Beras Jadi Arak, Tebu Jadi Gula, Kacang Tanah Jadi Minyak, Semuanya ‘Warisan’ Tionghoa

Moh. Habib Asyhad

Editor

Tak hanya yang canggih-canggih, keturunan Tionghoa juga menularkan teknik-teknik sederhana yang melegenda di Indonesia. Seperti mengobah tebu jadi tebu, beras jadi arak, hingga kacang tanah jadi minyak lampu (WIKIPEDIA COMMONS)

Tak hanya yang canggih-canggih, keturunan Tionghoa juga menularkan teknik-teknik sederhana yang melegenda di Indonesia. Seperti mengobah tebu jadi tebu, beras jadi arak, hingga kacang tanah jadi minyak lampu.

Artikel ini tayang di Majalah Intisari edisi Bonus Oktober 2002 dengan judul "Teknik Sederhana nan Melegenda" | Penulis: M. Sulhi

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com - Jauh sebelum bangsa Eropa mengenal Nusantara, orang Cina di Indonesia telah mengkontribusikan "kemampuan teknisnya" yang luar biasa. Tak hanya membangun dasar-dasar industri pertanian, sektor terpenting kala itu, mereka juga memelopori alur hulu-hilir: beras diolah jadi arak, tebu untuk gula, kacang tanah buat minyak, dan sebagainya. Sumbangan yang diikuti dengan penuh kekaguman oleh penulis-penulis Barat tempo doeloe.

Dalam Bataviaasch Genootschap, seperti dikutip ulang oleh Denys Lombard di buku Nusa Jawa: Silang Budaya, penulis Belanda Jay Hooyman melukiskan dengan penuh hormat kepeloporan etnis Tionghoa di Batavia.

Kata Hooyman, "Jung-jung yang setiap tahun datang ke sini untuk berdagang, membawa sejumlah besar orang Cina, antara 1.200 atau 1.300 orang, sangat berguna untuk pekerjaan sulit, terutama pekerjaan pertanian. Tanpa mereka, sulit, bahkan mustahil ada ladang tebu, nila, kacang tanah di wilayah pinggiran kota kita."

Revolusi pemisah beras

Paling menonjol, tentu kontribusi mereka membudidaya tebu. Seperti dimaklumi, tebu tergolong tanaman yang butuh waktu lama untuk tumbuh, sekitar 12 - 14 bulan. Dalam masa pertumbuhan, tanaman harus terus-menerus disirami air. Karakter seperti itu sangat merepotkan petani. Namun, para imigran Tionghoa berhasil menciptakan pompa berpedal (trap-pump) yang memungkinkan petani menghasilkan tebu sambil tetap menghemat tenaga.

Tak cukup sampai di situ, mereka juga menciptakan mesin penggiling tebu, sekaligus mendirikan pabrik gula. Pabrik-pabrik gula pertama ini tak hanya dibangun di Batavia dan sekitarnya, tetapi merambah hingga Jawa Timur dan Jawa Tengah. Statistik pemerintah kolonial menunjukkan, di antara 55 penggilingan yang berfungsi tahun 1779, 26 dimiliki orang Cina, 24 punya orang Eropa, sisanya milik VOC.

Konstruksi mesin penggiling tebu saat itu sangat sederhana. Dua tabung kayu didampingkan dalam posisi tegak lurus, diputar oleh seekor lembu dengan perantaraan sebuah sistem roda gigi serta sebuah poros sepanjang lima belas kaki (sekitar 4,5 m). Nah, tebu dimasukkan di antara kedua tabung kayu tadi, kemudian diperas dua kali untuk mendapatkan sari sebanyak mungkin.

Dekat penggilingan (pada musim panen, alat ini bisa berputar sepanjang hari dengan hewan penarik diaplus tiap setengah jam), terdapat delapan belanga yang selalu dipanasi. Pemanasan bertujuan sedikit demi sedikit mengubah sirup bening di dalam belanga menjadi cairan berkelir kecoklatan , yang kemudian berubah lagi menjadi gula kental. Konon, belanga zaman itu diimpor dari Cina, kemungkinan besar dari Foshan (dekat Kanton) yang pabrik metalurginya masa itu sangat terkenal.

Gula kental yang sudah berbentuk sirup lantas dialirkan ke wadah-wadah kecil bulat yang disebut tempolong. Begitu kering, briket-briket gula tadi dikeluarkan dari tempolong dan ditaruh di keranjang bambu, baru kemudian diangkut dengan sampan ke Batavia. Soalnya hanya di pecinan kota ini terdapat penyulingan pengubah gula coklat menjadi gula batu. Kanal-kanal di Batavia, seperti Ancol atau Molenvliet, awalnya memang dibangun untuk memuluskan jalan sampan pembawa keranjang gula.

Pemerintah kolonial kian terbengong-bengong, manakala orang Cina juga bisa "menyulap" tebu menjadi arak. Tahun 1778 Hooyman melaporkan, Belanda sudah menemukan sebuah pecinan yang sangat maju dan makmur di Jakarta pada 1611. Konon, merekalah pembangun loji pertama di Batavia. Selain berdagang beras, mereka memiliki pabrik penyulingan minuman keras dari beras dan tebu. Saat itu, jumlah tempat penyulingan sejenis di Batavia mencapai 20-an buah, semuanya dimiliki dan dioperasikan oleh orang Tionghoa.

Arak dengan rasa khas itu, mereka menyebutnya tsieuw (ciu), dibuat dengan teknologi yang secara eksklusif dikembangkan orang Cina. Tsieuw sangat jernih dan mengandung kadar alkohol tinggi, karena dibuat dari tiga macam bahan: beras yang difermentasi, tetes tebu, dan tuak dari nira. Sebuah penyulingan rata-rata memasok 18 pikul (sekitar 900 liter) arak. Lebih dari cukup untuk memasok karyawan VOC dan kalangan partikelir.

Selain tebu, orang Cina juga mengembangkan sebuah varietas padi, yang disebut padiejeree. Namun, tulis Jay Hooyman, sumbangan paling luar biasa adalah ketika tahun 1750 mereka menciptakan sejenis alat pemisah beras yang sangat efisien. Berbateraikan dua atau tiga ekor lembu, alat ini sanggup mengolah empat hingga lima ratus pon beras per hari. Bandingkan dengan lesung tradisional yang hanya dapat mengolah seratus pon beras per hari. "Revolusi" itu langsung mendongkrak produksi beras Batavia yang nyaris tertimpa krisis.

Hooyman juga menyebut budidaya kacang tanah. Tanaman itu sesungguhnya telah dikenal di Indonesia sejak abad ke-17. Namun, baru masuk ke Batavia sekitar tahun 1775, diduga dibawa oleh imigran Tiongkok. Selain dikonsumsi sebagai pelengkap masakan, hasil panen kacang tanah lazimnya dibawa juga ke penggilingan terdekat untuk disulap menjadi minyak, yang mutunya dikenal bagus dan disukai banyak orang. Minyak itu bisa dimanfaatkan, baik untuk makanan maupun penerangan.

Hebatnya, di samping untuk Batavia dan keperluan perang Belanda, minyak itu juga diekspor ke pedalaman Jawa. Mirip penemuan teknologi pemisah beras yang kembali membuat Batavia berswasembada, kehadiran minyak kacang tanah itu juga menjawab kegundahan Gubernur Jenderal Jacob Mossel (1751) yang tahun 1751 pernah mengeluhkan kurangnya pasokan minyak untuk Batavia.

Alat giling tebu tradisional yang mengolah tebu menjadi gula yang diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa (INTISARI)

Aneka logam dari Cina

Di luar urusan pertanian, besi dan logam Cina ternyata sudah diakrabi masyarakat Nusantara sejak zaman Kerajaan Sriwijaya. Untuk membuat senjata, logam dan besi dalam bentuk batangan kerap didatangkan dari Tiongkok. Catatan Zhao Rugua, pengurus pelabuhan di abad ke-13 menunjukkan, ekspor batang besi ke Formosa, Palembang (Sanfoqi), dan Semenanjung Malaka lumayan besar jumlahnya. Di abad ke-15 Feixin juga mencatat kiriman barang yang sama ke Samudera Pasai.

Salah satu jejak kehebatan pandai besi Cina tertinggal di Banda Aceh hingga kini. Yakni sebuah lonceng terbuat dari besi cor yang dibuat tahun keempat tahun Chenghua dinasti Ming, sekitar tahun 1469. Menurut cerita, lonceng itu dihadiahkan penguasa Cina buat Samudera Pasai. Ketika Kerajaan Aceh menyerbu Pasai, lonceng itu dibawa ke Banda Aceh dan lama sekali tersimpan di istana para Sultan.

Saking terkenalnya, lonceng lambang kemajuan teknologi tanah seberang itu bahkan masuk legenda rakyat Aceh dan diberi gelar Cakra Dunia. Sayang, setelah dipindahkan ke Museum Banda Aceh tahun 1915, lonceng yang umurnya sudah berabad-abad itu mengalami kerusakan, diduga akibat cuaca, sehingga tanggal pembuatan yang melekat di tubuhnya tak lagi jelas terbaca.

Tembaga, bahan yang dibutuhkan untuk campuran perunggu, pun kerap dipasok dari Cina. Pada abad ke-18 Francois Valentijn, seperti dikutip Lombard, mencatat bahwa orang Cina di Batavia sudah sangat maju dalam pengerjaan tembaga dan calin (dalam bahasa Melayu menjadi kaleng), semacam logam campuran perak dan tembaga atau perak dan timah. Konon, mereka sanggup meniru model apa pun. Hasilnya tak kalah dengan kerajinan perak, meski ongkos bikinnya jauh lebih murah.

Pemukim awal Cina di Indonesia datang dengan konsep sistem tata kota yang lebih modern. Chinatown di Banten yang diceritakan Edmund Scott di awal abad ke-17 adalah kota dalam kota yang dipisahkan oleh sebuah kali. "Rumah-rumahnya dibangun dengan pola bujur sangkar, terbuat dari bata, dengan jalur pemisah dari pasir, guna melindungi diri dari kebakaran," tulis Lombard.

Sistem penataan seperti itu, banyak pihak menyebut, mirip konsep Barat, jelas pemandangan baru buat masyarakat lokal. Bagi orang Cina, kota adalah ruang heterogen. Kota menjadi tempat berkumpulnya pusat penggerak ekonomi pertukaran, juga berkembangnya gaya hidup khas. Sebaliknya, tata ruang versi lokal lebih mengenal kota sebagai kawasan padat, dengan pusat-pusat keagamaan, politik, tempat-tempat ibadah, dan kediaman bupati atau pejabat yang melambangkan kekuasaan.

Walaupun mirip Barat, konsep perkotaan Tiongkok tampak lebih manusiawi, karena menerapkan ilmu ruang khas Cina, fengshui. Yang didasari gagasan kuno bahwa manusia harus hidup selaras dengan kosmos. Untuk menentukan arah, mereka mempunyai semacam kompas yang berpenampilan rumit. Sedangkan untuk mengukur, dipakai penggaris khusus yang panjangnya 43 cm. Konon semua teknik itu sudah diperkenalkan di Pulau Jawa sejak abad ke-17.

Orang Cina juga disegani karena konsep pengobatannya yang punya pendekatan khas. Sejak abad ke-17, tradisi pengobatan Cina sudah berkembang di berbagai pelosok Nusantara. Tahun 1640 etnis Tionghoa di Batavia bahkan memiliki rumah sakit sendiri, yang bertahan hingga akhir abad ke-18. Di abad ke-19, fasilitas serupa dibangun di Riau (1828), Semarang (1845), dan Bangka (1849).

Francois Valentijn bercerita tentang para penyembuh Cina yang bermodalkan ginseng dan moxa itu dengan penuh takjub. Sedikitnya ada dua tokoh yang ilmunya sangat dikagumi, sehingga diizinkan merawat pejabat-pejabat Belanda. Pertama Maitre Isaac, konon dia salah satu penerima upah bulanan tertinggi masa itu, sekitar 10 rial. Sedangkan Chieu Bi Tia sempat merawat dan menyertai Gubernur JenderaJ van Goens (1678 - 1681) ke Belanda, sebelum kembali dan wafat di Batavia tahun 1686.

Buku manual swipoa

Rasanya kurang lengkap kalau belum membahas kontribusi para pedagang Tionghoa yang terkenal itu. Sedikitnya ada dua teknologi sederhana sumbangan mereka yang melegenda hingga kini, yakni timbangan bernampan satu dan swipoa – yang lidah kita lebih mengenalnya sebagai sempoa atau sipoa. Timbangan bernampan satu, orang Melayu menyebutnya dacing atau dacin (dari kata Cina, dacheng), sudah dikenal di Sumatera sejak akhir abad ke-16. Sedangkan swipoa, berasal dari kata suanpan, jejaknya tercium tak lama kemudian.

Seorang kapten Inggris yang mengunjungi Kalimantan tahun 1714 mencatat para pedagang di Banjarmasin sudah berhitung pakai swipoa. Di Jawa sendiri, pemakaian alat hitung sederhana ini diyakini mulai abad ke-19. Pada abad ke-20 penggunaannya makin meluas. Sampai-sampai ada sebuah buku panduan, semacam buku manual yang diterbitkan di Batavia, menjelaskan cara menggunakan swipoa, terutama bagi orang Belanda.

Lombard juga menyebut picis, mata uang terbuat dari tembaga yang dipergunakan di Jawa hingga akhir abad ke-18 sebagai sumbangan dunia bisnis Tionghoa yang tak ternilai. A.W.A. Michielsen dalam sebuah artikel yang diterbitkan tahun 1939 mencatat bagaimana kepeng (nama lain picis) di Jawa sedang terdesak oleh uang VOC. Namun, kepeng tetap menjadi satu-satunya mata uang yang berlaku di Sumatera Bagian Tenggara hingga abad ke-20!

Umur rupiah saja belum sepanjang itu, ya? (Muhammad Sulhi)

Artikel Terkait