Intisari-Online.com – Sekitar 110 juta turis mengunjungi atraksi alam liar di seluruh dunia setiap tahunnya. Namun, tidak semua turis menyadari bahaya yang mereka sebabkan pada habitat hewan. Di antara foto-foto liburan yang menakjubkan, ada pihak-pihak yang menderita.Seperti yang dilaporkan oleh World Animal Protection: sekitar 550 ribu hewan buas menderita di tangan para wisatawan. Untuk itu, World Animal Protection merilis 10 kegiatan terkejam yang melibatkan satwa liar di tempat wisata:
Menunggang gajahAgar bisa memberikan tunggangan gratis kepada para pengunjung, gajah-gajah dipisahkan dari ibunya saat bayi dan dipaksa untuk mengikuti proses latihan yang menyeramkan. Mereka ditempatkan di kandang kecil dan diikat dengan tali atau rantai. Hal itu dilakukan agar gajah-gajah itu mengerti bahwa mereka baru boleh bergerak ketika diperintahkan.
Tentunya, gajah-gajah itu merasakan sakit ketika tali atau tongkat kayu mencambuk mereka demi keseimbangan bagi para penumpang. Hal itu mematahkan semagat gajah sehingga mereka menerima saja manusia yang duduk di atas punggungnya.
Di taman hiburan, gajah-gajah itu bahkan dilarang untuk membangun hubungan sosial dengan sesamanya. Setiap hari, mereka melalui rutinitas yang sama: yaitu menjadi tunggangan para turis. Hal itu membahayakan kesehatan fisik dan psikologis gajah-gajah tersebut karena mereka merasa terkungkung.
Selfie dengan harimauSalah satu dari 10 kegiatan terkejam yang melibatkan satwa liar di tempat wisata adalah selfie dengan harimau. Bayi-bayi harimau dipisahkan dari induknya sehingga mereka bisa dijadikan ‘properti’ untuk berfoto bersama turis. Mereka dipegang dan dipeluk-peluk oleh wisatawan mulai dari jam kunjung dibuka hingga malam hari. Tidak ada waktu bagi mereka untuk berinteraksi dengan ibu mereka.
Berjalan dengan singaSama seperti bayi harimau, bayi singa pun mendapat perlakuan yang sama. Mereka dipisahkan dari ibu mereka untuk mendukung industri pariwisata. Terutama, di Afrika. Turis diperbolehkan untuk menyentuh dan berfoto dengan singa untuk beberapa jam. Bayi-bayi singa itu tidak memiliki kontrol atas dirinya sendiri. Mereka diperintah untuk bersikap baik di depan turis atau mereka akan dipukul ketika mulai menunjukkan sikap ganas.
Ketika bayi-bayi singa itu sudah cukup besar namun masih bisa dikontrol, mereka akan diminta untuk menemani turis berjalan-jalan demi pengalaman berwisata yang tak akan dilupakan. Mereka dilatih untuk berjalan ‘dengan aman’ bersama turis. Hal itu menandakan singa-singa itu sepanjang hidupnya akan terus diperintah manusia dan tidak akan pernah mendapatkan kebebasan meskipun mereka sudah tinggal di alam liar.
Mengunjungi habitat beruangBeruang seharusnya tinggal di ‘lubang’ yang steril tanpa banyak gangguan. Namun, dengan banyaknya turis yang berkunjung, membuat lingkungan mereka jadi ‘terlalu ramai’. Beruang seharusnya hidup menyendiri di alam liar. Jadi, gangguan manusia itu bisa membuat beruang menunjukkan perlawanan dan tidak mungkin membahayakan banyak orang.
Memegang penyuSalah satu penangkaran penyu yang menjadikan hewan itu sebagai atraksi turis ada di Pulau Cayman. Di sana, turis diperbolehkan memegang penyu bahkan memakan dagingnya saat kunjungan wisata. Memegang penyu bisa membuat mereka stres dan akhirnya menurunkan sistem kekebalan tubuh mereka. Dengan begitu, penyu-penyu tersebut akan lebih mudah terserang penyakit. Diketahui, ada sekitar 1300 penyu yang terbunuh di penangkaran akibat infeksi clostridium. (foxnews.com)