Birute Galdikas, Guru ‘Sekolah Orang Utan’ di Hutan Kalimantan

Moh. Habib Asyhad

Editor

Birute Galdikas, ibu para orang utan di hutan Kalimantan. Sejak 1971, dia mendedikasikan hidupnya untuk keberlangsungan hidup makhluk-makhluk yang terancam punah itu (MAJALAH INTISARI)

Birute Galdikas, ibu para orang utan di hutan Kalimantan. Sejak 1971, dia mendedikasikan hidupnya untuk keberlangsungan hidup makhluk-makhluk yang terancam punah itu.

Artikel ini pernah tayang di Majalah Intisari edisi Januari 1977 dengan judul "Ny. Brindamour Guru 'Sekolah Orang Utan' di Kalimantan" -- dengan beberapa tambahan terutama terkait kabar kematiannya

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com - Mereka saling berpandangan, diam dan tidak bergerak. Si wanita rupanya pucat, matanya tertutup oleh kacamata hitam dan dia sedang memegang sekantong cucian. Si Jantan besar, matanya letaknya berdekatan dan rambutnya merah coklat. Warna itu jelas terlihat di sinar matahari. Di kiri dan kanan jalan sempit di mana mereka hampir bertumbukan, tumbuh alang-alang yang sangat tinggi dan mereka tidak dapat melarikan diri.

Akan tetapi sebagaimana mereka berjumpa, begitu pulalah mereka berpisah. Sesudah ia memandang betina itu dari atas ke bawah, si kera jantan berbalik dan dengan kelakuan ribut masuk lagi ke dalam hutan belantara.

Itu adalah adegan perjumpaan seorang orang utan dengan seorang zoolog bula bernama Birute Mary Galdikas atau Birute Galdikas.

Bagi Birute Galdikas, ahli zoologi Kanada yang lahir di Wiesbaden itu, pertemuan di hutan itu adalah pertemuan pertama dengan bidang pekerjaan yang akan dimulai. Bersama dengan suaminya, juru potret Rod Brindamour, dia telah datang ke Kalimantan untuk hidup bersama para orang utan dan mempelajari kebiasaan mereka dalam alam bebas.

Dia ingin mengetahui lebih banyak daripada penyelidik yang lebih dahulu. Mereka mencari sisa kelompok terakhir dari orang utan-orang utan yang masih ada di hutan Sumatera dan Kalimantan. Sebab hanya orang yang mengetahui cara hidup binatang ini sampai ke detail-detail yang sekecil-kecilnya, dapat menolong kera-kera itu bertahan di alam bebas lebih lama lagi.

Tidak diketahui dengan tepat, berapa ekor orang utan yang masih ditinggalkan manusia dalam hutan-hutan. Binatang-binatang itu telah ditangkap untuk dijadikan bahan masakan di Asia Tenggara, atau binatang jinak di sirkus dan kebun Binatang.

Mereka binasa dalam percobaan di laboratorium, ataupun menjadi bodoh karena dirantai di halaman orang-orang kaya di Asia, yang telah belajar menjinakkan binatang itu dari bekas tuan-tuan di zaman kolonial untuk menjadikan binatang itu sebagai simbol “status sosial”, kera itu dijadikan mainan keluarga.

Padahal binatang ini jika dilepaskan di alam bebas, merupakan makhluk yang suka hidup menyendiri dan tidak hidup dalam kelompok yang diatur dengan ketat, akan tetapi dalam hubungan yang terpencar-pencar di daerah yang luas. Berlawanan dengan kera jenis lain, mereka suka mencari kehidupan sendiri dan karena membutuhkan makan yang sangat banyak, mereka terus saja mencari mangsa sepanjang hari.

Menunya terdiri atas berbagai buah-buahan, dedaunan yang hijau muda, kuncup-kuncup dan kulit pohon yang lunak. Mereka juga menyukai semut, serangga dan telur-telurnya. Kadang-kadang mangsa itu sebelum ditelan, ditaruh di atas bibir bawah yang menonjol untuk dipandang dahulu.

Pada awal 1970-an itu, sang ahli zoologi yang ketika itu masih 25 tahun, bersama sang suami, telah memilih daerah seluas 14 mil persegi di hutan belantara cagar alam Tanjung Puting di Kalimantan sebagai kawasan observasinya. Di antara ular, serangga, babi hutan, binatang buas dan kera mereka mendirikan perkemahannya yang terdiri atas gubuk sederhana beratapkan daun kering dan berdinding kulit kayu. Mereka dikelilingi oleh hutan dan rawa-rawa yang penuh dengan pengisap darah.

Akan tetapi baik pengganggu-pengganggu tidak menyenangkan itu, maupun suasana sepi (gubuk itu terletak 30 km dari tetangga) tidak dapat mematahkan semangat suami-isteri Brindamour untuk meneruskan "proyek orang hutan". Penduduk setempat menamakan kera itu demikian. Mereka percaya bahwa kera itu secerdik Homo Sapiens dan bahwa ia dapat berbicara. Ia hanya berpura-pura saja agar jangan dipaksa bekerja.

Dalam salah sebuah perjalanannya yang pertama di hutan, Birute Galdikas (Ny. Brindamour) itu bertemu dengan seekor kera betina yang sedang mengandung dan ditemani oleh anak jantannya yang remaja. Keduanya asyik melompat dari pohon ke pohon.

Perempuan Kanada itu membuat jalan di antara alang-alang dan membuntuti anak dan ibu. Kera betina berbicara dengan cerewet, seperti melarang gangguan itu. Dengan marah ia melempar dahan-dahan ke orang yang mengikutinya. Akan tetapi akhirnya ia menghentikan perlawanannya. Wanita itu telah diterima sebagai kawan dalam hutan.

Karena pertemuan yang serupa dengan kera-kera lain, maka terjalinlah kontak yang lebih erat. Sudah dari dahulu para penyelidik menemukan, bahwa orang utan yang tumbuh dalam lingkungan manusia dapat menyatakan simpatinya ataupun ketidak senangan maupun ketidak acuhannya.

Kata Birute:

"Persahabatan sering terjalin pada pandangan pertama. Si kera memperhatikan manusia dengan tenang, ia memandangnya, dicium, dipegang, mencium jari-jarinya dan lalu menaruh hidungnya di tangan manusia. Tapi kadang-kadang juga bisa terjadi, bahwa kera itu tidak senang sama sekali kepada manusia itu. Dalam hal ini maka manusia sama sekali tidak diperhatikan. Binatang itu agaknya merasa takut".

Pada pertemuan dengan sesama jenis juga ada aturan-aturan yang tertentu. Jika seekor kera jantan ingin merebut hati seekor kera betina dan tidak mengingini bahwa kera-kera jantan lain mendekat, maka ia memperdengarkan suara menggeram yang mula-mula halus dan lama kelamaan menjadi keras sehingga akhirnya dapat terdengar dari jarak satu kilometer.

Tiba-tiba ia menjadi halus lagi. Si betina mulai bermain-main dengannya. Agaknya ini menyenangkan si jantan hingga pada sebuah pegangan tertentu mereka menggeram bahagia. Waktu bersenggama, mereka sering berpegangan pada dahan dan melakukan persatuan itu sambil bergantungan.

Menurut para penyelidik seekor orang utan jantan berjuang dengan jantan lain untuk memperebutkan kera, betina, akan tetapi mereka belum pernah melihat hal itu sendiri. Soalnya sering kera yang tertangkap mempunyai hidung yang robek, jari-jari yang putus atau cedera yang dalam. Sebagai orang kulit putih pertama, suami-isteri Brindamour melihat bagaimana cedera-cedera itu terjadi, bagaimana dua ekor kera besar berkelahi untuk mendapatkan seorang "lady" kera.

Pada suatu hari jatuhlah dua ekor orang utan jantan di depan kaki mereka. Dengan tidak mengindahkan mereka, kera-kera itu naik secepat-cepatnya ke pohon dan meneruskan perkelahian hingga berkeringat dan jatuh untuk kedua kalinya.

Baru sesudah 20 menit mereka melepaskan lawannya dan melarikan diri pada dua pohon yang berlainan. Keputusan siapa yang menang akhirnya terdengar diiringi oleh geraman yang dahsyat: salah seekor orang utan melemparkan batang pohon ke lawannya yang lari ketakutan.

Pacarnya membantu agar ia dapat “asyik masuk” dengan betina

Dalam dunia orang utan juga ada tuna susila. Birute telah memperhatikan seekor orang utan jantan yang mencintai pacarnya secara "platonis" saja. Jika si jantan sedang mengingini cinta, ia mencari betina lain yang telah dewasa, yang memberi perlawanan dan akhirnya betina itu digaulinya. Pacarnya yang masih sangat muda membantu jantan itu melakukan perbuatan tadi.

Cinta jarang ada akibatnya di hutan-hutan lembab. Seekor kera betina hanya dapat bunting sekali dalam lima tahun, karena dalam waktu itulah ia masih harus menyusui anaknya. Baru sesudah itu kera muda mulai berdiri sendiri, ikut kera-kera remaja dan mulai mencari kehidupan sendiri.

Sebagaimana seorang anak kecil memegang erat apa yang dapat diraihnya, maka orang utan kecil delapan belas bulan lamanya menggantung pada induknya. mengharapkan kehangatan makan serta kasih sayang. Mereka menangis jika kurang diperhatikan. Sang ibu membersihkan rambut anaknya dengan mulut dan tangan dan menggigit kukunya agar tetap pendek.

Harus kembali ke hutan

Dialami oleh Birute bagaimana "lekat"nya anak orang utan itu waktu ia memelihara seekor orang utan yang tidak beribu lagi. Jika wanita Kanada itu ingin berganti baju, maka bayi itu berteriak-teriak sebab si kecil selalu melekat pada pakaian yang telah ditanggalkannya. Bagi kera itu tidur bersamanya dan juga waktu ia mandi di kali, kera itu tetap di sampingnya.

Sesudah hubungan kedua suami-istri dengan kera-kera itu menjadi lebih erat, maka jawatan Kehutanan meminta pada keluarga Brindamour agar mereka itu memperbesar perkemahan untuk tujuan meng-"hutan"-kan kembali kera-kera yang telah lama berada dalam keadaan jinak. Kera-kera ini lambat laun harus terbiasakan lagi untuk hidup dalam hutan.

Suami-istri Brindamour setuju. Lalu pegawai-pegawai kehutanan membawa makin lama makin banyak orang utan ke perkemahan itu. Di antara binatang-binatang yang dibawa itu ada beberapa binatang yang sudah ketakutan waktu mereka melihat hutan.

Ada seekor orang utan betina yang, kalau ia harus tidur, bersandar ketakutan pada pohon, dan tidak membuat sebuah sarang dari dahan-dahan pohon seperti yang dilakukan oleh kera-kera di hutan. Kera ini semula telah diperlakukan sebagai anak sendiri oleh suami-isteri yang memilikinya, ia boleh ikut tidur dalam tempat tidur mereka.

Kesenangan kera untuk tidur di tempat tidur orang, telah dialami oleh Birute. Orang utan-orang utan itu sering merusak dinding tipis dari kayu dan enak-enak tidur dalam tempat tidurnya. Mereka makin lama makin kurang ajar dan jika ingin melihat apakah di luar hujan, mereka menonjolkan kepala di atap gubuk hingga tidak lama kemudian atap berlobang-lobang seperti sebuah keju Swiss.

Akhirnya tidak ada lagi yang tidak diraih oleh kera-kera tadi. Di mana-mana terdapat bekas gigi, buku-buku yang disobek-sobek, begitu pula pakaian, payung, lilin yang setengah dimakan, shampoo rambut yang diminum, obat gosok gigi yang diisap, dan alat menulis yang digigit.

Para "tamu" itu memasukkan kaos kaki dalam kopi dan memakan baterai lampu senter.

Karena kelakuan ini dan kelakuan Birute yang ogah memerintah maka kera-kera itu akhirnya kembali ke pepohonan. Sebab waktu gubuk dan tempat tidur sudah rusak, terpaksa mereka ke hutan kembali untuk mencari tempat berteduh.

Rod Brindamour menghilangkan ketakutan beberapa dari mereka. Dia kadang-kadang ikut naik pohon dan membuat sarang sebagai contoh untuk melatih mereka.

Birute membawa makanan mereka makin lama makin dalam kehutan dan waktunya makin lama makin tidak teratur. Dengan demikian dia memaksa asuhan-asuhannya untuk mencari makan sendiri, hingga akhirnya kera-kera menghilang dan tidak hidup dekat perkemahan.

Akan tetapi apakah kera-kera yang di-"bebas"-kan kembali itu membuat keturunan, masih menjadi suatu pertanyaan. Sebab hutan pun menjadi kecil. Di luar cagar alam-cagar alam, kayu-kayu sudah dijual sebagai kayu berharga di pasaran, ataupun hutan dibuat perkebunan dan para penduduk asli membuat ladang dengan cara membakar hutan.

Padahal si "orang utan", yang suka hidup sendiri di hutan, membutuhkan lebih banyak tempat untuk mengembara mencari makanan daripada binatang buas lain. Dan setiap pohon yang ditebang, berarti semakin mendekatnya kepunahan jenis orang utan.

Birute Galdikas meninggal dunia

Dilaporkan National Geographic Indonesia, Birute Galdikas meninggal dunia pada Selasa dini hari, 24 Maret 2026, di Los Angeles, California, Amerika Serikat.

Lahir di Jerman, Galdikas menyelesaikan pendidikan PhD di bidang antropologi di University of California, Los Angeles (UCLA). Dia kemudian bekerja dalam proyek rehabilitasi orang utan yang dilindungi di Taman Nasional Tanjung Puting.

Sebagai informasi, Galdikas adalah satu dari tiga perempuan, termasuk Jane Goodall dan Dian Fossey, yang didorong oleh Louis Leakey—seorang National Geographic Explorer—untuk mempelajari kera besar di lingkungan alaminya. Pada 1971, Galdikas melakukan perjalanan ke Pulau Kalimantan untuk mulai mempelajari orang utan liar – dan kemudian menjadi “ibu” mereka.

Buah dari perjuangannya sejak 1971, Galdikas berhasil mengembalikan 2.000 orang utan ke habitat asalnya. Pada 1986, Galdikas ikut mendirikan Yayasan Orang Utan Internasional (OFI), sebuah organisasi yang didedikasikan untuk konservasi, perlindungan, dan rehabilitasi orang utan dan habitat alaminya.

Lewat organisasi itu, dia menggalakkan kegiatan penulisan majalah dan jurnal, pengembangan karantina orang utan, pendidikan bagi orang utan muda, dan menjaga keseimbangan populasi orang utan. Studi jangka panjangnya sangat memperluas pengetahuan kita tentang perilaku dan ekologi orang utan liar.

Artikel Terkait