Editor
Ardiansyah adalah korban sodomi dan mutilasi terakhir Babe alias Baekuni. Penemuan jasanya menjadi pintu masuk bagi kepolisian untuk membongkar seluruh rangkaian kasus pembunuhan berentai yang dilakukan oleh pria Magelang itu.
Disusun dari laporan Tabloid NOVA edisi 18-24 Januari 2010
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com - “Malam hari di rumah petak yang kami sewa di Gang Ketut, Cakung, Jakarta Timur, anak-anak sudah tidur berdesakan. Aku memandangi keempat anakku itu. Hanya mereka yang tinggal bersamaku sekarang. Satu anak perempuanku, Tri handayani, beberapa hari lalu pindah ke Padang, tinggal bersama pamannya. Sedangkan Ardiansyah, anak lelakiku, sudah tiada,” ujar Nur Hamidah, ibu Ardiansyah, korban mutilasi Babe alias Baekuni pada Januari 2010 lalu.
Sebagaimana dimuat oleh Tabloid NOVA edisi 18-24 Januari 2010, Nur Hamidah menceritakan penyesalannya karena kurang ketat mengawasi anak keenamnya itu. Dia juga tak bisa membayangkan bagaimana putranya meninggal dengan cara yang begitu tragis.
“Mayatnya terpotong-potong setelah disodomi oleh pria yang kukenal bernama Babe alias Baekuni,” katanya.
Meski begitu, Nur Hamidah menganggap putranya itu sebagai pahlawan. Kematiannya menguak kejahatan yang telah dilakukan oleh Babe selama ini. Ardi, sapaan Ardiansyah, bukanlah korban pertama Babe. Motifnya sama: menyodomi dan membunuh.
“Orang itu kejam. Aku ingin dia dihukum mati. Utang nyawa dibayar nyawa,” lanjut Nur Hamidah.
Kisah sedih itu dimulai Kamis, 7 Januari 2010. Sampai pukul 14.00 WIB Ardi masih di rumah sebelum dia pamitan untuk mengamen – ya, sudah setahun bocah sembilan tahun itu naik-turun angkot satu ke angkot yang lain untuk sekadar menambah uang jajan.
Nur Hamidah terpaksa mengizinkan putranya itu ngamen mengingat kondisi keluarga mereka yang pas-pasan yang tidak memungkinkan anak-anak mendapatkan pendidikan layak. Ardi sendiri cuma bersekolah sampai kelas 1 SD.
Saat dia berangkat, sang ibu menasihatinya agar hati-hati. Biasanya kalau mengamen, Ardi tidak pernah berlama-lama. Setelah dapat uang jajan, biasanya dapat Rp5-7 ribu, dia sudah pulang.
Ketika Magrib tiba, dia belum juga pulang. Nur Hamidah mulai gelisah dan dia pun mencarinya di Pulogadung Trade Center (PTC) di Jalan Bekasi Raya, tempat anak-anak pengamen biasa kumpul.
Di sana, dia menemui Babe, pria yang dikenal dekat dengan anak-anak pengamen. Termasuk Ardi.
“Lihat Ardi, Be?” tanya Nur Hamidah pada Babe yang sedang berjualan asongan di sana. Babe mengaku tidak tahu.
Dia langsung pulang, berharap Ardi sudah sampai rumah. Ternyata sampai malam, Ardi belum juga datang. Malam itu Nur kembali mencarinya. Kali ini ke rumah babe di kawasan Pulogadung.
Entah kenapa, hati kecil Nur mengatakan bahwa Ardi ada di sana. Apalagi Ardi tak pernah main ke rumah lain kecuali di tempat kontrakan Babe itu.
Tapi lagi-lagi Babe mengaku tidak tahu. Kembali Nur pulang dengan penuh rasa cemas.
Sampai akhirnya keesokan harinya Nur mendengar kabar menggemparkan yaitu ditemukannya potongan tubuh bocah dalam kardus di dekat proyek Banjir Kanal Timur. Dia masih mencoba tenang.
Apalagi, kabarnya masing simpang-siur. Ada yang bilang, itu jasad anak lak-laki, ada juga yang bilang perempuan. Usia korban pun disebut berbeda-beda.
Dengan perasaan cemas, Nur Hamidah dan suaminya, Indra Arlen, melapor ke kantor polisi. Saat itu, kasus ini masih ditangani Polsek Cakung, potongan tubuh itu pun sudah difoto.
Nur Hamidah tercekat ketika tahu ada bekas luka di tangan kanan di foto itu. Dia hafal betul itulah ciri-ciri tangan Ardi. Di tangannya memang ada bekas luka akibat jatuh ketika belajar naik sepeda. Yang semakin menguatkan keyakinan Nur, pusar mayat itu bodong, sesuai betul dengan ciri Ardi.
Nur Hamidah langsung lemas dan menangis keras. Dia yakin, itu potongan jenazah Ardi.
Dari ditemukannya identitas Ardi, pelaku pembunuhan belum terkuak. Karena Ardi dan juga anak-anak pengamen dekat dengan Babe, polisi tentu saja mencurigai did.
Ternyata betul, setelah ditangkap, Babe mengakui perbuatannya dan menunjukkan bagian tubuh lain yang dibuang. Kepala Ardi ditemukan di bawah jembatan di Jalan Raya Bekasi.
Meski semua bagian tubuh Ardi sudah ditemukan tapi jasadnya masih di RS Polri dan belum bisa dimakamkan. Kata polisi, masih menunggu proses pemeriksaan DNA selesai.
Nur Hamidah sendiri ingin agar Ardi secepatnya dimakamkan agar jasadnya tenang. Dibantu tetangga dan kerabat, Kamis malam, 14 Januari 2010, dia menyelenggarakan upacara 7 hari meninggalnya Ardi, dihitung sejak jasadnya ditemukan.
Paling disayang
Menurut Nur Hamidah, sejak kecil, Ardi, yang berulang tahun ke-9 pada 23 Desember 2009, sudah berbeda dari saudara-saudaranya. Belum genap umur setahun, dia masuk rumah sakit karena ada flek pernapasan.
Dokter memberi infus, eh dia malah mencabut infusnya sampai tangannya berdarah. “Dia sungguh cerdik dan nakal,” kata Nur Hamidah.
Sayang sekali, dia tak bisa sekolah seperti kakak-kakaknya karena kondisi keluarga Nur Hamidah dan Indra Arlen. Meski begitu, dia tetap tumbuh seperti anak lain: belajar sepeda dan hobi main bola.
Benar, menurut pengakuan Nur, putranya itu senang sekali bermain sepakbola meski sudah dimarahi ibunya. “Sering dia dijuluki Jakmania, itu lho suporter sepakbola pendukung Persija. Begitulah, sampai setahun yang lalu, dia mau ngamen, mengikuti kakaknya, Tri Handayani, yang sudah lebih dulu mengamen di angkutan umum,” lanjut Nur.
Menurut Nur, dua anaknya itu memang tahu persis kesulitan orangtuanya. Penghasilan Indra yang kerja serabutan hanya Rp1 juta sebulan. Itu pun gaji kotor, masih dipotong uang transportasi.
Tentu sangat kurang untuk mencukupi kebutuhan keluarga besarnya. Untuk bayar sewa kontrak kamar plus makan sehari-hari saja tidak cukup.
Nah, hasil Tri mengamen, cukup membantu keluarga. Kalau pas bagus, dia bisa dapat Rp50 ribu. Biasanya, Rp35 ribu diberikan untuk ibunya, sisanya dipakai untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Dari penghasilan Tri itulah keluarga Indra dan Nur bisa makan. “Mungkin melihat kegiatan kakaknya, Ardi jadi ikut-ikutan ngamen,” aku Nur.
Karena itulah dia tak bisa melarangnya. Hanya saja Nur selalu meminta agar Ardi selalu hati-hati di jalan. Apalagi saat naik atau turun angkutan umum.
Dari cerita Ardi dan Tri, Nur tahu, Ardi ngamen sampai Pulogadung. Bahkan lebih jauh lagi.
“Aku melarangnya. Bolehlah dia ngamen, tapi jangan jauh-jauh. Terkadang aku waswas saat dia ngamen. Sesekali aku menengoknya ke tempat dia mangkal,” cerita Nur.
Dari cerita anak-anak pula, Nur mengenal Babe. Di mata anak-anak pengamen, Babe dikenal sangat murah hati. Babe juga sayang pada Ardi. Malah, di antara anak-anak pengamen, boleh dibilang Ardi jadi anak yang paling disayang, menurut Nur.
“Ardi memang paling rapi di antara teman-temannya. Dia juga tidak banyak ulah,” tambahnya.
Sering, sesampainya di rumah, kata Nur, Ardi sudah bersih dan rapi. Katanya, dia dimandikan oleh Babe. Bajunya juga diganti yang bersih.
Dulu, saat Ardi beberapa kali menginap di rumah Babe, Nur Hamidah tidak cemas. Toh, selama itu Ardi baik-baik saja. Bahkan, dia sempat berterima kasih kepada Babe yang ikut merawat anakku.
“Tolong titip Ardi, ya, Pak,” ujarnya saat bertemu Babe. Nur Hamidah merasa Babe sudah menganggap Ardi seperti anak sendiri.
Karena itulah dia tak menyangka bahwa putra kesayangannya itu menjadi korban kejahatan Babe. Selama ini, Nur mengenal Babe sebagai orang yang baik, orang yang kalem.
Sering, lanjut Nur, di kamar kontrakannya dia memasak buat anak-anak. Ternyata semua itu untuk menutupi kejahatannya. “Maunya, sih, dia dihukum mati. Kalau tidak, akan berbahaya bagi anak-anak kecil lainnya. Andai dia bebas, ada kemungkinan dia mengulangi perbuatannya,” Nur berharap.
Di luar itu, Nur sejujurnya merasa bersalah karena tidak bisa memberi perhatian lebih pada putranya itu.
Ardi yang merupakan anak ke-4 punya dua adik lagi. Yang paling kecil bernama Aisyah. Ardi juga sangat menyayanginya, sering menggendongnya, dan karena itulah Aisyah selalu mencari-cari saat abangnya itu keluar rumah untuk ngamen.
Sepulang ngamen, Ardi biasanya akan menyisihkan uang seribu perak buat jajan Aisyah. Selebihnya, dia gunakan untuk main PS dan jajan. Karena itulah dia jarang makan di rumah.
Babe pecahkan rekor Robot Gedhek
Total jenderal, Baekuni alias Babe telah menghabisi nyawa tujuh anak. Semua korban dimutilasi, kecuali Aris, bocah malang yang jasadnya ditemukan di pinggir Sungai Ciwaru, Kuningan, Jawa Barat.
Korban pria kelahiran Magelang tahun 1960 itu di antaranya adalah Ardiansyah, Rio, Adi, Arif, Yusuf Maulana, Riki, dan Aris. Semuanya "anak asuh" Babe yang kerap dikumpulkan di rumah kontrakannya di bilangan Pulogadung, Jakarta Timur. Menurut keterangan Kabid Humas Polda Metro Jaya saat itu, Kombes Boy Rafli Amar, di rumah itu jugalah ada enam anak dihabisi.
Pengakuan Babe yang mengejutkan itu, tak lepas dari bantuan para psikolog UI. Selain memeriksa kejiwaan pelaku, mereka juga mampu menggali pengakuan tersangka. Yang jelas, tiap kali "anak asuhnya" menolak disodomi, Babe membunuh dengan cara mencekik dengan tali lalu dimutilasi.
Kasus Babe mengingatkan kita pada Siswanto alias Robot Gedhek yang terbukti membunuh dan menyodomi enam bocah jalanan pada tahun 2006. Modus yang dilakukan sangat mirip.
Menurut pengacara Babe saat itu, Rangga Beri Rikuser, kliennya punya riwayat kehidupan kelam. Dia mengaku pernah disodomi saat menjadi anak jalanan beberapa tahun silam.
“Kehidupannya juga sangat memprihatinkan. Dia mengontrak kamar sangat sederhana. Luasnya enggak lebih dari kamar mandi. Kehidupan keluarganya di kampung juga memprihatinkan,” tambah Rangga ketika itu.