Menjelang G30S PKI, Pesta di Kedutaan Tanpa Membayangkan yang Terjadi Setelahnya

K. Tatik Wardayati Rabu, 12 September 2018 | 22:00 WIB
()

Presiden Soekarno, seorang berambisi tinggi dan seorang yang suka main-main dengan seni, seringkali meledak-ledak karena tidak sabar melihat beberapa segi kebutuhan ibukotanya.

Dalam masa pemerintahannya yang sekitar duapuluh tahun itu ia berusaha memperbaiki wajah kota Jakarta.

Tetapi hasilnya bersuasana setengah rampung, sebab Soekarno hanya tertarik kepada hal-hal yang spektakuler.

Ia tak tertarik atau tidak sabar dengan masalah-masalah terperinci membosankan daripada suatu rencana pembangunan jangka panjang yang mantap.

Pilihannya jatuh kepada suatu deretan pembangunan spektakuler sekali jadi – gedung-gedung megah, monumen-monumen, istana-istana – dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian dari ekonomi yang makin meluncur ke bawah.

Baca Juga : Selamat Ulang Tahun Tan Malaka, Pendiri Sekaligus Korban ‘PKI’ yang Pernah Bermimpi tentang Bersatunya Islam di Seluruh Dunia

Dengan demikian Jakarta memperoleh wajah yang tak beraturan dan terputus-putus. Suatu gedung pemerintah baru yang mengesankan dikelilingi oleh gubuk-gubuk dan dihubungkan dengan jalan gerobak yang penuh lubang.

Ada air mancur, tetapi tiada trotoar untuk pejalan kaki.

Yang membuat jengkel para pejabat ialah pemotret-pemotret Life  dan Paris-Match selalu memotret gedung-gedung megah seperti Hotel Indonesia yang megah, yang dirancang untuk mengesankan tamu-tamu asing, dikelilingi oleh gubuk-gubuk reyot.

Dan patung-patung yang disenangi oleh Presiden, yang dengan gagahnya mematahkan belenggunya dan meneriakkan maut kepada imperialis di atas landasan beton mereka, semuanya dalam gaya realisme Sovyet, dirasakan asing bagi orang Indonesia yang begitu berbudaya dan artistik.

Source : intisari
Penulis : K. Tatik Wardayati
Editor : Yoyok Prima Maulana