Editor
Wongso Suseno, keturunan Tionghoa, petinju Indonesia pertama yang jadi juara internasional. Dijuluki Super Quick.
Diolah dari artikel berjudul "Wongsosuseno, Profil Seorang Juara yang Rendah Hati" tayang di Majalah INTISARI edisi Juli 1976 | Penulis: Tan Liang Tie
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com - Wongso Suseno, petinju Indonesia pertama yang berhasil meraih salah satu gelar juara resmi dalam dunia pertinjuan internasional sejak berdirinya IBC, persatuan tinju profesional Indonesia, tahun 1970.
Tan Liang Tie pernah menceritakan pertemuannya dengan Wongso Suseno pada 1976 kepada Majalah INTISARI.
“Bentuk tubuh yang kekar atletis, sikap yang tegap, sorot mata yang mantap memang merupakan tanda-tanda pengenal khas seorang petinju. Selain itu saya tidak merasa berhadapan dengan seorang juara tinju internasional. Jabatan tangannya ramah dan rileks, sikap kelakuannya sederhana dan berendah-hati,” tulis Tan.
Tapi, lanjutnya, di belakang kesederhanaan itu pemuda tampan berkulit sawo matang gelap, memberikan kesan memiliki kepribadian berwatak dan berkemauan keras. Ketika itu, Wongso Suseno masih 29 tahun.
Bakat dan hasrat
Bakat dapat orang miliki, tapi pengarahannya tidak selalu sesuai dengan hasrat. Dalam bakat yang orang miliki dalam olahraga tidak jarang terdapat bakat khusus akan olahraga tertentu, jenis olahraga yang serasi dengan kepribadian, dengan watak dan sifat. Tapi tidak jarang pula pengarahan hasrat pemilik bakat kurang tepat, bahkan seringkali meleset sama sekali, tidak serasi.
Dalam hal Wong Sosuseno nampaknya keserasian ada. Kegemaran akan segala macam latihan badan, gerak badan, dalam bentuk apa pun yang bukan khas olahraga, memang dimilikinya sejak kecil. Ada bentuk lain ke mana kelebihan energi itu tersalur, yaitu dalam kesukaannya untuk berkelahi. Bukan berkelahi sebagai luapan sifat keberandalan atau berdasarkan keinginan untuk menguasai, menjagoi teman-teman semata-mata. Menurut pengakuannya hanya sekedar karena suka sekali berkelahi. Tidak dikatakan, bahwa dia selalu yang menang, tapi selalu orangtua lawan berkelahi yang datang mengadu pada orangtua Wongso dan bukan sebaliknya.
Kalau berkelahi selalu dipilih tempat-tempat khusus, caranya sudah mengarah ke saling adu jotos. Dan sejak masa masih anak itu padanya sudah ada kebiasan untuk menangkis, mengelak, dan sebagainya.
Kian bertambah umurnya, beralih sekolah dari SD ke SMP, bahkan bertambah minatnya terhadap olahraga adu jotos. Wongso bertambah gemar memperhatikan gambar-gambar orang bertinju. Dan sekitar umurnya 14 tahun timbul pada dirinya hasrat untuk menjadi petinju.
Ketika itu, Atjong, pernah beberapa tahun juara nasional, adalah petinju pujaan kota Malang, bahkan di Jawa Timur. Suatu hari Wongso memberanikan diri untuk menemui Atjong di tempat latihannya dan menyatakan ingin turut berlatih. Betapa kecewanya ketika ditolak mentah-mentah. Alasannya, masih terlalu kecil lagi dinyatakan terlalu kurus.
Wongso kecil tidak berkecil hati karenanya. Langsung dia mulai melatih diri dengan benda berat, dalam olahraga disebut angkat besi, tapi yang tiap hari diangkat-angkat Wongs adalah halter dari semen buatan sendiri, benar-benar dibuat sendiri.
Dua tahun lamanya dia berlatih "semen", hasilnya tampak juga. Pundak melebar, dada membesar, otot-otot lengan, tangan, paha, kaki mengeras. Tatkala itu ayahnya menasehatkan Wongso untuk belajar silat, ilmu bela diri yang kini populer dengan sebutan Kung Fu.
Ayahnya, sudah tidak ada sejak tahun 1973, seorang keturunan Tionghoa masih totok dan ahli membuat sepatu, memang juga seorang ahli silat walaupun bukan bertingkat "suhu". Maka selama dua tahun Wongso belajar silat di bawah asuhan ayahanda sendiri. Tapi "kunthauw" zaman dulu itu, kunthauw klasik, memang agak menjemukan di masa belajar. Setelah dua tahun Wongso pun sudah jemu dan dia berhenti saja – kunthauw atau kuntau adalah seni bela diri tradisional khas suku Banjar di Kalimantan Selatan yang berakar dari budaya Tionghoa, yang mengkombinasikan gerakan lincah, pertahanan, dan serangan mematikan.
Selama Wongso bercerita tentang hasratnya untuk bertinju, tentang masa remajanya, penulis mendapat kesan bahwa dia sangat menghormati ayahnya dan amat cinta pada ibunya yang adalah seorang perempuan pribumi. Wongso adalah anak ke-7 dari sembilan orang putera, di antaranya tiga perempuan.
Karier tinju
Wongso Suseno lahir pada 17 November 1945 dengan nama Tionghoa Wong Kok Sen. Sekitar tahun 1966, Wongso sudah kira-kira berumur 19 tahun, suasana dan keadaan pertinjuan amatir di kota Malang di bawah naungan Pertina baik sekali. Salah seorang petinju terbaik di Malang kala itu adalah Setiadi Hadilaksono, yang kemudian menjadi pelatih dan manajer Wongso. Dan Setiadilah yang menerima Wongso di sasananya, ketika dia datang "melamar".
Sejak itulah benar-benar baru dimulai karier tinju Wongso. Latihan serius dan ketekunan yang teratur dan tertentu, tapi anehnya tanpa diketahui oleh orangtuanya sama sekali. Tatkala mereka tahu bahwa putranya telah menjadi petinju adalah waktu Wongso keluar dari perlombaan seleksi se-Jawa Timur sebagai salah seorang juara. Mula-mula kedua orangtua, terutama ibunda kuatir, ayahanda lebih condong pada silat saja. Tapi pada akhirnya mereka merestui juga hasrat puteranya untuk menjadi petinju. Seperti Atjong, katanya, tapi lebih baik dari dia. Pesan kedua orangtua supaya selalu berhati-hati.
Karier Wongso yang cukup cemerlang dimulai di Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-7 tahun 1969 di Surabaya. Bersama Setiadi Hadilaksono Wongso menangkan medali emas, Setiadi dalam kelas berat dan Wongso dalam kelas Welter. Lawan Wongso yang berhasil dikalahkan antara lain adalah Frans van Bronckhorst. Wongso terpilih sebagai petinju terbaik dalam pesta olahraga nasional terbesar itu.
Tahun 1970 berdirilah Komisi Tinju Indonesia (KTI) atau yang dalam bahasa Inggris disebut Indonesian Boxing Commission (IBC), organisasi nasional untuk tinju bayaran atau profesional. Dan Wongso pun menggabung diri di dalamnya. Awal karier di tahun 1971 cukup mengesankan. Suatman dan Freddie Ramschie dikalahkan dengan TKO, kemudian dalam pertandingan ulangan menang lagi atas Ramschie dengan angka, dan selanjutnya atas Coldenhoff juga dengan angka. Tapi dalam pertandingan perebutan gelar IBC di Jakarta akhir tahun Wongso di-KO oleh Ramschie. Kiranya pengalaman telah berbicara.
Neraca sukses di tahun 1972 bagi Wongso pun masih agak kurang meyakinkan. Dia bertanding tiga kali lawan petinju-petinju luar negeri, dari Filipina dan dari Thailand. Dua kali menang angka dan sekali kalah KO oleh Chanakiat dari Thailand.
Kalender tinju Wongso tahun 1973 cukup padat. Tidak jarang, bahkan sering sekali pertarungan saling bersusulan hanya lewat dua pekan. Dimulai dengan merebut gelar IBC dari tangan Ramschie di Surabaya. Wongso menang TKO di babak ke-3. Kemudian secara berturut-turut lawan Chanakiat, sekali di Malang kemudian di Jakarta, selisih waktu dua pekan, kedua kali menang KO, di Malang di babak ke-5 dan di Jakarta di babak ke-6. Tahun 1973 itu Wongso tidak pernah kalah lagi, hanya sekali seri lawan Pasumil dari Filipina.
Tiga kali menang lagi, lawan petinju-petinju luar negeri dua kali dan lawan Ramschie sekali, dalam tahun 1974 menang KO atas petinju Filipina dan dengan angka lawan Ramschie, tahun 1975 menang angka lagi atas Gonzales dari Filipina. Setelah pertandingan ini Wongso beralih ke kelas lebih ringan ke kelas Junior Welter. Keputusan yang cerdik dan langkah yang menguntungkan baginya. Tinggi badan Wongso adalah 1,70 m, berat badan yang maksimal bisa dicapai ialah 64 kg, sedang batas maksimum untuk kelas Welter sampai 66,8 kg. Batas untuk kelas Junior Welter 63,8 kg, mudah bagi Wongso untuk menyesuaikan beratnya.
Maka langkah berikutnya adalah perebutan gelar Orient Boxing Federation (OBF) – yang kemudian berubah menjadi Oriental and Pacific Boxing Federation (OPBF) setelah federasi tinju Australia bergabung pada 1977 – di kelas Junior Welter. Tantangan atas juara dari Korea Selatan, Chang Kil Lee, berhasil dan di Jakarta Wongso tahun 1975 menjadi juara Junior Welter OBF. Kemenangan Wongso atas Chang Kil Lee diperoleh dengan angka. Dan oleh World Boxing Council (WBC) dia ditempatkan di urutan ke-10 pada daftar penantang untuk juara dunia, Saensak dari Thailand.
Dalam tahun 1976 ini Wongso telah meladeni dua tantangan resmi, pertama dari petinju Meksiko Ferrat dan kedua dari petinju Filipina, Dan de Guzman. Ferrat dikalahkan dengan angka dan Guzman dengan KO di babak ke-11 dalam pertandingan 12 babak.
Menurut Soebianto Kadaroesman, salah satu faktor kesuksesan Wongso adalah karena dia mempunyai pelatih yang cerdik dalam diri Setiadi Hadilaksono. Hal itu dibenarkan oleh Tjiptomoerti. Dia bilang, taktik bertarung, bahkan teknik dan gaya Wongso menjelang pertandingan disesuaikan dengan teknik dan gaya bakal lawannya. Jika dianggap perlu bahkan didatangkan lawan berlatih, "sparring partner", yang dalam gaya dan teknik hampir menyamai bakal lawan.
Dapat penghargaan di Hari Pahlawan dan akhir hayat
Pada Hari Pahlawan 2020, Wongso Suseno, dan beberapa mantan atlet berprestasi lainnya, mendapat penghargaan dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur. Selain dirinya, ada Yusuf Ekodono (sepakbola), Sodiq Pamungkas (tinju), Tarwi (balap sepeda), Musiamin (atletik), Pranoto (silat), Agus Setiawan (atletik), Abdurrahman bin Semir (atletik), dan Soepardji (anggar).
Pada Senin, 17 November 2025, Wongso Suseno, yang di kalangan dunia tinju dijuluki dengan “Super Quick”, mengembuskan napas terakhirnya di RS Panti Waluya Sawahan, Kota Malang. Wongso meninggal setelah berjuang melawan sakit yang menyerangnya. Dia meninggal tepat di hari ulang tahunnya yang ke-80.
Wongso meninggalkan istri, Lily Cynthia yang dia nikahi pada 1978, dan empat anak yaitu Imeldha Putrianti, Marini Dwiputrianti, Albert Jaya Putra, dan Wong Veronica Wongso Putri. Wongso sendiri sudah menggantung sarung tinju seiring kelahiran sang putri pertama pada 1979.
Meski begitu, dia tetap aktif di dunia tinju dengan menjadi pelatih dan mengantarkan mereka memperoleh gelar juara dunia, seperti Nurhuda, dan lain sebagainya.