Ki Hajar Dewantara, Batu Cadas yang Lembut Laiknya Batara Kresna

Moh. Habib Asyhad

Editor

Ki Hajar Dewantara (memegang tongkat) bersama Bung Karno. Ki Hajar, yang namanya asli Suwardi Suryaningrat, adalah sosok berhati lembut tapi berwatak keras, terutama kepada Belanda (INTISARI)

Ki Hajar Dewantara, namanya asli Suwardi Suryaningrat, adalah sosok berhati lembut tapi berwatak keras, terutama kepada Belanda.

Pernah tayang di rubrik Jejak Langkah Majalah Intisari edisi Mei 2000 dengan judul "Ki Hajar Dewantara: Batu Cadas Yang Lembut" | Penulis: G.Sujayanto/Djati S.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com - Jejak langkahnya sebagai pejuang gigih, politisi andal, dan guru besar bangsa sudah diakui sejarah. Namun, sebagai pribadi yang keras tapi lembut, ayah yang demokratis, peminat wayang, dan penggemar barang bekas, nyaris tak banyak orang tahu; seperti halnya nama Ki Hajar Dewantara yang awalnya ternyata sekadar kelakar.

Sri Batara Kresna dalam lakon "Kresna Muksa" mengatakan, hidup ibarat sebuah perjalanan dan pendakian. Oleh Ki Hajar Dewantara ditambah dengan pengertian, hidup dan mati seperti halnya sukses dan kegagalan. Tak perlu ditakuti namun harus dimengerti, supaya tak selamanya kita dikuasai dan menjadi budaknya. Setelah mengerti hakikat keduanya, kita akan menguasai dan menjadi tuan atas kenyataan yang ada.

Dengan filosofi itulah Ki Hajar menjadikan hidupnya sebagai litani perjuangan penuh cita-cita sampai di senja hari tua. Bahkan kontrak sosialnya dengan bangsanya nyaris tak menyisakan ruang bagi kepentingan pribadi dan keluarganya.

Ini dibenarkan oleh salah seorang putranya yakni Bambang Sokawati dalam bukunya Ki Hajar Dewantara, Ayahku (Pustaka Sinar Harapan, 1989). Dalam buku tersebut terungkap beragam pengalaman dan pertaruhan yang harus dibayar oleh anak-anak dan istrinya dalam mendampingi perjuangan Ki Hajar.

Semasa hidupnya, Ki Hajar melarang anak-anaknya menulis biografinya karena nanti dianggap tidak akan jujur dan subyektif. Bagi Ki Hajar, setiap orang berhak berbeda pendirian, sikap, dan penilaian dengan yang lain tentang dirinya.

Padepokan Tamansiswa yang didirikan 3 Juli 1922 dan terus diperjuangkan dari ancaman pemerintah kolonial, akhirnya juga diwariskan kepada generasi penerusnya untuk dapat dimanfaatkan siapa pun yang memerlukan. Sejak 2 Mei 1970, rumah tinggalnya di Yogyakarta dihibahkan sebagai Museum Dewantara Kirti Griya.

Keyakinan atas nilai demokrasi, membuat Ki Hajar menentang usaha pengkultusan dirinya. Dalam surat kepada Gubernur Jenderal de Jonge tertanggal 26 oktober 1932, dia sempat menuliskan tentang Tamansiswa sebagai berikut: Gambar saya misalnya, tak boleh dipajang di mana pun. Pertama, batin saya tak menghendaki penghormatan atas gambar saya. Darinya akan timbul dampak yang tidak baik.

Sikap ini pun tercermin dalam pesan kepada anak dan istrinya untuk tidak menaburkan bunga kantil di atas pusaranya. Bukan lantaran tak suka, melainkan karena Ki Hajar tidak sependapat dengan arti simbolik nama bunga tersebut.

Dalam bahasa Jawa, kanthil berarti lengket atau nempel. Ada unsur ketergantungan atau ketidakmandirian. Nah, larangan itu sebenarnya bermakna pada keinginan Ki Hajar menanamkan prinsip hidup mandiri. Agar tidak terjadi kultus individu terhadap dirinya.

Aku hanya orang biasa yang bekerja untuk bangsa Indonesia dengan cara Indonesia. Namun yang penting untuk kalian yakini, sebagai pejuang sampai menjelang ajal, sesaat pun aku tak pernah mengkhianati Tanah Air dan bangsaku, lahir maupun batin. Aku tidak pernah mengorup kekayaan negara. Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah menyematkan setiap langkah perjuanganku.

Begitu ujar Ki Hajar kepada para putranya untuk menjelaskan kepada masyarakat siapa dirinya sebenarnya.

Dijuluki Denmas Jemblung

Lahir Kamis Legi, 2 Mei 1889 di Yogyakarta, oleh orangtuanya, pasutri R.A. Sandiah dan K.P.A. Suryaningrat, dia diberi nama R.M. Suwardi.

Pangeran Suryaningrat, yang masih keturunan langsung Sultan Hamengku Buwono II, memang mendamba anak lelaki. Namun kondisi fisik bayi dengan berat badan kurang dari 3 kg, perut buncit, dan suara tangisnya yang terlalu lembut untuk bayi lelaki, agak mengecewakannya.

Untuk mengobati kekecewaannya, Pangeran yang humoris ini lantas memberikan paraban (nama olok-olok) kepada sang anak, Jemblung (buncit). Paraban Suwardi menjadi komplet setelah sahabat Pangeran Suryaningrat, yakni Kyai Soleman, pengasuh pondok pesantren di Prambanan, memberi tambahan nama Trunogati.

Rupanya, mata hati Kyai Soleman lebih waskita membaca aura bocah ini. Menurut dia, tangis Suwardi yang lembut-justru nanti akan didengar orang di seluruh negeri. Sementara perut buncitnya memberi firasat kelak dia akan menyerap dan mencerna ilmu yang banyak.

Bahkan setelah dewasa dia akan menjadi orang penting. (Truno = pemuda; wigati= penting). Yang jelas, oleh kalangan terdekatnya Suwardi kecil kerap dipanggil dengan julukan Denmas Jemblung.

Barangkali keprihatinan yang dialami di masa kecil saat ayahnya dilanda kesulitan hidup, justru membuat Suwardi tumbuh dengan watak dan kepribadian seperti yang dikenal orang di kemudian hari. Bagaimana persisnya kepribadian Suwardi, rekan setianya dalam perjuangan kemerdekaan yakni Ernest Francois Eugene Douwes Dekker melukiskannya sebagai berikut,

"... di dalam tubuhnya yang lemah itu bersemayamlah daya kemauan keras yang selalu dimenangkannya setiap kali ia memperjuangkan sesuatu...." (Harumi Wanasita Setyabudhy, 70 Jaar Konsekwen, Uitgave, N.V. Nix & Co, Bandung, 1949).

Pergantian nama dari R.M. (Raden Mas) Suwardi, menjadi Suwardi Suryaningrat (tanpa embel-embel R.M.) menyiratkan proses pengendapan dan peningkatan kesadaran hidup seorang bangsawan yang sejak kecil merakyat. Yang unik justru bagaimana dia mengganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara. Tak banyak yang tahu, ini terjadi secara kebetulan.

Sebelum Tamansiswa berdiri, Suwardi membentuk semacam kelompok diskusi yang beranggotakan tokoh-tokoh politik, budayawan, dan filsuf. Forum diskusi Selasa Kliwonan (karena diadakan setiap hari Selasa Kliwon) ini dipimpin Ki Ageng Suryomentaram, adik Sri Sultan Hamengku Buwono VII.

Rupanya, kemampuan Suwardi dalam hal ilmu keguruan dan pendidikan amat menonjol. Suatu hari R.M. Sutatmo Suryakusumo (anggota Volksraad/Boedi Oetomo) yang memimpin diskusi dengan spontan mengubah kebiasaannya memanggil Suwardi yang kebetulan adik sepupunya, tak lagi dengan sebutan Dimas Suwardi melainkan dengan sebutan Ki Ajar.

Cara ini kemudian diikuti oleh teman-teman lainnya. Padahal ketika itu Suwardi menerima julukan tersebut sebagai kelakar semata.

Apakah ini merupakan sebuah pengakuan atas kebenaran pengakuan, tak ada yang tahu. Yang jelas enam tahun kemudian tepatnya tanggal 23 Februari 1928, Suwardi secara resmi berganti nama Ki Hajar Dewantara.

Bernard H.M. Vlekke, penulis buku Geschiedenis van de Indischen Archipel (JJ Romein & Zonen - Uitgevers, Roermond-Maaseik, 1947), memberi interpretasi nama itu: seorang guru yang berhasil menanamkan paham sinkretisme kepercayaan-kepercayaan di Jawa.

Ki Hajar bersama istri dan putra-putrinya (INTISARI)

Keras tapi tidak kasar

Inilah ciri khas kepribadian Ki Hajar yang diakui rekan-rekan sejawatnya. Kras maar nooit grof, keras namun tidak pernah kasar. Kesetiaan pada sikapnya ini terlihat jelas pada setiap kiprahnya.

Setamatnya dari ELS (SD Eropa) tahun 1910, Suwardi sempat bekerja di pabrik gula Kalibagor, Banyumas, sambil menulis di beberapa surat kabar, misalnya Sedyatama. Tahun 1912 dipanggil ke Bandung oleh sahabatnya, E.F.E. Douwes Dekker, untuk membantu penerbitan surat kabar de Express.

Bersama dengan Douwes Dekker dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, kemudian mendirikan Partai Hindia atau Indische Partij (IP). Berbeda dengan orsospol sebelumnya yang masih berkutat pada perjuangan kelompok, IP bertujuan menyatukan rakyat untuk mencapai Hindia bebas dari Nederland alias merdeka. Saat itu bisa dikatakan IP merupakan partai dengan tujuan paling radikal

Tak pelak, kemunculan IP membuat pemerintahan Belanda gusar. Benarlah, tak lama kemudian partai ini dibreidel.

Suwardi tak putus asa. Kritik pedas kepada penjajah kembali dilancarkan lewat artikelnya dalam de Express November 1923, berjudul "Als ik eens Nederlander was" (Seandainya saya orang Belanda). Dengan sindiran tajam tulisan itu menyatakan rasa malunya merayakan hari kemerdekaan negerinya dengan memungut uang dari rakyat Hindia yang terjajah.

Suwardi bahkan mengirim telegram kepada Ratu Belanda berisi usulan untuk mencabut pasal 11 RR (Regeringsreglement - UU Pemerintahan Negeri Jajahan) yang melarang organisasi politik di Hindia-Belanda. Akibat tulisan tersebut Ki Hajar harus membayar mahal dibuang ke Belanda Oktober 1914.

Alhasil, pemuda yang baru saja mempersunting R.A. Sutartinah ini harus berbulan madu di pengasingan.

Tak hanya dalam bersikap. Secara fisik pun Ki Hajar memiliki keberanian yang mencengangkan.

Ini terkuak dalam peristiwa rapat umum di Lapangan Ikada (sekarang Monas) tanggal 19 September 1945. Saat itu pemerintah RI menghadapi tantangan, apakah Presiden dan jajaran kabinetnya berani menembus kepungan senjata tentara Jepang di sekeliling lapangan.

Sidang kabinet di Pejambon sempat ribut. Sebagian menuntut Presiden, Wapres, dan segenap anggota kabinet hadir di Lapangan Ikada agar tidak mengecewakan rakyat. Yang lain menolaknya dengan pertimbangan keselamatan.

Akhirnya setelah melalui perundingan alot, semua sepakat untuk hadir. Yang kemudian menjadi pertanyaan, siapa menteri yang harus membuka jalan terlebih dahulu memasuki Lapangan Ikada, sebelum rombongan Presiden, mengingat ada kemungkinan Jepang membantai rombongan menteri yang pertama masuk Ikada untuk mencegah keberhasilan Pemerintah RI menyatakan eksistensinya kepada rakyat dan dunia internasional.

Pada saat kritis inilah sebagai Menteri Pengajaran Ki Hajar unjuk keberanian. Bersama Menlu Mr. Achmad Subarjo, Mensos Mr. Iwa Kusumasumantri, dia menyediakan tubuhnya menjadi tameng.

Padahal usia bapak enam anak itu bisa dibilang tak lagi muda. Ketika diingatkan oleh Sesneg Abdul Gafur Pringgodigdo, "Ingat, Ki Hajar ‘kan sudah tua." Ki Hajar menjawab enteng, "Justru karena itulah, mati pun tidak mengapa."

Tak sekali itu saja Ki Hajar menunjukkan keberaniannya. Desember 1948, dia berani perang mulut dengan tentara Belanda. Pagi itu satu peleton tentara Belanda dengan sikap garang melakukan sweeping di asrama para Pamong (guru) Tamansiswa, Yogyakarta.

Sebelum rombongan tentara itu berlalu, Ibu Dalimo, salah seorang istri pamong, tergopoh-gopoh mendatangi Ki Hajar. Dia melaporkan, seorang serdadu Belanda merampas kalung emasnya. Secara tak terduga, Ki Hajar menghardik komandan tentara tersebut dan melarang mereka meninggalkan tempat.

Perang mulut antara Ki Hajar dengan sang komandan dalam bahasa Belanda ini berlangsung sengit. Akhirnya, kalung emas pun berhasil kembali ke pemiliknya.

Tentu, mereka yang tidak mengenal pribadi Ki Hajar secara utuh akan terkaget-kaget menyaksikan adegan ini. Betapa tidak? Sosok pria kurus berhati lembut yang tidak pernah memaksakan kehendaknya terhadap orang lain, ternyata bisa marah meledak-ledak.

Orang sering lupa, semboyan tut-wuri handayani adalah bagian dari kesatuan yang lengkapnya berbunyi, ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karso, tut wuri, handayani. Di depan memberi teladan, di tengah menghidupkan gairah, di belakang memberi pengarahan.

Mungkin, peristiwa di atas sekaligus bisa memberi jawaban, apakah yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin kalau anak buah yang berada dalam pengayomannya terancam bahaya?

Bakmi kuah campur duit

Sisi lain sosok Ki Hajar terpancar dari gaya hidupnya yang amat bersahaja. Sebagai pejabat negara dia tidak sungkan membeli perabotan bekas dari teman atau pelelangan.

Di zaman penjajahan, warga Belanda yang ingin kembali ke negaranya karena sudah pensiun biasa melelang rumah berikut perabotannya kepada masyarakat umum. Kesempatan ini tidak dilewatkan Ki Hajar dan istrinya.

Beberapa perabot rumah tangga saat keluarga ini tinggal di van Heutsz Boulevard 47 (kini Jl. Teuku Umar), Jakarta, seperti dua tempat tidur, satu perangkat meja makan, tempat surat kabar, dan sebuah almari arsip dibeli dari Bung Karno. Bahkan, mesin tik Olimpia, radio merk Erres, satu set lemari buku dan meja tulis pun barang bekas.

Yang menarik, mereka tidak hanya melihat perkakas itu melulu dari fungsinya. Nilai sejarah, nostalgia, dan asal-usul barang tersebut tetap dilestarikan.

Sepintas memang terdengar lucu karena setiap barang selalu disebut bersama dengan nama pemilik aslinya. Kepada salah seorang anaknya misalnya, Ki Hajar berkata, "Sebaiknya, kamu tidur di ranjang Douwes Dekker itu", atau "Sana, belajar di meja Dr. Tjipto saja." Tak berbeda dengan Nyi Hajar. "Lo, jangan memakai piring Mevrouw Reesink", atau "Hati-hatilah dengan massage listrik Desentje itu."

Tradisi makan bersama, meski dengan menu yang sederhana dan terkadang seadanya, selalu dilakukan Ki Hajar di tengah kesibukannya sehari-hari. Ihwal makan ini ada peristiwa lucu.

Minggu 19 Agustus 1945, setelah ditetapkan menjadi menteri pengajaran RI yang pertama, Ki Hajar pulang larut malam. Meski demikian ia tidak meninggalkan kebiasaan menceritakan segala hal yang dialaminya kepada istri dan anak-anaknya.

Lantaran persediaan lauk pauk habis, Nyi Hajar menyuruh anaknya, Bambang Sokawati, membeli mi godog. Setelah menerima uang f 2, yang disuruh segera berlari ke luar menenteng rantang.

"Namun ketika akan membayar bakmi, uang dua lembar pemberian ibu kucari-cari tidak ketemu. Sambil membawa rantang itu aku pulang ke rumah dan segera mengambil uangku sendiri untuk membayar tukang bakmi," tutur Bambang dalam bukunya.

Karena lapar, dengan lahap Ki Hajar menyantap bakmi hingga nyaris habis. Ketika akhirnya kuah bakmi itu dituang ke piring, ternyata ... ikut tertuang pula uang f 2 yang tadi hilang. Rupanya, Bambang menaruh uang tersebut di dalam rantang yang kemudian oleh tukang bakmi ditimbuni bakmi. Ki Hajar tidak marah atas kecerobohan putranya, tapi justru tergelak.

"Mungkin ini harus terjadi supaya kita selalu ingat dan dapat bercerita, ketika Bapak diangkat jadi menteri kita mengadakan syukuran di tengah malam dengan makan bakmi yang dibumbui uang lecek!" ujarnya.

Selain wajib mendengarkan siaran RRI, kegemaran lelaki yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional 1959 ini adalah menulis dan membaca. Karena saat itu radio masih langka, kegiatan mendengarkan dilakukan bersama banyak orang.

Menurut kesaksian Rabhan Ernanto, mantan pembantu di rumah Ki Hajar, setiap kali Presiden Sukarno berpidato melalui radio, halaman rumah Ki Hajar dipenuhi oleh masyarakat yang ikut mendengarkan.

Sikapnya yang populis juga terlihat dari keputusannya menaruh pesawat telepon Tamansiswa di teras depan rumahnya. Alasannya tak lain agar bisa dipakai banyak orang.

Dari kebiasaannya menulis dan mencatat, harus diakui Ki Hajar juga seorang dokumentalis hebat. Hampir semua peristiwa penting terdokumentasikan dengan rapi dalam buku hariannya yang kini tersimpan di Museum Dewantara.

Di sana masih tersimpan surat bukti pembebasan No. 655 dari penjara pusat Pekalongan. Tertulis, berdasar keputusan Direktur Penjara Pusat Pekalongan, R.M. Suwardi dibebaskan dari penjara tanggal 27 September 1921. Selama di penjara ia mendapat upah kerja f 27,40 ditambah uang simpanan f 25.

Pada tanggal 31 Maret 1955, dia menulis rincian uang pensiun yang diterimanya. Misalnya pensiun menteri Rp 50,-, pensiun anggota DPR Rp 345,-. Jumlahnya Rp 395,- plus tunjangan keluarga Rp 130,35 dan Tj. Kem, (tunjangan kemahalan - Red.) Rp 158,80, sehingga total yang diterimanya sebesar Rp 684,15,-.

Menolak jimat eyang

Lingkup kegiatannya yang luas membuat Ki Hajar bisa bergaul dengan siapa saja, mulai dari rakyat jelata sampai tokoh nasional.

Dia memanggil Bung Karno dengan sebutan Dimas. Sementara presiden pertama RI itu selalu memanggil Ki Hajar dengan sebutan Kang Mas. Kedekatannya dengan Bung Karno tidak terpengaruh meski beberapa kali dua orang itu pernah berselisih paham.

Suatu kali bahkan Sukarno menyempatkan diri bertandang ke Tamansiswa untuk beradu panco dengan putra-putri Ki Hajar, membawa oleh-oleh peuyeum dan keripik singkong.

Sebagai insan yang dibesarkan di lingkungan kejawen yang kental, penggemar wayang ini tidak terperosok ke praktik-praktik laku mistis. Soal hidup dan mati misalnya, dia tetap berpegang teguh pada iman agamanya.

Meski demikian, demi sopan santun, secarik jimat pemberian Eyang Dirjo (neneknya Nyi Hajar) tetap diterimanya meski dia sama sekali tidak percaya pada hal-hal yang berbau klenik.

Ketika keadaan genting menjelang rapat Ikada, Ki Hajar malah berpesan kepada A.G. Pringgodigdo untuk menyerahkan jimat itu kepada Bung Karno. "Jimat pemberian kakek saya ini tolong Mas Gafur serahkan kepada presiden, mudah-mudahan berfaedah. Saya tidak memerlukannya."

Begitu pula kepasrahannya atas takdir. Derita penyakit di hari tuanya, dijalani dengan tabah. Kepada anak-anaknya yang tinggal di luar kota dia sempat berpesan:

“Sejak sekarang kamu harus siap lahir-batin. Sewaktu-waktu denyut nadiku akan berhenti untuk seterusnya. Oleh sebab itu biasakanlah kalian mendengar acara Berita Keluarga dari RRI Yogyakarta setiap jam delapan malam. Aku sudah bermufakat dengan ibumu, bahwa berita kematianku nanti akan diberitakan lewat radio saja sebagaimana masyarakat umum mempergunakan jasa ini."

Merasa sudah terlalu tua dan agar bisa lebih mencurahkan pikirannya sebagai pemimpin umum Tamansiswa, akhirnya tanggal 1 April 1954 Ki Hajar mengundurkan diri dari kancah politik.

Apakah sesudah mengundurkan diri dari berbagai kegiatan politik dan melepaskan berbagai jabatan, Ki Hajar tidak akan berjuang lagi untuk negeri ini?' Ketika hal itu ditanyakan oleh anaknya, penasihat politik Jenderal Soedirman ini kembali menyitir kisah Batara Kresna tatkala menyaksikan negerinya luluh lantak seusai perang Baratayuda.

"Di atas bukit, Batara Kresna berdiri termangu, menyaksikan negennya porak-poranda diterpa badai. Dia mengheningkan cipta dengan amat khusyuk. Sesudah itu berbalik arah dan melangkah turun seraya menyuruh Sadewa mengikutinya. Ketika ditanya hendak ke mana, Kresna justru balik bertanya, 'Adikku Sadewa. Apakah yang akan dilakukan seseorang yang sudah jauh berjalan sampai di puncak?'

Oh, Batara. Karena orang harus terus berjalan sebagaimana hidup mengharuskan, barang siapa sudah berada di puncak pendakian maka untuk meneruskan perjalanannya hanya ada satu pilihan baginya, yakni melangkah turun.” (G.Sujayanto/Djati S.)

Artikel Terkait