Letjen M.T. Haryono, Pahlawan Revolusi dan Diplomat Militer Ulung

Alfa Pratomo,
Moh. Habib Asyhad

Tim Redaksi

M.T. Haryono adalah diplomat militer yang ulung. Pada 1 Oktober 1965 dini hari, dia menjadi satu dari beberapa perwira tinggi Angkatan Darat yang diculik oleh Gerakan 30 September 1965 (Alfa/Intisari)

M.T. Haryono adalah diplomat militer yang ulung. Pada 1 Oktober 1965 dini hari, dia menjadi satu dari beberapa perwira tinggi Angkatan Darat yang diculik oleh Gerakan 30 September 1965.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com - Mas Tirtodarmo Haryono adalah perwira tinggi Angkatan Darat yang pintar. Tak heran jika di masa kecilnya punya cita-cita jadi dokter. Pria kelahiran Surabaya ini juga fasih berbahasa asing.

Letnan Jenderal TNI Anumerta M.T. Haryono tak sekadar perwira militer yang tangguh. Di balik seragam kebesarannya, dia adalah seorang cendekiawan, diplomat ulung yang menguasai berbagai bahasa asing, serta sosok berjiwa hangat yang begitu mencintai keluarganya.

M.T. Haryono lahir di Surabaya pada 20 Januari 1924. Tumbuh di keluarga terpandang, Haryono mendapatkan akses pendidikan berkualitas sejak usia muda.

Dia mengenyam pendidikan dasar hingga menengah di sekolah-sekolah Belanda, sebelum akhirnya melanjutkan ke Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta) pada masa pendudukan Jepang.

Meskipun bercita-cita awal menjadi dokter, panggilan sejarah membawanya ke jalan yang berbeda. Kecerdasan Haryono yang paling menonjol bukanlah di atas meja bedah, melainkan pada kemampuannya menguasai bahasa asing.

Secara otodidak dan tekun, dia menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jerman, hingga Jepang. Keahlian berbahasa dan ketajaman pikirannya ini menjadikannya aset luar biasa bagi Republik Indonesia yang saat itu baru saja memproklamasikan kemerdekaannya.

Baca Juga: Menapaktilasi Rumah di Jl. Borobudur 8, Jejak Pengabdian MT Haryono

Jembatan diplomasi di meja perundingan

Ketika Revolusi Fisik meletus (1945–1949), perjuangan Indonesia tidak hanya ditempuh melalui kontak senjata di medan perang, tetapi juga melalui perundingan di meja diplomasi. Di sinilah M.T. Haryono memainkan peran krusial.

Berkat kemampuannya berbahasa asing, Haryono kerap dipercaya menjadi juru bicara, penterjemah, sekaligus sekretaris delegasi Indonesia dalam berbagai perundingan internasional penting. Seperti pada Perundingan Linggarjati, Perundingan Renville, dan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag.

Dia mampu menerjemahkan ide-ide strategis para pemimpin bangsa seperti Jenderal Soedirman dan Mohammad Hatta ke dalam bahasa diplomasi yang lugas dan disegani pihak Belanda maupun Sekutu. Haryono juga pernah ditugaskan sebagai Atase Militer RI di Belanda, sebuah bukti kepercayaan besar negara terhadap kepemimpinan dan diplomasinya.

Humoris lagi pengasih

Di luar dinas ketentaraan, M.T. Haryono dikenal sebagai pria yang sangat dekat dengan istri dan anak-anaknya. Rekan-rekannya mengingat Haryono sebagai sosok yang cerdas namun rendah hati, ramah, dan memiliki selera humor yang hangat.

Dia sering meluangkan waktu untuk bermain musik atau sekadar berbincang hangat di rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Sifatnya yang tenang dan santun membuat siapa saja merasa nyaman di dekatnya. Namun, di balik keramahtamahan itu, tersimpan komitmen pantang menyerah terhadap kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Deretan penghargaan

Di rumah MT Haryono di jalan Borobudur Jakarta yang saat ini dijadikan sebagai museum, ada deretan bintang jasa diperoleh MT HAryono. Mulai dari Bintang Republik Indonesia Kelas II, Bintang Dharma, Bintang Gerilya, Bintang Sewindu ABRI, Satya Lencana Kesetiaan VIII Tahun, Satya Lencana Kesetiaan XVI Tahun, Satya Lencana Perang Kemerdekaan I, Satya Lencana Perang Kemerdekaan II, Satya Lencana Gerakan Operasi Militer I, Satya Lencana Gerakan Operasi Militer VI, dan Satya Lencana Sapta Marga.

M.T. Haryono ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi dan menjadi Letnan Jendral Anumerta sesuai dengan SK PRESIDEN/PANGTI ABRI/KOTI NO. 110/KOTI/1965.

Baca Juga: Brigjen Katamso, Pahlawan Revolusi dan Janjinya Menjaga Panji Republik

MT Haryono memulai karier militernya sebagai mayor dan menjabat sebagai Kepala Kantor Penghubung Jakarta. Desember 1945, dia dipindahkan ke Sekretariat Keamanan.

Lalu pada Maret 1946, M.T. Haryono ditugaskan sebagai Sekretaris Perundingan dengan Belanda dan Inggris di Jakarta. Tiga bulan kemudian, tepatnya pada Juli 1946, Haryono ditunjuk sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara di Yogyakarta.

Lalu empat bulan kemudian, dia diangkat menjadi Wakil Tetap Kementerian Pertahanan untuk Urusan Gencatan Senjata. Kemudian pada Desember 1948, menjelang Agresi Militer Belanda II, M.T. Haryono diangkat sebagai Kepala Bagian Pendidikan Staf Angkatan Perang merangkap Juru Bicara Staf Angkatan Perang.

Dari Juni hingga November 1949, berkat kemahiran berbahasa asing, MT.Haryono ditugaskan di luar negeri sebagai Sekretaris Bidang Militer dalam Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, lalu diperbantukan ke KSAD untuk pelaksanaan KMB. Dua bulan kemudian, dia diangkat sebagai Atase Militer Indonesia pertama di Belanda, dan pangkatnya dinaikkan menjadi Letnan Kolonel pada Agustus 1951.

Pada 1954, MT Haryono Kembali ke Indonesia setelah masa tugas luar negeri selesai, lalu diperbantukan pada KSAD dan menjabat sebagai Direktur Intendans. Kemudian pada 14 Juli 1955 hingga 1 Juli 1956, dia diangkat menjadi PAMEN pada Inspektorat Infanteri, kemudian kembali diperbantukan pada KSAD.

1 Oktober 1956 hingga 1957 MT Haryono diperbantukan pada Deputy III KSAD dan pada 1957, MT. Haryono mengikuti pendidikan Kelas Senior SSKAD di Bandung.

Selanjutnya pada 1 Desember 1958, M.T. Haryono diangkat sebagai Wakil Direktur CLAD (Corps Intendans AD) merangkap Pejabat Sementara Direktur CLAD. Dia juga ditugaskan dalam Misi Pampasan ke Belanda untuk memeriksa kualitas webbing set, helm baja, obat-obatan, serta proyek Angkatan Darat.

11 Januari 1959 hingga 14 Desember 1959, pangkat MT Haryono naik menjadi Kolonel. Pada 14 Desember 1959, menyerahkan jabatan Direktur Intendans kepada Kolonel Ashari D.

18 Agustus 1962, berdasarkan Keputusan Presiden, pangkatnya naik menjadi Brigadir Jenderal dan diangkat sebagai Inspektur Jenderal Angkatan Darat. Lalu pada 1 Juli 1964, dia mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Mayor Jenderal dengan jabatan sebagai Deputy III Menteri/Panglima Angkatan Darat.

Baca Juga: Gedoran Depok 11 Oktober 1945, Revolusi Sosial di Tepian Jakarta

Malam jahanam 1 Oktober 1965

Dini hari 1 Oktober 1965 menjadi babak akhir perjalanan hidup sang diplomat militer. Suasana tenang di kediamannya di Jalan Prambanan No. 9, Menteng, mendadak pecah ketika rombongan pasukan Pasopati Gerakan 30 September mendobrak masuk.

Ketika para penculik berteriak memanggilnya atas nama perintah Presiden, MT Haryono yang curiga meminta mereka menunggu hingga pagi. Namun, situasi dengan cepat memanas.

Mengetahui keselamatan keluarganya terancam, Haryono mengambil tindakan berani. Ia memerintahkan istri dan anak-anaknya untuk bersembunyi di kamar belakang.

Dalam kegelapan, Haryono berusaha merebut senjata dari salah seorang penyusup. Sayang, rentetan tembakan dilepaskan dalam kegelapan kamar.

M.T. Haryono gugur mempertahankan kehormatan dan prisip perjuangannya. Jasadnya kemudian dibawa dan dimasukkan ke dalam sumur tua di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, sebelum akhirnya ditemukan dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Revolusi serta kenaikan pangkat anumerta menjadi Mayor Jenderal TNI Anumerta. Namanya kini diabadikan menjadi jalan-jalan protokol utama di berbagai kota di Indonesia, termasuk Jalan M.T. Haryono di Jakarta yang selalu padat oleh aktivitas masyarakat.

Kisah M.T. Haryono mengajarkan kita bahwa membela bangsa tak hanya dilakukan dengan letupan senapan, tetapi juga dengan ketajaman otak, diplomasi, serta keteguhan prinsip hingga napas terakhir.

Artikel Terkait