Editor
Alas Purwo, kerap disebut sebagai hutan tertua di Pulau Jawa. Sudah ditetapkan sebagai cagar alam sejak 1920 oleh Belanda.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com - Beberapa menyebut Alas Purwo yang ada di Banyuwangi, Jawa Timur, sebagai hutan tertua di Pulau Jawa. Klaim itu memang belum bisa dibuktikan kebenarannya, tapi yang jelas, hutan yang berada di ujung tenggara Pulau Jawa itu sudah ditetapkan sebagai Cagar Alam sejak 1920, sejak zaman Belanda.
Mengutip Alaspurwonp.org, Taman Nasional Alas Purwo adalah kawasan konservasi seluas 43.420 hektar yang status ke-taman-nasional-annya ditetapkan pada 1992. Alas Purwo punya keanekaragaman hayati yang beragam dan unik. Ia juga dikenal sebagai “Hutan Purba”. Alas Purwo secara harafiah artinya “hutan permulaan” – bahkan ia dikaitkan dengan mitos awal mula terciptanya Pulau Jawa.
TN Alas Purwo meliputi ekosistem hutan hujan tropis, sabana, mangrove, dan pantai, yang menjadi habitat bagi spesies langka seperti banteng Jawa dan penyu hijau. Fungsi utamanya meliputi pelestarian flora dan fauna endemik, pengembangan ekowisata berkelanjutan, serta menjaga nilai budaya dan spiritual masyarakat setempat, termasuk situs suci seperti Pura Giri Salaka.
Lokasi persisnya adalah di Kutorejo, Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, Jawa Timur. Ia adalah rumah bagi sawo kecik, banteng Jawa, 236 spesies burung, dan penyu hijau.
Tak hanya itu, Alas Purwo juga menawarkan keindahan wisata alam yang memukau, dari savana Sadengan yang hijau hingga pantai Plengkung yang merupakan surga bagi pecinta selancar dunia karena ombaknya yang berkelas internasional.
Tak hanya menyediakan petualangan alam, Alas Purwo juga penuh dengan nuansa spiritual. Ada situs suci Pura Giri Salaka di situ. Alas Purwo juga kerap dilekatkan dengan hal-hal yang berbau mistik.
Seperti disebut di awal, Alas Purwo sudah ditetapkan sebagai cagar alam pada 1920 oleh Belanda dan 16 tahun kemudian statusnya naik menjadi suaka margasatwa. Lalu pada 1992 statusnya berubah menjadi taman nasional dan terakhir, pada 2008, statusnya menjadi kawasan lindung nasional.
Alas Purwo oleh masyarakat sekitar dipercaya sebagai pemberhentian terakhir pasukan Majapahit dari kejaran serbuan Demak. Di sana juga ada Situs Kawitan yang disebut sebagai situs peninggalan Majapahit, yang ditemukan secara tak sengaja pada era 1960-an.
Di Alas Purwo terdapat puluhan gua yang kerap didatangi untuk menimba ilmu gaib. Yang paling terkenal adalah Gua Istana. Penduduk setempat percaya, gua itu digunakan sebagai ritual untuk bertemu ratu penguasa pantai selatan, Nyi Roro Kidul.
Untuk itu, pengunjung yang berwisata ke tempat ini dianjurkan untuk tidak bicara kotor atau menghina apapun yang ada di sini.
Tapi di balik cerita mistisnya, sebenarnya tempat ini menyajikan pemandangan alam yang sangat indah. Menuju pintu kawasan taman nasional, pepohonan menjulang tinggi di sisi kanan dan kiri jalan. Terdapat pula pohon-pohon jati yang tumbuh rimbun di hutan produksi milik negara.
Sebelum memasuki hutan, biasanya pengunjung diminta untuk melakukan ritual kecil yang harus dilakukan di sebuah candi Hindu bernama Situs Kawitan.
Memasuki hutan, terdapat Pura Luhur Giri Salaka yang masih rutin dipakai upacara keagamaan umat Hindu. Setiap 210 hari sekali, umat Hindu rutin melaksanakan upacara keagamaan yang bernama Pagerwesi.
Jauh masuk ke dalam sekitar kurang lebih dua kilometer, terdapat padang penggembalaan Sadengan. Padang ini merupakan tempat berkumpulnya para satwa taman nasional. Mulai dari 302 jenis burung, kijang, rusa, banteng, babi hutan, lutung dan satwa lain.
Burung yang dilindungi di tempat ini di antaranya alang jawa, elang ular bido, elang ikan kepala kelabu, elang laut perut putih, peregam, srigunting, ayam hutan merah, jalak putih, bangau sendang lawe, blekok sawah, dan merak hijau. Padang sabana membentang luas. Pepohonan tumbuh subur menjadi rumah satwa liar. Tak cuma hutan dan padang rumput, ternyata di balik Alas Purwo terdapat sebuah pantai.
Setelah menembus hutan, terdapat pantai yang sangat terjaga, bersih dan indah bernama Pantai Triangulasi. Keheningan begitu terasa di tempat ini. Sesekali rusa-rusa dari dalam hutan menghampiri di tepian pantai. Untuk menuju pantai ini butuh perjuangan keras menembus semak-semak.