok yang menyebut soal isi percakapan dan jam pembicaraan menyebabkan kecurigaan adanya penyadapan.