Di Sinilah Tempat Penyetruman, Juga Kisah-kisah Bunuh Diri

  • Kamis, 17 Oktober 2013 16:30 WIB

Di Sinilah Tempat Penyetruman, Juga Kisah-kisah Bunuh Diri

Intisari-Online.com - Bekas rumah sakit jiwa St. John's Asylum itu masih berdiri tegap. Namun, bangunannya sudah kotor, tak terawat, tua, berantakan, dan mulai lapuk. Gambaran ini menambah seram jika mengingat kisah-kisah bunuh diri di tempat itu, juga teriakan-teriakan akibat penyetruman.

Gedung itu dibangun pada 1852 di Lincolnshire, Inggris. Tempat ini kemudian dipakai untuk rumah sakit jiwa. Baru pada 1990 rumah sakit ini ditutup dan gedungnya dibiarkan terbengkalai.

Seorang mahasiswa, Jonathon Tattersall, kemudian memotret gedung terbengkalai ini dari berbagai sisi. Tampak cat dinding sudah pada mengelupas. Beberapa pintu roboh, demikian juga atapnya. Bahkan, beberapa bagian tembok mulai hancur.

Pada masanya, rumah sakit ini terkenal dengan terapi setrum. Namun, banyak juga juga kisah yang menceritakan pasien melakukan bunuh diri.

Rumah sakit ini memiliki lahan untuk pemakaman pasien. Pemerintah setempat berencana akan mengubah rumah sakit ini menjadi 42 apartemen dan 64 rumah.

"Banyak yang kagum setelah melihat dalamnya gedung itu lewat foto-foto saya," kata Tattersall.

Pada paruh kedua abad ke-19, Inggris banyak membangun rumah sakit jiwa. Saat itu, banyak dokter yang yakin bahwa penyakit jiwa berhubungan erat dengan masalah fisik di otak mereka.

Maka, pada saat itu terapi setrum digunakan sebagai cara penyembuhan menggunakan leydan, alat penyetrum.

Seorang dokter jiwa di rumah sakit Sussex pada 1873 menulis, ada seorang wanita yang menderita melancholia. Ia suka menyakiti dirinya sendiri.

Wanita 26 tahun itu kemudian diberi terapi setrum. Semula dia hanya kuat menerima setrum dengan voltase rendah dan lama-lama mampu menerima setruman dengan voltase lebih tinggi.

Menurutnya, pasien itu membaik. Ia mulai tak punya kecenderungan untuk menyakiti dirinya sendiri dan mulai lebih rasional dalam bicara.

Dalam artikel di British Journal of Psychiatry pada 1988, Dr Newth mengatakan, "Penyetruman dilakukan 26 kali (kepada wanita itu). Mulanya ia merasa sakit kepala. Namun, lama-lama ia bisa berpikir lebih jernih."

Sumber: Daily Mail

Reporter : hery prasetyo
Editor : hery prasetyo

Tags :

#jiwa

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×