Jadi Saksi Transisi Orde Lama ke Orde Baru Lalu Jatuh Cinta dengan Indonesia

Moh. Habib Asyhad

Editor

Patu Pancoran sebelum dihimpit jalan tol. Ini adalah cerita tentang Horst H. Geerken, insinyur Jerman yang bekerja di Indonesia dan menjadi saksi peralihan kekuasaan dari Bung Karno ke Soeharto (Kartono Riyadi via Intisari)

Ini adalah cerita tentang Horst H. Geerken, insinyur Jerman yang bekerja di Indonesia dan menjadi saksi peralihan kekuasaan dari Bung Karno ke Soeharto.

Tayang di Majalah Intisari dalam rubrik Cukilan Buku dengan judul "Menjadi Indonesia Cara Orang Jerman" | Pencukil: Mayong Suryo Laksono

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com - Ini adalah cerita tentang Horst H. Geerken yang jatuh cinta dengan Indonesia. Dia bukan ilmuwan, seniman, atau rohaniawan; tapi insinyur di perusahaan Jerman AEG-Telefunken yang 18 tahun (1963-1981) bekerja dan menjadi bagian dari masyarakat Indonesia.

Dia memberi nama Permata bagi putrinya, membuktikan khasiat jamu dan kerokan, juga percaya pada nujum dan kekuatan keris. Dia juga percaya guna-guna dan melakukan selamatan bagi rumah tinggalnya. Lewat bukunya, A Gecko for Luck, 18 Years in Indonesia (2010), dia juga saksi yang jujur bagi transisi pemerintahan Bung Karno ke Orde Baru.

Inilah kisah Horst H. Geerken:

"Kerja di luar negeri adalah cita-cita saya sejak kecil. Kedua orangtua saya adalah pelancong yang telah mengunjungi hampir semua negara. Saat berulang tahun ke-90 Ayah bergurau, ‘Mungkin hanya Bulan yang belum kami kunjungi.’

Setelah tamat kuliah teknologi komunikasi di Tubingen, saya ke Amerika untuk mencari kerja. Sebelumnya, di masa kuliah, saya pernah ikut pertukaran mahasiswa ke beberapa negara Eropa dan ikut German Academic Exchange Service di Turki. Jauh sebelum itu, saat umur enam, saya telah disekolahkan di Stuttgart dan ikut keluarga angkat.

Di New York, setelah menjalani seleksi dan menyatakan diri bukan orang komunis, saya diterima kerja di sebuah pembangkit listrik. Listrik diperlukan untuk pendirian radar peringatan dini. Di tahun 1960, wilayah utara AS menjadi perhatian karena dari sanalah serangan Uni Soviet mungkin akan berawal.

Lewat cabang perusahaan Telefunken di New York, pada musim panas 1961 saya memperoleh tawaran untuk bekerja di Indonesia. Di negeri asing itu saya akan menjadi "Resident Engineer" dan merintis pembukaan cabang Telefunken. Saya tertantang.

Saya pun kembali ke Jerman untuk mempersiapkan diri. Belajar tentang Indonesia, dan kebetulan saya mengenal dua perwira militer Indonesia yang sedang sekolah di Jerman. Di Indonesia, merek elektronik Telefunken cukup dikenal meski belum ada perwakilan resmi.

Hampir dua tahun saya mempersiapkan diri. Karena perusahaan menganggap berbahaya seorang laki-laki lajang bertugas di luar negeri, saya pun menikahi pacar saya lebih dulu. Hannelore, sekretaris Kepala Departemen Ekspor (waktu itu sudah merger) AEG-Telefunken, ternyata juga menyukai petualangan.

Tidak ada penerbangan langsung ke Asia Tenggara. Pesawat Super Constellation dan DC6 terbang ke Kairo, berlanjut ke Karachi, dan paling jauh sampai Bangkok dalam waktu 4 hari. Baru beberapa tahun kemudian maskapai BOAC mengoperasikan jet 36 penumpang de Havilland Comet IV, terbang sampai Singapura. Saya minta izin untuk pergi naik kapal laut. Alasan saya sekalian bulan madu, dan tentu saja supaya bisa membawa lebih banyak barang.

Ya, selain perlengkapan perusahaan, saya juga membawa meja-kursi, alat masak, perkakas dapur, mesin cuci dan pengering, generator listrik, pendingin udara - termasuk mobil untuk keperluan pribadi istri saya. Semua masuk ke MS Victoria dalam pelayaran melalui Yunani, Turki, Terusan Suez, Bombay (sekarang Mumbai), Karachi; dan di setiap kota yang ada perwakilan AEG-Telefunken saya singgah beberapa hari tergantung jadwal kapal. Sesampai di ekuator, sebagai orang yang baru pertama kali melewatinya, kami berdua menjalani ritus: kru memecahkan telur ayam di kepala kami, menuangkan saus dan sirup, dan membuang kami ke kolam renang. Akhirnya, pada pagi hari 22 November 1963, saat Presiden Kennedy di AS ditembak, kami melintasi Selat Sunda dan menatap Gunung Anak Krakatau. Sampailah kami di Jakarta. Dalam kontrak kerja disebutkan, saya punya jatah cuti pulang tiga tahun sekali. Ternyata saya baru pulang empat tahun kemudian. Kembali lagi ke Indonesia dan menghabis- kan bertahun-tahun lagi di sana.

Mandi pakai gayung

Di Jakarta yang panas, saya langsung berkenalan dengan suara bising, bau selokan, lalu-lalang becak, suara azan, kadang sayup-sayup suara gamelan. Saya mondar-mandir di banyak instansi untuk mengurus izin kerja, izin tinggal, dan banyak hal yang berhubungan dengan pekerjaan saya. Di Jakarta kami bermitra dengan PT Guna Elektro.

Kota berpenduduk empat juta jiwa itu baru memiliki satu lampu lalu lintas, yakni di perempatan Harmoni, di depan bangunan monumental warna putih yang berdiri sejak tahun 1810 dan dulu digunakan sebagai tempat pesta dan kumpul-kumpul pejabat Belanda (bangunan itu sudah tidak berbekas, red).

Di Lapangan Medan Merdeka sedang dibangun tugu Monumen Nasional. Tak jauh dari situ terdapat Gereja Katedral, dan di depannya Masjid Istiqlal baru dua tahun diresmikan Presiden Sukarno.

Imigrasi Indonesia, dan instansi pemerintah pada umumnya, menempuh cara kerja warisan Belanda namun menjadi tidak efisien dan penuh liku karena para pekerjanya amat menikmati kedudukan sebagai pengganti orang Belanda di masa lalu. Antrean panjang, proses administrasi lama dan bertele-tele. Seorang pengusaha Cina memberitahu, "Kalau kamu tidak menyisipkan beberapa ribu rupiah, paspormu akan dipindah ke tumpukan terbawah."

Setiap kali menawarkan produk atau bersilaturahmi dengan pejabat, saya harus memakai setelan jas lengkap karena mereka lebih menyukai itu. Akibatnya, saya selalu punya jas cadangan di dalam mobil karena setiap kali jas basah oleh keringat.

Setelah beberapa minggu tinggal di Hotel Indonesia, sekeluar barang dari pabean, kami pindah ke apartemen di Jalan Sultan Hasanudin, Kebayoran Baru. Sedangkan kantor saya di Blok M. Cukup dekat.

Tinggal di apartemen sungguh memberi kebahagiaan karena itulah rumah pertama kami setelah menikah. Kami di lantai dua, dengan teras menghadap tanah lapang tempat tentara berbaris setiap pagi. Di kejauhan terlihat Masjid Agung Kebayoran. Kelak bangunan itu menjadi bagian dari kompleks Al-Azhar.

Furniture kantor kami pesan dari Toko ABC di Jalan Segara yang terkenal dengan mebel-mebel berkualitas. Terpaut dua bangunan dari sana, di dekat warung sate, terdapat German Club. Sering diadakan pesta dengan makanan dan bir khas Jerman, diskusi, dan pemutaran film setiap Kamis. Banyak bujangan mencari pacar di sini, banyak pula pemuda Jerman mengajak pacarnya orang Indonesia. Ketika Presiden Sukarno melarang film asing, yang diputar hanya film dokumenter dan koleksi pribadi.

Di kamar mandi kami tidak ada bak rendam dan pancuran air. Yang ada hanya bak air dengan gayung plastik. Itulah cara mandi terbaik di negeri tropis, meski untuk kami agak mengagetkan.

Kami memiliki sopir Sudjono. Kelak, setelah kami pindah ke rumah biasa di Jalan Wijaya Timur, ada tukang masak Saamin, tukang cuci Kaintan, dan ketika istri saya mulai hamil, masuk Saidah. Perempuan Sunda inilah yang setia menggendong dan membimbing Regina Permata, putri saya, sejak lahir. Menggunakan selendang berwarna cerah untuk menggendong, bahkan saat si bayi tidur pun dia menemani. Semua yang bekerja di rumah saya cukup loyal, sedangkan banyak keluarga Jerman lain berganti pembantu hampir setiap bulan.

Saya menawarkan sistem telekomunikasi ke TVRI. Tidak hanya dengan Mr. Arief, direktur televisi, saya berteman, tapi juga beberapa pejabat di Departemen Penerangan. Proyek stasiun transmisi besar di Cimanggis juga saya dapatkan, dan belakangan menjadi simbol sukses teknologi Jerman di Indonesia. Sampai saat TVRI menyiarkan gambar berwarna, sistem yang dipakai adalah Telefunken-PAL seperti halnya beberapa negara Asia Tenggara kecuali Filipina yang mengadopsi sistem Amerika NTSC. Di negara-negara lain Prancis mempromosikan sistem SECAM, dan Amerika NTSC.

Adaptasi dengan jam karet

Banyak hal sangat berbeda dengan di Jerman. Soal waktu misalnya, sejak kecil orangtua saya mengajarkan ketepatan waktu. Kalau saya terlambat, itu akan merugikan orang lain dan bisa mengacaukan banyak hal yang terkait dengan jadwal. Di Indonesia saya sering kecewa sampai hampir frustrasi dengan "jam karet". Maka, daripada setiap kali mengumpat lebih baik menyesuaikan diri. Saya tetap taat pada jadwal, tapi harus siap mental kalau orang lain terlambat datang.

Orang Indonesia jarang bicara tegas "Ya" atau "Tidak". Mereka lebih memilih kata "Mungkin" atau "Barangkali" sebagai gantinya, atau kata "Belum" alih-alih "Tidak". Ketika saya belum punya anak dan seseorang bertanya, saya segera menjawab, "Belum."

Bahasa Indonesia juga kaya akan metafora, tidak mudah dipahami orang asing. Tapi satu hal saya salut, kedudukannya sebagai bahasa pemersatu benar-benar nyata. Kalau di awal kemerdekaan India dulu Gandhi merasa malu harus berbahasa Inggris agar bisa dimengerti seluruh rakyat India, di Indonesia kita bisa berbicara bahasa Indonesia di seluruh wilayah negeri dan semua orang mengerti.

Tiga tahun pertama sungguh adaptasi yang menantang. Berada di negara tropis di masa awal pasca-kemerdekaan membuat kami selalu waspada terhadap kondisi kesehatan. Sebelum berangkat dulu saya diingatkan soal makanan, bahwa saya harus memasak atau mengupasnya sebelum makan. Kami membatasi pada makanan impor, tapi kadang pasokan tidak banyak. Kadang kami barteran dengan sesama orang Eropa.

Mencoba beralih ke lokal, roti hanya ada buatan Tak Ek Tjoan di Bogor, dan mentega hanya buatan Lembang. Susu pun adanya hanya susu bubuk dari Australia. Untung kami bertetangga dengan Dr. Kho, dokter yang hampir selalu menyuntik pasiennya - apa pun penyakitnya - sehingga kesehatan keluarga kami terjaga.

Perekonomian Indonesia awal 1960-an terasa berat. Setiap kali menukar uang Mark nilainya selalu tambah tinggi, apalagi di pasar gelap. Harga barang, meski tidak banyak pilihan, makin murah. Seorang kawan bercerita, "Kamu bisa meniduri pelacur kuburan Kebayoran semalam suntuk dengan AS$ 15 sen saja."

Kriminalitas tinggi, dan saya mengenal pasar di Jl. Surabaya sebagai tempat barang loak dan sebagian hasil curian. Pernah suatu saat lampu belakang mobil kami hilang di keramaian Jl. Hayam Wuruk. Esoknya saya suruh Sudjono mencari di sana dan ketemu. Opel Admiral 2.8S terbilang langka di Jakarta waktu itu, tapi ternyata di sana ada sepasang lampu belakang dalam kondisi bagus. Ya, saya harus membayar untuk barang milik saya sendiri, lebih murah dari ongkos impor dari Jerman. Sesampai di rumah Sudjono memasang kembali lampu itu dengan baut dari dalam agar tak mudah dicuri.

Setahun kami tinggal di apartemen, dan kemudian pindah ke rumah di Jl. Wijaya Timur, persis di depan Sekolah Tarakanita. Seperti rumah tangga normal, dengan beberapa pekerja dan pembantu, dua ekor anjing (dan belakangan kami juga punya dua ekor kucing dan seekor monyet), Hannelore punya cukup teman saat saya tinggal bertugas ke Bali naik mobil. Pemerintah berencana mengembangkan landasan kecil buatan Belanda tahun 1931 di Tuban menjadi bandara internasional. Beberapa perusahaan Jerman terlibat. Selain AEG-Telefunken ada Siemens dan Grun & Bilfinger.

Perjalanan ke Bali saya tempuh beberapa hari, dan sepanjang waktu adalah pengalaman yang amat berharga. Sudjono, sopir yang setia dan selalu siap dengan seragam dan peci, mencuci mobil setiap pagi. Di Cirebon kami singgah satu malam. Kemudian ke Semarang melalui jalanan berkelok-kelok. Saat itu PKI sedang dalam puncak konsolidasi. Sepanjang jalan banyak aktivitasnya yang melibatkan kerumunan orang.

Karena jalanan dari Semarang ke arah timur tidak bagus, kami putuskan lewat Yogyakarta. Melalui dataran tinggi Dieng, Temanggung, sampai Magelang, saya amat menikmati keindahan Pulau Jawa. Juga makanannya.

Mungkin karena kondisi jalan dan faktor cuaca, tangki mobil bocor. Selagi saya cemas memikirkan cara perbaikan, Sudjono berkata tenang, "Tidak apa-apa."

Dia mengambil sebutir pisang mentah yang pohonnya bertebaran di sepanjang jalan, diambil sebagian kulitnya, kemudian dia campur dengan sabun mandi. Dia remas-remas butiran kecil itu, ternyata campuran sabun dan getah kulit pisang menghasilkan sesuatu yang liat seperti permen karet. Dilekatkannya "adonan" itu ke lubang bocoran tangki, ditekan-tekan hingga kering. Lubang pun tersumbat. Semula saya pikir itu hanya sementara. Sesampai di kota besar kami harus menambalnya secara permanen. Ternyata sepanjang perjalanan melalui Surabaya, Malang, Jember, menyeberang ke Bali, bahkan hingga kembali lagi ke Jakarta, tambalan itu tetap kuat. Tak kurang dari 3.000 km telah kami tempuh sampai waktu servis berikut, tangki tak bocor lagi. Keterampilan yang mencengangkan dari Sudjono, sopir saya yang setia, ayah tujuh anak dari dua istri dan belakangan tak mau punya anak lagi. Belakangan, ketika saya jelaskan metode KB untuk mencegah kelahiran sambil memberikan pil kontrasepsi istri saya kepadanya, di rumah dia langsung meminumnya.

Jamuan makan siang dengan Bung Karno

Ketika proyek berjalan, suatu saat Presiden Sukarno datang. Selain meninjau ke lapangan, dia juga ingin mendengar penjelasan dari para kontraktor dan pelaksana proyek. Maka diundanglah kami ke Istana Tampaksiring. Di Bali, bangunan monumental yang menjadi simbol Presiden Sukarno selain Tampaksiring adalah Hotel Bali Beach di Sanur - juga Hotel Indonesia di Jakarta dan kemudian Samudera Beach Hotel di Pelabuhan Ratu, Jawa Barat.

Di kompleks istana dengan pelbagai bangunan dan pemandian yang penuh dengan koleksi ukiran dan lukisan itu Presiden menyuguhkan makan siang gaya Belanda, rijsttafel. Selain nasi dengan lauk-pauk komplet, tersedia juga sate ayam dan soto ayam. Tapi pria berkarisma, yang ketika itu berusia 63 tahun tapi masih gagah, itu memilih hidangan kesukaan yang dia bilang "makanan kampung": gulai daun singkong dan tahu-tempe. "Ini makanan paling enak, paling sehat, dan paling murah," katanya.

Setelah makan kami diajak berjalan-jalan mengitari halaman Istana. Dia bicara tentang filosofi bangunan dan kontur tanah Istana, menjelaskan tentang Bhinneka Tunggal Ika dan dasar negara Pancasila. Dengan bangga dia juga menerangkan tentang budaya Bali yang berakar di dalam dirinya dari jalur ibunya. Semua pembicaraan dalam bahasa Jerman.

Saya tahu Presiden Sukarno pernah datang ke klub di lantai 14 Hotel Indonesia, tempat gaul kalangan diplomatik dan ekspatriat - termasuk saya - yang sesekali juga didatangi pejabat tinggi Indonesia. Tapi perjumpaan di Bali siang itu menumbuhkan rasa kagum saya pada pria yang saat berkunjung ke Jerman tahun 1957 mendapat gelar doktor kehormatan ini. Dia hafal sejarah Jerman, bahkan bisa menyanyikan beberapa lagu Jerman. Saya mengikuti, di banyak kesempatan dia menjelaskan bahwa dia tidak perlu kemewahan. Bagi dia batas kecukupan adalah bisa makan dan minum (dan tentu saja juga berlaku buat beberapa istri dan perempuan di sekitar dia). Kalangan pengusaha asing juga tahu bahwa dia tidak pernah membelokkan dana setiap proyek bagi diri dan keluarganya. Bagi dia, semua untuk kemakmuran rakyat. Benar, sepanjang pengalaman saya bekerja di Indonesia, saya yakin Presiden Sukarno bukanlah manusia yang korup.

Presiden Sukarno juga percaya pada mitologi. Menurut dia, itu karena akar budaya Jawa dari garis ayahnya. Kami, kalangan orang asing di Jakarta pun diberitahu soal itu dan mitos seputar presiden pertama Indonesia itu. Tongkat yang selalu dia bawa, misalnya, kalau ditarik ujungnya di dalam terdapat keris kecil yang menjadi simbol kekuatan dirinya.

Ketika sedang berjalan mengelilingi Istana, seekor tokek berbunyi. Langsung Presiden menghitung mengikuti urutan bunyi tokek. "Satu, dua, tiga ..." dan seterusnya hingga kesembilan. "Wah, untung. Angka sembilan, ganjil, artinya untung. Besok dan seterusnya adalah hari baik bagi saya dan Indonesia."

Selamatan di rumah baru

Perkenalan pertama saya dengan hal-hal mistik adalah dua hari setelah Regina Pertama lahir di RS St. Carolus, Agustus 1964. Ibu dan bayi tidak diperkenankan tinggal lebih lama karena antrean melahirkan cukup padat. Maka dr. Tan menyuruh Hannelore dan Regina pulang dan kepada saya memberikan sebuah bungkusan. "Ini saudara kembar anakmu," katanya.

Yang dia maksud adalah plasenta. Kami harus menguburkannya di halaman rumah dengan sebuah upacara! Itu adat Indonesia, plasenta harus dikubur secara terhormat. Sesampai di rumah saya melakukan seperti yang disarankan dr. Tan, tentu saja dengan pengarahan dari para pekerja di rumah.

Ketika bepergian ke banyak wilayah Indonesia, hampir di setiap tempat orang mengenal cara penguburan plasenta tersendiri.

Saat kami pindah rumah lagi, kali itu ke Jalan Gandaria, saya berurusan dengan masalah mistis lagi. Bulan-bulan pertama, ada saja masalah. Tukang masak kami pingsan tiba-tiba, tukang cuci merasa ditampar kepalanya dari belakang padahal saat itu dia sendirian, dan ayam yang sedang direbus hilang tanpa jejak. Tukang kebun luka di tangan dan lama tak sembuh-sembuh, dan tembikar bergantian pecah. Malam hari para pembantu sulit tidur, katanya ada suara-suara menyeramkan. Mereka pernah berupaya memberi sesajen, antara lain cerutu, bunga, dan dupa. Katanya rumah kami berhantu.

Atas saran Pak Wibowo, orang Jawa tetangga saya, kami menyelenggarakan selamatan. Kami harus membeli seekor kambing, dipotong, dan kyai setempat memimpin upacara. Darah harus ditampung di sebuah bejana,. kemudian dimasukkan ke lubang galian di tanah dekat pintu masuk rumah.

Mesdi, tukang kebun kami yang berumur 19 tahun, mengambil sebagian darah kambing dan memercik-mercikkannya ke halaman tetangga. Sambil tertawa dia bilang, biar hantu pindah ke rumah tetangga.

Sejak itu rumah tangga kami berjalan normal tanpa gangguan seperti sebelumnya. Saya percaya bahwa kekuatan lain di luar manusia bisa dijinakkan. Ketika pengalaman itu saya ceritakan kepada teman-teman orang asing, banyak yang menanggapi dengan tertawa. Tapi seorang perempuan dokter di Kedutaan Besar Jerman membenarkan berdasarkan pengalamannya. Suatu saat dia mengalami luka-luka karena kecelakaan mobil di Jawa Timur. Dia dibawa temannya kepada seorang dukun. Dukun itu membuat ramuan dedaunan dan tanaman, meletakkan pada luka-lukanya sambil membacakan mantra. Darah langsung berhenti dan dia bisa meneruskan perjalanan. Bahkan 24 jam kemudian, lukanya kering. "Itu mustahil terjadi dengan pengobatan biasa," kata dokter itu.

Pengalaman dahsyat saya dapatkan dari sahabat saya, Jenderal Soenarjo, Kepala Komando Operasi Tertinggi zaman Presiden Sukarno. Saat bertemu menjelang saya pulang karena cuti yang kesekian kali (pertama kali saya pulang tahun 1967, setahun mundur dari jatah yang diberikan perusahaan) pada 20 Desember 1973, Jenderal Soenarjo menyarankan agar saya naik pesawat yang "paling cepat menuju New Delhi". Memang tidak ada yang langsung. Penerbangan dari Jakarta harus ke Bangkok dulu, baru bersambung ke New Delhi untuk transit sebelum berlanjut ke Asia Barat terus ke Eropa. Saya merencanakan untuk mampir ke Kabul dan merayakan Natal di sana bersama keluarga adik saya, sebagai staf kebudayaan pada Goethe Institute Kabul.

Tiba di Bangkok, ternyata pesawat Jerman Lufthansa dari Tokyo terlambat tiba. Saya mencoba pindah penerbangan ke Pan American yang juga menuju New Delhi, dan ternyata bisa. Kami pun menuju New Delhi dan singgah semalam di sana. Esok paginya ada berita mengejutkan: Lufthansa Boeing 707-330B mendarat darurat setelah terhantam badai di wilayah India. Meski pesawat rusak parah, semua penumpang selamat. Bukankah itu pesawat yang mestinya kemarin saya naiki dari Bangkok? Inikah yang dimaksud oleh Jenderal Soenarjo, "naik pesawat yang paling cepat menuju New Delhi"?

Kudeta gagal

Mendekati tahun 1965 situasi politik, terutama di Jakarta, terasa memanas. Pawai sipil bergantian, antara anggota Partai Komunis dengan fundamentalis Islam. Berita simpang-siur cukup meresahkan. Setiap dokumen dan surat yang datang dari luar negeri disensor, kadang dibuka. Kalangan diplomatik resah.

Malam hari 30 September, Jenderal Soenarjo bertamu ke rumah saya dengan wajah terlihat bingung. Kami makan malam bersama, terus berlanjut dengan ngobrol. Sampai tengah malam, istri saya mendahului tidur. Saya rupanya telah menghayati sifat orang Indonesia, tidak enak hati mengusir tamu meski ngantuk. Saya persilakan tidur dia tidak mau, malah seperti seperti orang kesurupan dengan bercerita banyak hal. Tema besarnya adalah keberadaan dia sebagai salah satu orang dekat Presiden Sukarno. Sampai menjelang fajar dia pamit pulang.

Hari-hari kemudian berita tentang pembunuhan jenderal Angkatan Darat dan percobaan kudeta menyebar. Pidato Letnan Kolonel Untung dibantah oleh Jenderal Soeharto, dan seterusnya. Saat bertemu kembali beberapa hari kemudian, Jenderal Soenarjo minta maaf telah mengganggu saya dengan bertamu sepanjang malam pada 30 September. Rupanya malam itu dia menyelamatkan diri, pasukan Cakrabirawa datang dan menggeledah rumahnya!

Keadaan tak menentu. Sempat terdengar imbauan agar orang asing segera meninggalkan Jakarta. Kami memikirkan itu sembari bersiap-siap.Tapi selama tidak ada perintah dari perusahaan, saya tetap bertugas. Banyak pekerjaan harus saya tangani. Kerjasama dengan PLN, Perusahaan Kereta Api, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Perhubungan, dll. Tidak hanya di Jawa-Bali, tapi juga Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Indonesia Timur.

Di Sumba, NTT, kami membantu pemerintah daerah membangun pembangkit listrik tenaga Matahari untuk menghidupkan pompa air. Sawah dan ladang yang sebelumnya kering bisa diairi - bahkan di malam hari.

Kudeta komunis, seperti disampaikan banyak media asing, gagal. Kekuasaan pemerintahan beralih kepada Jenderal Soeharto. Tak banyak pengaruh dalam pekerjaan saya kecuali kriminalitas di kota makin tinggi dan para pejabat tak sungkan meminta komisi. Tapi Orde Baru mulai membangun. Listrik yang kurang di banyak tempat diatasi dengan membangun banyak "pembangkit. Kami mendapat proyek di Belawan, di Sumatera Barat, dan di Palembang. Di Dumai, Riau, Pertamina, karena boom harga minyak dunia, membangun pembangkit listrik yang sebagian peralatannya kami pasok; Di Cimanggis kontrak kami dengan RRI bernilai jutaan Mark, menjadikan RRI stasiun radio dengan peralatan paling modern di Asia Tenggara.

Di awal 1968 saya memperoleh izin radio amatir dari Dewan Telekomunikasi RI. Saya tak hanya bisa berkomunikasi dengan seluruh dunia, setiap kali pergi ke kawasan terpencil saya bisa membawa-bawa alat dan berbagi dengan banyak orang untuk mendengarkan siaran radio.

Interaksi kami dengan masyarakat makin dekat. Istri saya jadi suka minum jamu dari Mbok Jamu yang setiap hari lewat depan rumah. Saya pun mengenal pijat. Setelah saya membuktikan manfaat kerokan, seorang dokter Indonesia menjelaskan, "Secara medis itu disebut ignis-puncture, cara untuk menghilangkan gejala flu dengan cara memperbaiki aktivitas metabolisme kulit."

Sama seperti Presiden Sukarno, Presiden Soeharto juga percaya pada mistisisme Jawa. Keris, yang bagi orang Jawa tidak hanya sebuah senjata, juga saya pahami kekuatannya - dan belakangan saya juga mengoleksinya. Malah dari dua buah yang pernah saya bawa pulang ke Jerman, salah satu dianggap tidak cocok makanya saya berikan kepada seorang kenalan.

Perubahan pemerintahan rupanya tidak seperti dikhawatirkan banyak orang. Saya tetap bekerja memimpin perwakilan perusahaan Jerman di Indonesia. Kadang saya juga menjadi penghubung perusahaan yang akan berinvestasi di Indonesia. Lembaga kerja sama ekonomi Jerman-Indonesia EKONID dibentuk pada tahun 1970, dan pada 1981 saya mendapat gelar anggota dewan kehormatan.

Pada 1979 diselenggarakan konferensi investasi Jerman-Indonesia, Indogerman, dan kemudian berkembang ke seantero Asia Tenggara. Akhirnya, tahun 1981, tugas saya di Indonesia berakhir. Bukan saya menghendaki, tapi AEG-Telefunken kolaps menjelang bangkrut.

Saya masih tetap cinta Indonesia, dan setiap saat menyempatkan diri berkunjung. Sampai tahun 2000-an Indonesia telah banyak berubah, tapi saya tetap bisa merasakan hawa Indonesia sampai ke seluruh aliran darah di tubuh saya."

Artikel Terkait