Editor
Sejumlah kendaraan bermotor mengalami brebet dan akhirnya mogok setelah isi BBM Pertalite di SPBU milik Pertamina di Jawa Timur. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia langsung inspeksi mendadak.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com - Sejumlah kendaraan bermotor, khususnya motor, mengalami brebet dan akhirnya mogok setelah mengisi BBM milik Pertamina, kasus terbanyaknya adalah Pertalite, di Jawa Timur. Kasusnya terjadi di Kediri, Lamongan, Gresik, Tuban, Surabay, dan sekitarnya.
Terkait hal itu, sebagaimana dilaporka Kompas.ID, Kementerian Energi and Sumber Daya Mineral (ESDM) langsung melakukan penyelidikan terkait kualitas BBM jenis Pertalite dan Pertamax di Jawa Timur. Investigasi itu dilakukan bersama Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi serta PT Pertamina (Persero).
Sebagai tindak lanjut, pada Rabu, 29 Oktober 2025, lalu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia langsung melakukan inspeksi SPBU 54.651.26 di Desa Asrikaton, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jatim. Dalam kesempatan itu, petugas juga melakukan uji sampel bahan bakar minyak (BBM).
Dari pemeriksaan dengan pasta air dan visual, kualitas Pertalite di SPBU itu dinyatakan sesuai dengan standar. Karena itulah Pertalite di SPBU tersebut diklaim tak bercampur air yang dapat mengakibatkan mesin kendaraan bermotor brebet dan mogok.
Tak hanya di Malang, Bahlil juga mengaku mendapat laporan di Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Gresik, Surabaya, dan Sidoarjo.
Kompas mencatat, kasus motor brebet setelah isi BBM dikeluhkan masyarakat selama beberapa hari. Dampaknya, bengkel-bengkel di sejumlah wilayah Jatim kebanjiran pekerjaan untuk reparasi.
Rata-rata, sepeda motor yang tersendat lalu mogok akan dikuras BBM-nya. Setelah itu, motor akan diservis dengan mengecek karburator dan busi sekaligus penggantian suku cadang. Sesudah itu, mesin coba dihidupkan kembali dengan Pertamax.
Hasilnya, motor nggak brebet lagi, tapi harus merogoh kocek hampir 100 ribu dulu.
Terkait kasus motor brebet setelah isi BBM, PT Pertamina Patra Niaga, anak usaha Pertamina dalam perdagangan BBM, menyampaikan permohonan maaf atas kejadian di Jatim. Ahad Rahedi, Area Manager Communication Relation & Corporate Social Responsibility Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur Bali Nusa Tenggara menegaskan, Pertamina Patra Niaga menjamin penyaluran produk BBM tetap berjalan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Seluruh produk yang disalurkan telah melalui pengawasan sejak dari terminal pengirim sampai ke penyalur resmi.
Menurut catatan Patra Niaga, sebagaimana dilaporkan Kompas, ada 155 sepeda motor dan 7 mobil yang mengalami mesin brebet lalu mogok. Terbanyak ada di Bojonegoro dengan 59 unit, selanjutnya Tuban dengan 44 unit, Surabaya dengan 23 unit, dan Sidoarjo dengan 13 unit.
Kok bisa brebet sih?
Menurut Guru Besar Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Bambang Sudarmanta, ada sejumlah faktor yang kemungkinan mengakibatkan kendaraan bermotor tersendat dan mogok seusai diisi BBM, terutama Pertalite.
Kemungkinan pertama, kualitas BBM tidak konsisten. Pertalite memiliki nilai oktan (RON) 90, sedangkan Pertamax memiliki RON 92, and Pertamax Turbo memiliki RON 98.
Jika sepeda motor didesain untuk RON tinggi, kendaraan itu akan mengalami pembakaran tak optimal jika diisi Pertalite. Jika sudah begitu, yang terjadi kemudian adalah mesin brebet atau tersendat, tenaga mesin menurun, dan mesin sulit dinyalakan.
Tak hanya itu, sepeda motor mengalami entakan karena tenaga mesin menurun dan putarannya tidak stabil. Hal ini karena RON yang rendah itu tidak sesuai dengan spesifikasi mesin sehingga pembakaran tidak sesuai dengan waktunya.
Kemungkinan lain, kata Bambang, BBM tercampur air. Kemungkinan ini bisa terjadi ketika penyimpanan BBM kurang baik sehingga air bisa masuk. Massa jenis air lebih berat daripada bensin sehingga mengendap di dasar tangki.
Lalu yang ketiga, ada cemaran dalam BBM, yakni endapan dari penyimpanan di SPBU akibat lama tidak dibersihkan. Residu, karat, atau getah BBM berpotensi masuk ke tangki kendaraan saat pengisian.
Cemaran ini akan menyumbat penyaring atau penginjeksi sehingga aliran bensin ke ruang bakar mesin terhambat. Akibatnya, kinerja mesin tersendat, tak mampu melakukan akselerasi karena suplai bensin yang tidak konstan.
Tapi ada kemungkinan lain menurut Bambang, yaitu ketidaksesuaian perbandingan campuran udara dan bakar bakar (air fuel ratio/AFR). Pertalite memiliki kandungan hidrokarbon ringan, yakni butana dan pentana, yang lebih volatil atau cepat menguap.
Dalam cuaca panas dan tekanan rendah, pembentukan uap bensin akan berlebihan sehingga AFR terlalu kaya (rich mixture). Saat tekanan tinggi karena, misalnya, bensin tercampur air, AFR terlalu miskin (lean mixture). Kedua kondisi itu tidak ideal bagi kinerja mesin sehingga tersendat.
Awalnya di Bojonegoro dan Tuban
Menurut lapora Kompas.com, kasus motor brebet mulanya dialami warga Tuban dan Bojonegoro. Menyusul kemudian di Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, dan Malang.
Warga menghadapi keluhan yang sama, yakni motor tersendat-sendat saat digas atau "brebet" dan mogok. Warga menduga, penyebabnya berasal dari bahan bakar yang mereka beli, Pertalite.
“Brebet gitu sejak dua minggu lalu, tetapi tetap saya pakai ke mana-mana. Dan tetap beli bensin juga,” kata salah satu warga Surabaya, Erik, saat ditemui Kompas.com di salah satu bengkel, Selasa (28/10/2025).
Selain itu, mekanik di bengkel juga menemukan keanehan pada kondisi bahan bakar dari motor pelanggan yang rusak, yakni bau bahan bakar Pertalite berbeda dari sebelumnya. “Banyak yang mogok, brebet injeksinya. Seperti kehabisan bensin padahal bensinnya masih ada. Saya cek bensinnya, baunya seperti bensin endapan lama,” kata salah satu mekanik, Rudi Hartono (49).
Sebagai respon, PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalinus) melakukan investigasi menyeluruh terkait pasokan bahan bakar minyak (BBM) pada SPBU Pertamina di wilayah Jawa Timur (Jatim).
"Saat ini sedang berjalan investigasi lanjutan untuk pengecekan quality and quantity (QQ) BBM di level SPBU sebagai titik distribusi akhir kepada masyarakat,” kata Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi.
Dari inspeksi itu kemudian Pertamina mengeklaim bahwa selama ini proses distribusi bahan bakar ke setiap SPBU telah berjalan sesuai standar operasional prosedur atau SOP, termasuk uji baku mutu sebelum edar. "Setiap tahapan distribusi dilakukan sesuai standar yang ditetapkan untuk memastikan kualitas produk tetap terjaga. Prioritas utama kami adalah menjamin keamanan suplai," kata Ahad, Selasa (28/10).
Tapi sebagai tindak lanjut masalah yang belakangan ramai, Pertamina akan melakukan uji laboratorium lanjutan dengan sampel BBM Pertalite dari Fuel Terminal Tuban. “Langkah ini untuk memastikan mutu dan kesesuaian spesifikasi produk,” ujar dia.
Selain melakukan inspeksi, Pertamina membuka posko pengaduan di 15 titik yang tersebar di Surabaya, Sidoarjo, Malang, Lamongan, Gresik, Tuban, Lamongan, dan Bojonegoro.
Tak hanya itu, polisi juga kemudian melakukan sidang terhadpa SPBU-SPBU. Jajaran Polresta Sidoarjo, Polresta Malang Kota, dan Polres Gresik ikut melakukan sidak ke SPBU.
Bahkan Satreskrim Polresta Malang Kota tidak menutup kemungkinan akan menggandeng Pertamina untuk melakukan inspeksi bersama ke sejumlah SPBU. "Kami akan menggandeng Pertamina untuk melakukan pengecekan di sejumlah SPBU di Kota Malang," kata Kasat Reskrim Polresta Malang Kota, Kompol Muhammad Soleh, Selasa (28/10/2025).
Terpisah, Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Gresik melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Kabupaten Gresik, Jawa Timur (Jatim), Selasa (28/10/2025).
Sidak dilakukan di dua lokasi, yakni SPBU Desa Suci, Kecamatan Manyar, dan SPBU Bunder, Kecamatan Kebomas. Kasatreskrim Polres Gresik AKP Abid Uais Al Qarni mengatakan bahwa sidak dilakukan untuk memastikan tidak ada BBM oplosan yang beredar di SPBU Gresik.
“Kami mengecek langsung kandungan BBM Pertalite dan tempat penampungannya. Tujuannya untuk menjawab keresahan masyarakat dan memastikan tidak ada BBM oplosan,” ujar Abid.