Penulis
Intisari-Online.com - Seperti diketahui, kini Eropa menjadi episentrum pandemi virus corona (Covid-19).
Salah satu negara yang memiliki kasus virus corona terbanyak di Eropa dan dunia adalah Prancis.
Diketahui per hari ini, Rabu (22/4/2020) seperti dilansir dari worldmeters.info, ada 158.050 kasus positif virus corona di Prancis.
Dengan 20.796 kasus kematian dan 39.181 lainnya dinyatakan sembuh.
Berdasarkan data tersebut, Prancis berada diurutan ke 4 negara dengan kasus virus corona terbanyak di dunia.
Di bawah Amerika Serikat, Spanyol, dan Italia.
Karena angkanya begitu, pemerintah Prancis melakukan sejumlah kebijakan. Salah satunya lockdown.
Di mana lockdown sudah dilakukan sejak bulan Maret 2020 lalu.
Namun sepertinya lockdown di Prancis tak begitu berjalan baik.
Dilansir dari kontan.co.id padaRabu (22/4/2020), kerumunan anak muda menargetkan polisi antihuru-hara dengan kembang api dan membakar ban di malam ketiga kerusuhan di pinggiran Paris.
Kehadiran polisi untuk menegakkanlockdownmemperburuk ketegangan.
Banlieue Prancis, kawasan dengan penduduk berpenghasilan rendah mengelilingi kota-kota di negeri mode, sering menjadi titik nyala kemarahan atas ketidaksetaraan sosial dan ekonomi serta tuduhan kepolisian bertindak kasar.
Di Villeneuve-La-Garenne, tempat masalah pertama kali berkobar pada Sabtu (18/4) pekan lalu setelah pengendara sepeda motor menabrak pintu mobil polisi yang terbuka, anak-anak muda mengarahkan tembakan kembang api ke arah polisi.
Lockdownyang Pemerintah Prancis berlakukan untuk mengekang penyebaran virus corona memungkinkan orang untuk meninggalkan rumah hanya untuk membeli bahan makanan, pergi bekerja, mendapatkan perawatan medis, atau berolahraga.
Dalam insiden Sabtu pekan lalu, beberapa warga setempat mengatakan, petugas sengaja membuka pintu mobil polisi ke jalur pengendara sepeda motor. Menurut Kepolisian Paris, investigasi sedang mereka lakukan atas kejadian itu.
Kerusuhan juga pecah pada Senin hingga Selasa malam di distrik-distrik tetangga, Gennevilliers, Clichy-La-Garenne, dan Asnieres.
“Polisi bergerak melalui jalan-jalan, dengan pelontar gas air mata dan tameng. Banyak kembang api,” kicau Clement Lanot, jurnalis lepas, di akun Twitter-nya, Senin tengah malam ketika kerusuhan meletus, seperti dilansirReuters.
Kenangan 2005
Pada 2005, kematian dua pemuda yang melarikan diri dari kejaran polisi di pinggiran Utara Paris memicu kerusuhan nasional yang berlangsung selama tiga minggu.
"(Kejadian) ini mengingatkan saya pada 2005," kata Yves Lefebvre, Kepala SGP Unite, serikat polisi terbesar di Prancis, seperti dikutipReuters.
"Yang saya takutkan adalah itu akan meledak di banlieues. Mungkin sangat sulit diatasi”.
Lefebvre mengatakan, Kepolisian sedang menambah personel karena sekitar 10% petugas sakit, menjalani isolasi diri, atau harus menjaga anak-anak selama penguncian.
"Jika besok kami dihadapkan dengan kekerasan perkotaan yang meluas, kami akan kesulitan mempertahankan penguncian kecuali jam malam diberlakukan, dan tentara dipanggil untuk membantu menegakkannya," ujar Lefebvre.
Seorang juru bicara Kepolisian Prancis menolak mengomentari kemungkinan pemberlakuan jam malam jika situasinya memburuk.
Aliansi, serikat polisi lainnya, melaporkan kerusuhan pecah secara sporadis kota-kota lainnya seperti Yvelines, sebelah Barat Paris.
Mobil polisi dirusak dan kembang api ditembakkan ke arah petugas.
MengutipReuters, Julien Le Cam, Kepala Serikat Aliansi di Yvelines, menyebutkan, para petugas dari unit investigasi dipekerjakan kembali ke patroli jalanan untuk menambah kekuatan.
“Biasanya satu kota bertugas dan mereka terbagi dalam shift. Tadi malam mereka semua bertugas,” kata Le Cam.
"Ada kelompok-kelompok kekerasan di semua zona, sulit kami mencari kontak dengan polisi".
(SS. Kurniawan)
(Artikel ini sudah tayang di kontan.co.id dengan judul "Saat lockdown untuk kekang corona, kerusuhan pecah di Prancis")