Editor
Sejarah Ki Hajar Dewantara adalah sejarawah perlawanan seorang pria berhati lembut bertekat kuat. Pamfletnya pernah bikin Belanda murka.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com - Sejarah Ki Hajar Dewantara adalah sejarah perlawanan seorang berhati lembut tapi punya sikap laiknya batu karang atau batu cadas. Pamflet yang dia tulis pernah membuat pemerintah kolonial kebakaran jenggot dan dia pun dibuang ke Negeri Belanda.
Dialah Suwardi Suryaningrat yang oleh orang-orang terdekatnya dikenal sebagai Ki Hajar, Ki Hajar Dewantara.
Lahir Kamis Legi, 2 Mei 1889 di Yogyakarta, oleh orangtuanya, pasutri R.A. Sandiah dan K.P.A. Suryaningrat, dia diberi nama R.M. Suwardi.
Pangeran Suryaningrat, yang masih keturunan langsung Sultan Hamengku Buwono II, memang mendamba anak lelaki. Namun kondisi fisik bayi dengan berat badan kurang dari 3 kg, perut buncit, dan suara tangisnya yang terlalu lembut untuk bayi lelaki, agak mengecewakannya.
Untuk mengobati kekecewaannya, pangeran yang humoris ini lantas memberikan paraban (nama olok-olok) kepada sang anak, Jemblung (buncit). Paraban Suwardi menjadi komplet setelah sahabat Pangeran Suryaningrat, yakni Kyai Soleman, pengasuh pondok pesantren di Prambanan, memberi tambahan nama Trunogati.
Rupanya, mata hati Kyai Soleman lebih waskita membaca aura bocah ini. Menurut dia, tangis Suwardi yang lembut-justru nanti akan didengar orang di seluruh negeri. Sementara perut buncitnya memberi firasat kelak dia akan menyerap dan mencerna ilmu yang banyak.
Bahkan setelah dewasa dia akan menjadi orang penting. (Truno = pemuda; wigati= penting). Yang jelas, oleh kalangan terdekatnya Suwardi kecil kerap dipanggil dengan julukan Denmas Jemblung.
Barangkali keprihatinan yang dialami di masa kecil saat ayahnya dilanda kesulitan hidup, justru membuat Suwardi tumbuh dengan watak dan kepribadian seperti yang dikenal orang di kemudian hari. Bagaimana persisnya kepribadian Suwardi, rekan setianya dalam perjuangan kemerdekaan yakni Ernest Francois Eugene Douwes Dekker melukiskannya sebagai berikut,
"... di dalam tubuhnya yang lemah itu bersemayamlah daya kemauan keras yang selalu dimenangkannya setiap kali ia memperjuangkan sesuatu...." (Harumi Wanasita Setyabudhy, 70 Jaar Konsekwen, Uitgave, N.V. Nix & Co, Bandung, 1949).
Pergantian nama dari R.M. (Raden Mas) Suwardi, menjadi Suwardi Suryaningrat (tanpa embel-embel R.M.) menyiratkan proses pengendapan dan peningkatan kesadaran hidup seorang bangsawan yang sejak kecil merakyat. Yang unik justru bagaimana dia mengganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Tak banyak yang tahu, ini terjadi secara kebetulan.
Sebelum Tamansiswa berdiri, Suwardi membentuk semacam kelompok diskusi yang beranggotakan tokoh-tokoh politik, budayawan, dan filsuf. Forum diskusi Selasa Kliwonan (karena diadakan setiap hari Selasa Kliwon) ini dipimpin Ki Ageng Suryomentaram, adik Sri Sultan Hamengku Buwono VII.
Rupanya, kemampuan Suwardi dalam hal ilmu keguruan dan pendidikan amat menonjol. Suatu hari R.M. Sutatmo Suryakusumo (anggota Volksraad/Boedi Oetomo) yang memimpin diskusi dengan spontan mengubah kebiasaannya memanggil Suwardi yang kebetulan adik sepupunya, tak lagi dengan sebutan Dimas Suwardi melainkan dengan sebutan Ki Ajar.
Cara ini kemudian diikuti oleh teman-teman lainnya. Padahal ketika itu Suwardi menerima julukan tersebut sebagai kelakar semata.
Apakah ini merupakan sebuah pengakuan atas kebenaran pengakuan, tak ada yang tahu. Yang jelas enam tahun kemudian tepatnya tanggal 23 Februari 1928, Suwardi secara resmi berganti nama Ki Hajar Dewantara.
Bernard H.M. Vlekke, penulis buku Geschiedenis van de Indischen Archipel (JJ Romein & Zonen - Uitgevers, Roermond-Maaseik, 1947), memberi interpretasi nama itu: seorang guru yang berhasil menanamkan paham sinkretisme kepercayaan-kepercayaan di Jawa.
Keras tapi tidak kasar
Inilah ciri khas kepribadian Ki Hajar yang diakui rekan-rekan sejawatnya. Kras maar nooit grof, keras namun tidak pernah kasar. Kesetiaan pada sikapnya ini terlihat jelas pada setiap kiprahnya.
Setamatnya dari ELS (SD Eropa) tahun 1910, Suwardi sempat bekerja di pabrik gula Kalibagor, Banyumas, sambil menulis di beberapa surat kabar, misalnya Sedyatama. Tahun 1912 dipanggil ke Bandung oleh sahabatnya, E.F.E. Douwes Dekker, untuk membantu penerbitan surat kabar de Express.
Bersama dengan Douwes Dekker dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, kemudian mendirikan Partai Hindia atau Indische Partij (IP). Berbeda dengan orsospol sebelumnya yang masih berkutat pada perjuangan kelompok, IP bertujuan menyatukan rakyat untuk mencapai Hindia bebas dari Nederland alias merdeka. Saat itu bisa dikatakan IP merupakan partai dengan tujuan paling radikal
Tak pelak, kemunculan IP membuat pemerintahan Belanda gusar. Benarlah, tak lama kemudian partai ini dibreidel.
Suwardi tak putus asa. Kritik pedas kepada penjajah kembali dilancarkan lewat artikelnya dalam de Express November 1923, berjudul "Als ik eens Nederlander was" (Seandainya saya orang Belanda). Dengan sindiran tajam tulisan itu menyatakan rasa malunya merayakan hari kemerdekaan negerinya dengan memungut uang dari rakyat Hindia yang terjajah.
Suwardi bahkan mengirim telegram kepada Ratu Belanda berisi usulan untuk mencabut pasal 11 RR (Regeringsreglement - UU Pemerintahan Negeri Jajahan) yang melarang organisasi politik di Hindia-Belanda. Akibat tulisan tersebut Ki Hajar harus membayar mahal dibuang ke Belanda Oktober 1914.
Alhasil, pemuda yang baru saja mempersunting R.A. Sutartinah ini harus berbulan madu di pengasingan.
Tak hanya dalam bersikap. Secara fisik pun Ki Hajar memiliki keberanian yang mencengangkan.
Ini terkuak dalam peristiwa rapat umum di Lapangan Ikada (sekarang Monas) tanggal 19 September 1945. Saat itu pemerintah RI menghadapi tantangan, apakah Presiden dan jajaran kabinetnya berani menembus kepungan senjata tentara Jepang di sekeliling lapangan.
Sidang kabinet di Pejambon sempat ribut. Sebagian menuntut Presiden, Wapres, dan segenap anggota kabinet hadir di Lapangan Ikada agar tidak mengecewakan rakyat. Yang lain menolaknya dengan pertimbangan keselamatan.
Akhirnya setelah melalui perundingan alot, semua sepakat untuk hadir. Yang kemudian menjadi pertanyaan, siapa menteri yang harus membuka jalan terlebih dahulu memasuki Lapangan Ikada, sebelum rombongan Presiden, mengingat ada kemungkinan Jepang membantai rombongan menteri yang pertama masuk Ikada untuk mencegah keberhasilan Pemerintah RI menyatakan eksistensinya kepada rakyat dan dunia internasional.
Pada saat kritis inilah sebagai Menteri Pengajaran Ki Hajar unjuk keberanian. Bersama Menlu Mr. Achmad Subarjo, Mensos Mr. Iwa Kusumasumantri, dia menyediakan tubuhnya menjadi tameng.
Padahal usia bapak enam anak itu bisa dibilang tak lagi muda. Ketika diingatkan oleh Sesneg Abdul Gafur Pringgodigdo, "Ingat, Ki Hajar ‘kan sudah tua." Ki Hajar menjawab enteng, "Justru karena itulah, mati pun tidak mengapa."
Tak sekali itu saja Ki Hajar menunjukkan keberaniannya. Desember 1948, dia berani perang mulut dengan tentara Belanda. Pagi itu satu peleton tentara Belanda dengan sikap garang melakukan sweeping di asrama para Pamong (guru) Tamansiswa, Yogyakarta.
Sebelum rombongan tentara itu berlalu, Ibu Dalimo, salah seorang istri pamong, tergopoh-gopoh mendatangi Ki Hajar. Dia melaporkan, seorang serdadu Belanda merampas kalung emasnya. Secara tak terduga, Ki Hajar menghardik komandan tentara tersebut dan melarang mereka meninggalkan tempat.
Perang mulut antara Ki Hajar dengan sang komandan dalam bahasa Belanda ini berlangsung sengit. Akhirnya, kalung emas pun berhasil kembali ke pemiliknya.
Tentu, mereka yang tidak mengenal pribadi Ki Hajar secara utuh akan terkaget-kaget menyaksikan adegan ini. Betapa tidak? Sosok pria kurus berhati lembut yang tidak pernah memaksakan kehendaknya terhadap orang lain, ternyata bisa marah meledak-ledak.
Orang sering lupa, semboyan tut-wuri handayani adalah bagian dari kesatuan yang lengkapnya berbunyi, ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri, handayani. Di depan memberi teladan, di tengah menghidupkan gairah, di belakang memberi pengarahan.
Mungkin, peristiwa di atas sekaligus bisa memberi jawaban, apakah yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin kalau anak buah yang berada dalam pengayomannya terancam bahaya?