Kisah Penjual Air Isi Ulang yang Tak Kuasa Menahan Tangis saat Anaknya Berhasil Meraih Medali Emas

Intisari Online Kamis, 30 Agustus 2018 | 07:00 WIB
Pesilat Indonesia Aji Bangkit Pamungkas (sabuk merah) melakukan selebrasi usai mengalahka pesilat Singapura Sheik Ferdous Sheik Alauddin dalam babak final Kelas I Putra Asian Games 2018 di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (27/8/2018). Aji berhasil meraih medali emas cabang olahraga pencak silat kelas 85-90 kilogram. (KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI)

Tentang janji Bangkit setelah mendapatkan bonus akan memberangkatkan haji orangtuanya, Agus bersyukur.

Menurutnya, Bangkit tak lupa kepada orangtua saat sukses. Apalagi, ia dan istrinya sudah memimpikan naik haji dan umrah.

Tak hanya itu, prestasi Bangkit membantu banyak bagi keluarganya. Dari hasil jualan isi air ulang rupanya belum mencukupi untuk membiayai kuliah satu kakaknya.

Untuk membayar kuliah kakak Bangkit, Agus harus menggadaikan sertifikat dan berhutang. Namun setelah Bangkit masuk pelatnas, ia dapat membantu membayar biaya kuliah kakaknya di UNS.

"Saya terharu karena itu," kata Agus sambil menangis tersedu-sedu.

Agus bercerita, sejatinya kakak Bangkit yang kuliah di UNS juga beprestasi di bidang pencak silat. Bahkan ia sering menjuarai berbagai kejuaraan pencak silat tingkat perguruan tinggi.

Bermodal prestasi itu, Agus pernah mengajukan keringanan biaya kuliah anaknya. Namun permohonan itu tidak dikabulkan pihak universitas.

Usai meraih emas di Asian Games, Agus mengharapkan anaknya tidak cepat berpuas diri. Ia meminta Bangkit terus berlatih keras untuk meraih banyak prestasi di pencak silat.

Terkait tawaran pemerintah pengangkatan menjadi PNS, TNI atau Polri bagi atlet peraih medali emas, Agus menyerahkan sepenuhnya kepada Bangkit.

Ibunda Bangkit, Anis Nurul Laili, mengaku terenyuh dan bahagia begitu mendengar kabar anaknya menjadi juara. Hanya saja, saat Bangkit bertanding meraih emas, Laili tak bisa menyaksikan langsung.

Saat Bangkit bertanding, Laili dalam perjalanan menuju Jakarta. Ia mendapatkan informasi Bangkit bertanding dalam final perorangan melawan atlet dari Singapura, Rabu (29/8/2018).

"Ternyata mainnya dimajukan tanggal 27. Jadi saya tidak bisa melihat langsung," kata Laili.

Kendati demikian, Laili mengaku tidak kecewa. Malahan ia bangga karena Bangkit akan memberangkatkan diri dan suaminya naik haji setelah menerima bonus dari pemerintah.

Warga Desa Kertosari, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo, ini mengatakan, untuk membesarkan empat anak-anaknya, Laili terpaksa berangkat kerja menjadi TKW di Taiwan.

Selama enam tahun (2010-2016) ia membanting tulang di Taiwan untuk menghidupi anak-anaknya setelah sang suami mengalami kecelakaan.

"Enam tahun saya bekerja di Taiwan karena bapaknya Bangkit mengalami kecelakaan," kata Laili.

Saat bekerja sebagai TKW, kata Laili, Bangkit masih duduk di bangku SD. Ia hanya mendapatkan kabar dari kakak dan suaminya terkait aktivitas Bangkit yang rajin berlatih pencak silat.

"Saya mendapatkan kabar kalau Bangkit sering tidur di padepokan karena ingin serius berlatih pencak silat. Dan, alhamdulillah keseriusan dan kedisiplinannya berlatih membuahkan hasil saat ini," jelas Laili.

Laili sempat hendak berangkat kembali bekerja sebagai TKW di Taiwan. Namun anak-anaknya melarang. Untuk mencukupi kebutuhan anak-anaknya, ia berjualan ikan bakar.

(Muhlis Al Alawi)

Artikel ini sudah tayang di kompas.com dengan judul "Tangis Penjual Air Isi Ulang saat Tahu Anaknya Raih Medali Emas di Asian Games".

Baca juga: Ditemukan Setelah 2 Minggu Hilang di Hutan, Begini Cara Ranger Ini Bertahan Hidup!

Source : Kompas.com
Penulis : Intisari Online
Editor : Ade Sulaeman