Ayah yang Terhormat

  • Selasa, 2 Februari 2016 18:20 WIB

Ayah yang Terhormat

Intisari-Online.com – Alkisah, dua orang mahasiswa bersahabat. Salah satunya adalah anak seorang pedagang kaya, sementara yang lain sangat miskin.

Anak yang kaya selalu menghabiskan uangnya untuk hal-hal yang mewah dan bertindak ceroboh. Ia ingin memiliki lebih banyak uang untuk foya-foya. Ia menyusun rencana untuk mencuri dari toko perhiasan. Ia meminta bantuan temannya yang miskin untuk bertindak kejahatan. Mereka masuk ke toko perhiasan pada malam hari dan mencuri beberapa perhiasan mahal. Keesokan harinya, polisi menelusuri pelaku dan mereka ditahan. Mereka dihadapkan ke pengeadilan dan dihukum karena kejahatan mereka oleh pengadilan. Hakim menghukum mereka dengan membayar denda dan memutuskan akan dipenjara jika denda tidak dibayar segera.

Orang kaya datang dengan mobilnya yang mahal dan sejumlah uang yang diperlukan. Dengan mudah ia membayar denda untuk melepaskan anaknya. Sementara orang miskin tidak memiliki uang sebanyak itu. Tak ada seorang pun  yang bisa membantunya.

Akhirnya orang miskin itu membuat kontrak dengan pemilik tambang yang jauh bahwa ia akan bekerja di tambangnya untuk tahun itu. Ia menerima uang sebagai uang muka untuk tenaga kerja yang dijanjikannya. Dengan uang tersebut ia membayar denda dan mengeluarkan anaknya. Tetapi ia harus bekerja di tambang, di mana ia harus bekerja keras pada musim panas terik untuk memecahkan batu di tambang dan membawanya ke truk sebagai transportasi. Tubuhnya menjadi memar dengan pekerjaan yang melelahkan dan ia memperoleh beberapa luka. Ia mencurahkan banyak darah dan tubuhnya terluka karena bekerja keras dan berbahaya di tambang. Ia harus tinggal di tenda-tenda sementara jauh dari rumah.

Dua sahabat itu melanjutkan sekolah mereka. Suatu hari anak orang kaya itu mengundang sahabatnya lagi untuk bergabung dengannya dalam pencurian yang telah direncanakannya dengan cermat, dan meyakinkan bahwa mereka tidak akan tertangkap. Tetapi, anak orang miskin menolak permintaan sahabatnya itu, karena mengingat kesulitan ayahnya yang penuh kasih menderita untuk membayar denda dan menyelamatkannya dari penjara.

Ia mengatakan kepada temannya yang kaya, “Ayahku tersayang telah menumpahkan darah dan memar tubuhnya untuk menyelamatkan saya. Ia telah menjalankan hukuman demi perbuatan dosa saya. Saya tidak akan melakukan kejahatan lain dalam hidup saya.”

Martin David Buxbaum (1912 – 1991), editor Marriot Table Talk, mengatakan orangtua yang sukses dalam pengasuhan tidak diukur oleh hadiah mahal dan fasilitas yang dapat diberikan kepada anak. Ukuran keberhasilan adalah ketika anak-anak menggambarkan orangtuanya ketika berbicara dengan seorang teman.

Keluarga adalah yang pertama dan lembaga terbaik yang didirikan oleh Tuhan. Huruf dalam Family (keluarga), dianggap mewakili huruf pertama dari kata-kata dalam pernyataan “Bapak dan Ibu Cinta, Sepanjang Tahun” (Father And Mother ILove, Year-round) atau komentar hangat dari seorang anak kecil yang penuh kasih, “Ayah dan Ibu! Aku cinta kalian.” (Father And Mother! I Love You).

Orangtua harus berdiri di antara anak mereka dan Tuhan, bukan sebagai dinding pemisah tetapi sebagai penghubung.

Reporter : K. Tatik Wardayati
Editor : K. Tatik Wardayati

KOMENTAR

EMBED THIS ARTICLE

Copy and paste this code into your website.

×