Editor
Raja Faisal dikenal sebagai Raja Arab Saudi yang gigih membela Palestina bahkan sampai melakukan embargo minyak kepada Amerika Serikat.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com - Siapa bilang tak ada raja Arab Saudi yang getol membela perjuangan dan kemerdekaan Palestina. Dialah Faisal bin Abdulaziz al Saud, raja Arab Saudi yang justru tewas ditembak keponakannya sendiri, Pangeran Faisal.
Raja Faisal adalah raja Arab Saudi ketiga. Dia memerintahkan negara kaya minyak itu dari 1964 hingga 1975.
Saat memerintah Arab Saudi, Raja Faisal dikenal sebagai raja yang aktif dalam membangun dan memodernisasi negaranya dibanding para pendahulunya. Karena itulah dia menjadi salah satu tokoh berpengaruh di dunia Arab saat itu.
Di antara kebijakan Raja Faisal yang paling populer adalah keberpihakannya pada Palestina dalam konflik dengan Israel yang berlarut-larut. Ini juga membuktikan bahwa ada kok Raja Arab Saudi yang membela Palestina.
Dukungan itu di antaranya dibuktikan dengan memimpin embargo minyak yang menyebabkan krisis minyak tahun 1973. Langkah itu dilakukan untuk memprotes dukungan yang diterima Israel dari Barat.
Tapi naas, hidup Raja Faisal berakhir tragis. Dia tewas ditembak oleh keponakannya sendiri, Pangeran Faisal bin Musaid.
Raja Faisal lahir pada 14 April 1906 di Riyadh, Arab Saudi, sebagai putra ketiga dari Raja Abdulaziz bin Abdelrahman Al-Saud, pendiri dan raja pertama Kerajaan Arab Saudi. Saat usianya lima bulan, sang ibu, Tarfa binti Abdullah bin Abdullatif Al Sheikh, meninggal dunia.
Karena itulah, dia kemudian dibesarkan oleh nenek dari pihak ibu, Haya Al Muqbil, di rumah kakeknya Abdullah bin Abdullatif.
Dengan bimbingan dari kakeknya, Faisal kecil belajar Al-quran dan hukum-hukum Islam. Sedangkan dari sang ayah, dia belajar keterampilan berkuda dan politik.
Faisal pun tumbuh menjadi remaja yang dikenal karena keberanian, kesopanan, dan kecerdasannya. Dan karena kecerdasannya itu, Faisal dipercaya ayahnya menjadi wakil di berbagai acara internasional, sejak usianya masih remaja.
Menurut beberapa sejarawan, Faisal, yang ketika itu statusnya masih Pangeran, menerangi medan perang dengan kecerdasan dan keberaniannya, serta gedung-gedung pertemuan politik dengan kebijaksanaan dan tekadnya. Rupanya dia senantiasa mengikuti jejak ayahnya untuk selalu bersikap adil dan tegas mengatakan kebenaran, sehingga orang-orang mencintainya, menghormatinya, dan kagum kepadanya.
Pada 1922, Pangeran Faisal mendapat perintah untuk merebut kendali atas wilayah Asir dan Hail. Perintah itu berhasil dia tunaikan bersama 6.000 pasukannya.
Tiga tahun kemudian, Pangeran Faisal menaklukkan Hijaz, wilayah tepi barat Arab Saudi yang meliputi Madinah dan Mekkah. Atas prestasinya tersebut, Pangeran Faisal diangkat menjadi Raja Muda Hijaz pada 1926 hingga 1932.
Lalu pada 1930, Pangeran Faisal mulai menjabat Menteri Luar Negeri Arab Saudi. Empat tahun kemudian, dia memimpin kampanye melawan Yaman yang kembali dimenangkannya.
Prestasi lainnya, Pangeran Faisal mewakili Arab Saudi di Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1945 dan kemudian menjadi duta besar untuk Majelis Umum PBB.
Pada 1953, sang ayah, Raja Abdulaziz bin Abdelrahman Al-Saud, meninggal dunia. Sebagai penggantinya, naiklah sang putra sulung, Pangeran Saud, ke takhta Kerajaan Arab Saudi. Di masa pemerintahan Raja Saud, Pangeran Faisal, yang resmi menjadi Putra Mahkota Arab Saudi, mempertahankan posisinya sebagai politisi kerajaan yang berpengaruh.
Dia juga diangkat oleh kakak tirinya itu sebagai Perdana Menteri Arab Saudi pada 1954. Jabatan ini diemban hingga kematiannya pada 1975, dengan jeda dua tahun pada 1960-1962.
Perannya pada masa itu meliputi pelarangan perbudakan di Arab Saudi, yang membuat 10.000 budak dibebaskan, dan mengatasi krisis ekonomi. Pangeran Faisal mampu melakukan penghematan dan memangkas anggaran kerajaan secara drastis, yang mampu menyelamatkan kas negara dari kebangkrutan.
Pada 1960, Pangeran Faisal mengundurkan diri dari jabatan perdana menteri, tetapi kembali lagi memegang jabatan yang sama dua tahun kemudian.
Dua tahun kemudian, Pangeran Faisal menyampaikan rancangan kebijakannya yang dikenal sebagai Sepuluh Poin Reformasi kepada Raja Saud. Beberapa poin penting dari Sepuluh Poin Reformasi Pangeran Faisal yang telah mencakup segala bidang, antara lain:
- Menerapkan sistem pemerintahan yang berbasis Syariah Islam dan membentuk Dewan Menteri Arab Saudi.
- Membangun sistem pemerintahan untuk provinsi dan memperjelas metode pemerintahan daerah di berbagai wilayah kerajaan.
- Mendirikan Dewan Peradilan Tertinggi dan Kementerian Kehakiman.
- Menetapkan Dewan Tertinggi untuk mengeluarkan fatwa, yang terdiri dari 20 ahli hukum.
- Meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat Saudi melalui perawatan medis gratis, pendidikan gratis, pembebasan bea cukai untuk banyak bahan makanan, sistem jaminan sosial, dan sistem jaminan bagi para pekerja dari pengangguran.
- Menetapkan program untuk pemulihan ekonomi, memperkuat keuangan kerajaan, mengembangkan program untuk meningkatkan standar hidup warga negara, membangun jaringan jalan yang menghubungkan pusat kerajaan dan kota-kotanya, menyediakan sumber air untuk minum dan pertanian, serta memastikan perlindungan industri nasional.
- Mengembangkan pendidikan anak perempuan serta memajukan kaum perempuan.
- Pembebasan budak dan penghapusan perbudakan untuk selamanya di Arab Saudi.
Pangeran Faisal juga punya komitmen yang cukup tinggi dalam dunia pendidikan. Hal itu ditunjukkan ketika turut berperan penting dalam pendirian Universitas Islam Madinah pada 1961.
Pada 1962, Pangeran Faisal membantu mendirikan Liga Muslim Dunia, sebuah badan amal sedunia yang juga disumbang lebih dari 1 miliar dollar oleh keluarga Kerajaan Arab Saudi. Pada 1963, dia mendirikan stasiun televisi pertama di Arab Saudi yang mengudara untuk pertama kalinya pada tahun 1965.
Pada 1964, Raja Saud digulingkan oleh para pemimpin agama, anggota senior keluarga kerajaan, dan Dewan Menteri karena program-programnya dianggap kurang memuaskan karena terlalu membuang banyak anggaran. Dan pada 2 November 1964, Pangeran Faisal resmi naik takhta menjadi raja ketiga Arab Saudi.
Dia kemudian memprakarsai serangkaian rencana pembangunan yang mengubah infrastruktur Arab Saudi. Untuk urusan dalam negeri, dia menerapkan kebijakan modernisasi dan reformasi yang belum pernah dilakukan oleh para pendahulunya, terutama di bidang ekonomi dan pendidikan.
Raja Faisal juga berhasil menstabilkan birokrasi kerajaan, dan pemerintahannya sangat populer di kalangan warga Arab Saudi, meskipun sejumlah reformasinya juga menghadapi kontroversi.
Sementara itu, tema utama politik luar negerinya adalah pan-Islamisme, anti-komunisme, dan pro-Palestina. Raja Faisal merupakan kekuatan utama di balik pendirian Organisasi Konferensi Islam (OKI), yang terdiri atas 56 negara Islam.
Dia dikenal sebagai raja Arab yang sangat mendukung Palestina dalam konflik berkepanjangan dengan Israel.
Pada masa pemerintahannya, terjadi dua perang negara-negara Arab dengan Israel, termasuk Perang Enam Hari (1967), dan krisis minyak (1973). Krisis minyak terjadi akibat embargo minyak yang diterapkan Raja Faisal kepada Amerika Serikat karena memberi dukungan kepada Israel.
Embargo minyak dimulai pada 17 Oktober 1973, atas hasil perjanjian negara-negara Arab, seperti Mesir dan Suriah. Embargo minyak yang dipimpin oleh Raja Faisal menyebabkan gejolak jangka panjang di pasar minyak global.
Pada 25 Maret 1975, ketika usianya 68 tahun, Raja Faisal meninggal dunia. Bukan karena sakit tapi ditembak oleh keponakannya sendiri, Pangeran Faisal bin Musaid, yang baru saja kembali dari Amerika Serikat.
Dia ditembak dari jarak dekat, saat Raja Faisal hendak mencium keponakannya itu sesuai tradisi kerajaan. Saat itulah Pangeran Faisal mengeluarkan pistol dan melepas dua tembakan kepada raja.
Tembakan pertama mengenai dagu Raja Faisal dan tembakan kedua menembus telinganya. Seorang pengawal segera memukul Pangeran Faisal dengan pedang bersarung, sedangkan Raja Faisal dilarikan ke Rumah Sakit Pusat di Riyadh.
Sempat mendapatkan perawatan intens dari dokter, Raja Faisal akhirnya mengembuskan napas terakhirnya.
Sebagai informasi, Pangeran Faisal bin Musaid adalah putra dari Musaid bin Abdulaziz, saudara tiri Raja Faisal. Sampai saat ini tidak diketahui secara pasti apa sebab Pangeran Faisal bin Musaid menembak Raja Faisal.
Spekulasi pun bermunculan. Di antaranya, bahwa Pangeran Faisal bin Musaid dan kekasihnya adalah agen rahasia Amerika Serikat. Pada tahun yang sama, Pangeran Faisal bin Musaid dieksekusi mati, sedangkan Pangeran Khalid, saudara tiri Raja Faisal, naik takhta menjadi raja keempat Arab Saudi.
Begitulah riwayat Raja Faisal, Raja Arab Saudi yang punya simpati yang cukup besar terhadap perjuangan rakyat Palestina melawan Israel.