Amoroso Katamsi, Dokter TNI AL yang Jadi Soeharto dalam Film Penumpasan Pengkhianatan G30S-PKI

Moh. Habib Asyhad

Editor

Amoroso Katamsi, aktor yang memerankan Soeharto dalam film Penumpasan Pengkhianatan G30S-PKI (1983), ternyata seorang dokter, dokter TNI AL (WIKIPEDIA COMMONS)

Amoroso Katamsi, aktor yang memerankan Soeharto dalam film Penumpasan Pengkhianatan G30S-PKI (1983), ternyata seorang dokter, dokter TNI AL. Dia pensiun dengan pangkat Laksamana Pertama.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com - “Amoroso Katamsi mengawali karier dokter Angkatan Laut-nya bersamaan dengan kariernya sebagai pemain drama dan film. Pernah bergabung dengan Teater Kecil pimpinan Arifin C Noer, sebelum akhirnya bermain film pertama kali tahun 1976 dalam Menanti Kelahiran. Sedangkan film-film yang telah melambungkan namanya, ialah Serangan Fajar (1981) dan film Pengkhianatan G30S-PKI (1983) di mana ia menjadi pemeran utamanya,” begitu tulis Jajak MD di Majalah INTISARI dalam artikel berjudul “Dokter-dokter yang Seniman” (September, 2010).

Benar, jika Anda belum tahu, Amoroso Katamsi, sosok yang memerankan Soeharto dalam film Penumpasan Pengkhianatan G30S-PKI, adalah seorang dokter. Lebih tepatnya dokter di TNI Angkatan Laut.

Amoroso yang lahir di Jakarta, 21 Oktober 1940, dan lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1966. Belakangan dia bergabung ke dalam TNI AL dan di sanalah ia bertugas mulai dari pangkat letnan sampai akhirnya pensiun dengan pangkat laksamana pertama.

Dalam kariernya di dunia perfilman, pada 1990 Amoroso Katamsi pernah menjabat sebagai Direktur Perum Produksi Film Negara (PFFN) – sekarang Produksi Film Negara (PFN). Dia juga pernah menjadi Sekretaris Dewan Juri Film Cerita FFI 1990-1992, Ketua Dewan Juri Sinetron Cerita di FSI 1995, dan anggota Dewan Pertimbangan Organisasi PPFI 1998-2001.

Amoroso Katamsi memang lahir di Jakarta, tapi saat usianya empat tahun dia pindah ke Magelang, Jawa Tengah. Konon katanya, darah seni berasal dari sang ayah yang memang menggemari biola.

Selain itu, sejak kecil kecenderungannya untuk berkesenian memang sangat besar. Masa remajanya dihabiskan dengan menari, bersandiwara, hingga menyanyi. Sekadar informasi, Amoroso juga sahabatan dengan Kris Biantoro, musisi legendaris Indonesia kelahiran Magelang, yang mengajaknya membentuk band di mana Amoroso jadi vokalisnya.

Keinginannya menjadi dokter muncul ketika melihat sang nenek meninggal dunia karena operasi yang gagal. Setelah lulus SMA, cita-cita itu kemudian dia wujudkan dengan masuk ke Fakultas Kedokteran UGM.

Meski kuliah di kedokteran, kecintaannya terhadap kesenian tetap tinggi. Di Kota Pelajar itu, dia masih sering ikut sandiwara radio di RRI Yogyakarta. Dalam sebuah lomba deklamasi, dia mencuri perhatian W.S. Rendra yang kemudian mengajaknya bermain drama bersama kelompok Studi Drama Jogja dan di sinilah dia bertemu Arifin C. Noer.

Dalam masa-masa ini juga dia bertemu dengan sang istri, Pranawengrum, seorang penyanyi seriosa, dalam sebuah perjalanan kereta api ke Banyuwangi. Amoroso menikahi wanita pujaan hatinya itu sebelum meraih gelar dokter lantaran sang calon ibu mertua meninggal dunia.

Tak lama setelah menikah, dia mencoba melayangkan permohonan beasiswa ke berbagai instansi. TNI AL adalah instansi yang memberi jawaban pertama, maka diangkatlah dia menjadi perwira berpangkat letnan dengan status perwira tugas belajar hingga lulus sebagai dokter.

Setelah menjadi dokter dan menetap di Jakarta, Amoroso bertemu lagi dengan Arifin C. Noer. Singkat cerita, namanya mulai terkenal sejak dia bermain dalam film Menanti Kelahiran (1976) garapan SA Karim.

Ketika Arifin C. Noer membuat film Penumpasan Pengkhianatan G30S-PKI, Amoroso terlibat di dalamnya. Dia didapuk menjadi pemeran utama, berperan sebagai Soeharto – komandan utama penumpasan PKI yang kemudian menjadi Presiden RI ke-2. Sebagai bagian dari pendalaman karakter, Amoroso yang pangkatnya Letnan Koloner, berkesempatan sehari bersama Soeharto di peternakan keluarga Cendana di Tapos, Bogor, Jawa Barat.

Tapi sebelum menjadi “Soeharto” di Pengkhianatan G30S-PKI, Amoroso sudah pernah menjadi “Soeharto” di Djakarta 1966 (1981) yang juga disutradarai oleh Arifin C. Noer. Amoroso juga sudah bermain untuk Serangan Fajar (1981) yang melambungkan namanya, Pasukan Berani Mati (1982), dan film-film lain.

Di luar akting, Amoroso adalah Direktur PFFN sejak 1990 hingga delapan tahun kemudian. Dia juga pernah menjadi Sekretaris Dewan Juri Film Cerita pada Festival Film Indonesia 1990 hingga 1992, dan Ketua Dewan Juri Sinetron Cerita pada Festival Sinetron Indonesia 1995.

Amoroso Katamsi pensiun dari TNI AL dengan pangkat terakhir Laksamana Pertama. Pensiun dari “dinas”, rupanya tak membuatnya tak berkegiatan. Dia ditunjuk sebagai Pembantu Rektor Institut Kesenian Jakarta dan Universitas Islam As-Syafiiyah hingga sesekali syuting sinetron.

Amoroso Katamsi setidaknya membutuhkan waktu tiga bulan untuk mempersiapkan diri memerankan sosok Soeharto. Termasuk sehari bertemu dengannya di pertanian keluarga di Tapos, Bogor (KOMPAS)

Bagaimana dia menjadi Soeharto?

Peran Amoroso Katamsi sebagai Soeharto dalam Pengkhianatan G30S begitu membekas di benak masyarakat. Bahkan Ibu Tien Soeharto, sebagaimana dikutip dari tulisan berjudul “Sosok Dokter Dalam Film Pengkhianatan G30S/PKI” oleh Dr. dr. Muhammad Isman Jusuf, Sp.N, FISQua yang tayang di situs Ikatan Dokter Indonesia, sampai melontarkan pujian kepada Amoroso karena berhasil menirukan mimik dan gestur suaminya walau hanya sekali bertemu.

Pada Festival Film Indonesia 1984, aktingnya sebagai Soeharto dalam film ikonik itu diganjar dengan Piala Citra.

Meski hanya “butuh” sehari untuk bertemu Soeharto, sejatinya Amoroso Katamsi membutuhkan waktu tiga bulan untuk mempersiapkan diri memerankan karakter Presiden RI ke-2 itu. Cerita itu dia bagikan saat melayat ke rumah duka Soeharto pada Minggu, 27 Januari 2008, sebagaimama dilansir Kompas.com sehari kemudian.

“Ketika itu saya ditawarin sama Arifin, itu pun nggak sengaja, karena pemeran yang sebelumnya udah ada mendadak sakit. Jadilah saya yang diminta. Agak deg-degan juga, karena kita tahu dia kan orang besar. Kalau nggak bisa memerankan dengan baik, pasti kelihatan, sebab orang sudah hapal dengan karakter beliau,” jelas Amoroso.

Karena itulah, untuk mempelajari karakter dan gerak-gerik Pak Harto, Amoroso memerlukan waktu tiga bulan. Dalam tiga bulan itu, Amoroso mengikuti laporan kegiatan Soeharto, memperhatikan mimik muka, dan cara bicaranya.

“Saya rekam pidato-pidato beliau, saya tirukan cara berbicaranya, cara pengucapan kata-katanya. Selebihnya saya banyak baca buku tentang beliau,” lanjutnya.

Tak hanya itu, untuk lebih mendalami karakter lagi, Amoroso berkesempatan mengikuti kegiatan Soeharto sehari penuh. "Waktu itu kebetulan Pak Harto ada kegiatan sehari penuh di Tapos. Tapi nggak banyak bicara juga, Pak Harto itu nggak banyak bicara,” ceritanya lagi.

Menurut Amoroso, yang paling sulit untuk menggambarkan emosi dan cara senyum Soeharto. “Bagaimana kalau dia tidak suka dengan sesuatu, bagaimana dia marah. Karena Pak Harto itu kendali emosinya kuat sekali. Dan yang paling harus saya kuasai, itu senyumnya, karena khas sekali 'kan," katanya sambil menirukan senyum khas mantan Penguasa Orde Baru itu.

Film Pengkhianatan G30S-PKI sendiri membutuhkan waktu penggarapan hingga dua tahun. Setelah film itu tayang, menurut pengakuan Amoroso, rupanya Soeharto tak memberikan komentar apa pun tentang sosoknya yang telah diperankan Amoroso.

“Ya beliau itu memang tidak ekspresif sih ya. Malah Bu Tien yang berkomentar, dengan sangat ekspresif Bu Tien bilang, kamu kok bisa sih, mainin peran yang sama persis dengan Bapak?" kata Amoroso. Dia juga mengakui bahwa memerankan sosok Soeharto menjadi catatan tersendiri dalam kariernya sebagai aktor.

Meningal dunia dan dimakamkan secara militer

Amoroso Katamsi meninggal dunia pada 17 April 2018 di Rumah Sakit Angkatan Laut Mintoharjo, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Dia kemudian dimakamkan secara militer di Pemakaman Tanah Wakaf Pondok Labu, Jakarta Selatan.

Mengutip Kompas.com, jenazah Amoroso diangkat oleh enam pria berbadan tegap yang mengenakan seragam pasukan TNI-AL. Setibanya di pemakaman, jenazah disambut oleh inspektur upacara dari TNI AL.

Suasana haru pun sangat terasa, diwarnai isak tangis dari sanak keluarga, kerabat, dan juga sahabat-sahabat almarhum. Sejumlah pemain sinetron Tukang Bubur Naik Haji juga ikut mengantarkan ke pemakaman.

Sebelum dimakamkan, Adhyaksa Dault melepas kepergian Amoroso dari rumah duka menuju Masjid Imam Bonjol untuk disalatkan. “Kami semua kehilangan keluarga, sosok kakak dalam kehidupan kami. Beliau orang baik dan sangat berkontribusi dari semua kegiatannya, termasuk dalam Gerakan Pramuka Indonesia. Sekitar 10 tahun, beliau berperan penting bersama kami memajukan Indonesia,” tutur Adhyaksa Dault.

Dia berharap Amoroso bisa diterima di sisi Tuhan yang Maha Esa atas semua kebaikannya semasa hidupnya sampai hari ini.

Artikel Terkait