20 Tahun Reformasi: Inilah Kisah-kisah yang Tak Diberitakan Di Balik Suasana Gedung MPR/DPR

Ade Sulaeman Senin, 21 Mei 2018 | 08:30 WIB
Reformasi 1998 ()

Intisari-Online.com - Hari ini, 20 tahun lalu, Indonesia mengalami titik balik sejarah penting yang disebut dengan reformasi.

Soeharto yang selama 32 tahun duduk sebagai Presiden Indonesia mengundurkan diri setelah mendapat desakan dari para mahasiswa.

Ya, para mahasiswa menjadi 'pahlawan' karena berhasil menumbangkan Orde Baru melalui serangkaian aksi demonstrasi.

Banyak sisi menarik dari demonstrasi tersebut yang tak diketahui.

Baca juga: Kisah Istri Malas yang Justru akan Membuat para Suami Menangis

Beberapa di antaranya terekam oleh Tabloid Nova edisi Mei 1998 dalam artikel berjudul foto "Di Balik Semaraknya Suasana Gedung MPR/DPR: Makan, Minum, Berobat, Pijat, Semua Gratis" berikut ini.

---

Perubahan demi berubahan telah berlangsung begitu cepat di negeri tercinta ini.

Kata "reformasi" bergema di penjuru negeri. Seniua bertujuan sama, mengingin-kan perubahan yang lebih baik.

Baca juga: Bolehkah Tetap Berpuasa Setelah Malamnya Berhubungan Intim tapi Belum Mandi Besar? Begini Jawabannya

Salah satu kejadian yang ikut menyumbang terjadinya perubahan adalah "pendudukan" gedung MPR/DPR Senayan oleh ribuan mahasiswa dan anggota masyarkat sejak Senin (18/5) hingga Sabtu (23/5) dini hari.

Ternyata bukan cuma unjuk rasa dan orasi yang berlangsung di sana. Inilah rekaman gambarnya:

1. Mau obat pusing, sakit perut, mag, batuk, atau kecapekan sehabis demo? Semua bisa diperoleh gratis di posko medis.

"Di kompleks gedung MPR/DPR ini setidaknya ada lima posko medis yang digelar para relawan dan relawati," jelas dr. Rimanto, salah satu relawan medis. Adapun obat-obatan yang tersedia, menurut Rimanto, diperoleh dari berbagai lapisan masyarakat.

"Kebanyakan mahasiswa minta obat pusing atau batuk. Tapi kalau diperlukan, kami juga siap melakukan bedah minor," tandas Rimanto.

Baca juga: (Foto) Wanita Ini Harus Tersenyum 'Pahit' Setelah Mengetahui Foto Hotel Tidak Sesuai Realitas

2. Ini bukan lagi sebungkus berdua, tapi sebungkus tame-tame. Para mahasiswa ini memilih menyantap nasi dari bungkus yang sama. Rasa senasib dan sepenanggungan pun lebih terasa.

3. Lebih kurang lima hari lamanya. Gedung MPR/DPR disesaki ribuan mahasiswa serta berbagai lapisan masyarakat yang mendukung aksi mereka.

4. Bagi yang lebih suka pengobatan alternatif, silakan temui Wahyu Sugiri (29). Sopir bus ini tak mau ketinggalan menyumbangkan keterampilannya memijat.

"Saya enggak punya apa-apa yang bisa disumbangkan buat mahasiswa, selain keahlian memijat ini," ujar Wahyu. Ayah satu anak ini percaya, banyak mahasiswa yang memerlukan bantuannya. "Benar saja. Di sini banyak yang kecapekan, keseleo, pegal linu, pusing, sampai pingsan. Saya bisa menolong dengan gratis."

Dalam sehari, Wahyu bisa memijat 100 pasien. Masing-masing cukup dipijat dua menit dan langsung pulih. Bagaimana dengan profesi resminya? Sembari tersenyum getir, Wahyu berujar, "Saya terpaksa berhenti nyopitseak harga onderdil melangit dan penumpang sepi karena naiknya tarif angkutan."

5. Para pedagang minuman botol tak urung mendapat berkah dari aksi mahasiswa. "Di sini, kan, banyak mahasiswa. Pasti banyak juga yang haus. Makanya, sudah empat hari saya di sini," kata Suyatno (32), pedagang minuman asal Pemalang (Jateng).

Karena permintaan meningkal, harga jual juga ikut melonjak. Teh botol, misalnya, yang normalnya dijual Rp 700, saat itu dijual Rp 1.000.

"Tapi tetap saja pembelinya banyak. Bisa dapat Rp 100 ribu tiap harinya. Apalagi tak perlu bayar retribusi. Paling cuma bantu-bantu membersihkan halaman gedung sore harinya," aku Suyatno.

6. Banyak keluarga yang ikut datang mendukung aksi mahasiswa di Gedung MPR/DPR. Tak sedikit pula yang membawa serta buah hatinya seperti keluarga ini.

7. Ungkapan, "Nyatakan dengan bunga," benar-benar diikuti para ibu ini. Mereka berunjuk rasa dengan setangkai anggrek di tangan masing-masing. Sungguh memberi kesejukan tersendiri di tengah hiruk-pikuknya masyarakat yang berkumpul di halaman Gedung MPR/DPR.

8. Naluri bisnis Mamat Nasution (30) amat jell. Saat kata"reformasi" makin populer, ia langsung mencetak stiker dan ikat kepala bertuliskan aneka seruan seputar reformasi. Agar laris, Mamat yang pernah kerja di percetakan namun kena PHK ini memasarkan dagangannya di Gedung MPR/DPR.

Satu stiker atau ikat kepala dihargai Rp 500. "Lumayan, lo. Dalam sehari saya bisa untung Rp 100 ribu," ungkapnya dengan wajah cerah.

9. Unjuk rasa tetap berjalan, namun bagi para mahasiswi penampilan juga mesti dijaga. Karena itu, di sela kesibukan aksinya, sebagian mahasiswi juga menyisihkan waktu untuk merias wajahnya agar tetap segar.

10. Siapa pun yang berada di Gedung DPR-MPR tak perlu khawatir kelaparan dan kehausan. Pasalnya, ada sejumlah mobil keliling yang membagi-bagikan makanan, minuman, kudapan, bahkan rokok. Semuanya gratis.

Makanan juga dapat diperoleh di berbagai posko, antara lain, Posko AKUR (Aksi Kemanusiaan untuk Reformasi), Posko Alumni Trisakti. Posko Ibu Peduli, dan sebagainya. Bambang Prihadi, Komandan Logistik di Posko AKUR menjelaskan, pihaknya cuma mendistribusikan sumbangan dari masyarakat yang mengalir tiada henti.

"Ada dari lembaga, banyak juga dari perorangan. Mereka datang sendiri mengantarnya," jelas Bambang yang juga mahasiswa IAIN Syarif Hidayatullah.

11. Air mancur di halaman Gedung MPR/ DPR juga dimanfaatkan sebagian mahasiswa untuk tempat berwudu.

Baca juga: Kisah Istri Malas yang Justru akan Membuat para Suami Menangis

Source : tabloid nova
Penulis : Ade Sulaeman
Editor : Ade Sulaeman