Tim Redaksi
Tanah Sunda juga punya tokoh emansipasi perempuan. Namanya Dewi Sartika. Sepanjang hidupnya, Dewi Sartika mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-online.com - Sejarah Indonesia mencatat, ada sesosok pahlawan wanita Indonesia yang lahir di Tanah Pasundan. Sosok itu adalah Dewi Sartika, pahlawan nasional yang mendedikasikan seluruh hidupnya demi memperjuangkan hak pendidikan bagi perempuan.
Dewi Sartika lahir dari keluarga bangsawan (menak) Sunda pada 4 Desember 1884. Dia tumbuh dengan kesadaran bahwa perempuan pada masa kolonial sangat terkekang dan tidak mendapatkan akses pendidikan yang layak.
Pada 1904, Dewi Sartika mendirikan Sekolah Istri di pendopo Kabupaten Bandung. Ketika itu usianya yang masih sangat muda, dia mengajarkan kaum perempuan membaca, menulis, berhitung, pendidikan agama, hingga keterampilan praktis seperti menjahit dan memasak.
Sekolah Istri berkembang dengan baik dan hingga diduplikasi didirikan di berbagai wilayah Jawa Barat. Sekolah Istri kemudian berganti nama menjadi Sakola Raden Dewi.
Saat terjadi Agresi Militer Belanda, Dewi Sartika ikut mengungsi ke Tasikmalaya. Dia akhirnya meninggal dunia di Cineam, sebuah wilayah kecamatan yang jaraknya sekitar 20 km dari pusat kota Tasikmalaya yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Ciamis.
Dewi Sartika meninggal dunia pada 11 September 1947. Sang Pahlawan sempat dimakamkan secara sederhana di Cineam, Tasikmalaya, sebelum akhirnya dipindahkan ke Bandung.
Pada 30 Mei 2026 lalu, Intisari sempat melayat makam Dewi Sartika. Lokasinya berada di Kompleks Pemakaman Bupati Bandung, yang berada di Jalan Karang Anyar, Kecamatan Astoria, Kota Bandung, Jawa Barat.
Tentu saja ini bukan kompleks pemakaman umum, melainkan situs pemakaman bersejarah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir para bupati Bandung terdahulu beserta keluarga dan keturunannya. Berada di tengah Kota Bandung, kompleks makam ini menawarkan suasana yang tenang, asri, dan sarat akan nuansa sakral.
Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas Kota Bandung yang padat di akhir pekan, kaki melangkah ke sebuah lorong waktu yang sunyi di kawasan Jalan Karanganyar, Kecamatan Astanaanyar. Berada tak jauh dari kawasan sibuk Kepatihan dan Pasar Baru, sebuah gerbang tua berdiri kokoh, mengantar langkah kaki masuk ke dalam kompleks Pemakaman Bupati Bandung.
Di sinilah, di antara pepohonan rindang dan nisan-nisan tua para penguasa tatar Sunda masa lalu, bersemayam seorang perempuan agung yang mengubah jalannya sejarah pendidikan Indonesia, Raden Dewi Sartika. Berbeda dengan hiruk-pikuk Kota Bandung, suasana di dalam kompleks pemakaman terasa teduh.
Langkah kaki di atas paving blok membawa kita pada sebuah makam yang terlihat mencolok. Wangi bunga melati dan kamboja tercium samar di udara.
Di nisan itu terukir nama sang pahlawan nasional, sebuah tempat peristirahatan terakhir yang damai bagi seorang wanita yang sepanjang hidupnya enggan berdiam diri melihat kaumnya tertinggal.
Dewi Sartika bisa dimakamkan di kompleks pemakanan tersebut karena dia adalah istri dari Raden Kanduruan Agah Suriawinata, seorang tokoh pendidikan yang juga memiliki garis keturunan bangsawan. Menurut informasi yang kami rangkum, pemindahan makam Dewi Sartika dari Cineam dilakukan pada 1950.
Pihak keluarga dan pemerintah memutuskan untuk memindahkan kerangka jenazah Dewi Sartika ke Kompleks Pemakaman Bupati Bandung agar dapat bersanding dengan suaminya yang telah wafat lebih dulu pada tahun 1939. Kini, makam dirawat dengan sangat baik sebagai salah satu Situs Cagar Budaya.
Makam Dewi Sartika berada satu area dengan makam suaminya, R.A.A. Martanagara, dan tokoh menak Bandung lainnya. Batu nisan makamnya tampak bersahaja tapi sederhana, sering kali dihiasi bunga-bunga segar dari para peziarah yang datang untuk memberikan penghormatan.
Sebagai informasi, kompleks pemakaman bupati Bandung ini dikelilingi pohon-pohon rindang yang kokoh, memberikan kesan teduh dan damai bagi siapa saja yang datang.
Lawatan ke makam Dewi Sartika punya makna lebih dari sekadar aktivitas wisata sejarah (dark tourism). Ia juga refleksi batin.
Setiap tahun, terutama menjelang Hari Kartini, Hari Ibu, atau Hari Pahlawan, makam ini ramai dikunjungi oleh peziarah yang didominasi kaum wanita dan aktivis organisasi wanita. Ada juga peziarah dari kaum pelajar dan mahasiswa yang ingin meneladani semangat belajar sang pahlawan, juga masyarakat umum yang mengagumi kegigihan sang pejuang pendidikan.
Dengan mengujungi makam Dewi Sartika, generasi muda diingatkan kembali bahwa ruang kelas yang nyaman dan kesetaraan hak pendidikan yang dinikmati perempuan hari ini adalah buah dari air mata, keringat, dan perjuangan seorang Dewi Sartika di masa lampau. Jika Anda kebetulan sedang berada di Kota Kembang, dan ingin berziarah, datang saja ke makam Dewi Sartika, yang jaraknya dari Alun-alun Bandung tak terlalu jauh.
Saat mengunjungi kompleks makam ini, disarankan untuk menjaga sopan santun, berpakaian rapi, dan meminta izin kepada juru kunci (kuncen) yang menjaga kompleks pemakaman tersebut. Tak ada bangsa besar yang tak meneledani dan menghargai jasa-jasa pahlawannya!