20 Tahun Reformasi: Inilah Kisah-kisah yang Tak Diberitakan Di Balik Suasana Gedung MPR/DPR

Ade Sulaeman Senin, 21 Mei 2018 | 08:30 WIB
Reformasi 1998 ()

3. Lebih kurang lima hari lamanya. Gedung MPR/DPR disesaki ribuan mahasiswa serta berbagai lapisan masyarakat yang mendukung aksi mereka.

4. Bagi yang lebih suka pengobatan alternatif, silakan temui Wahyu Sugiri (29). Sopir bus ini tak mau ketinggalan menyumbangkan keterampilannya memijat.

"Saya enggak punya apa-apa yang bisa disumbangkan buat mahasiswa, selain keahlian memijat ini," ujar Wahyu. Ayah satu anak ini percaya, banyak mahasiswa yang memerlukan bantuannya. "Benar saja. Di sini banyak yang kecapekan, keseleo, pegal linu, pusing, sampai pingsan. Saya bisa menolong dengan gratis."

Dalam sehari, Wahyu bisa memijat 100 pasien. Masing-masing cukup dipijat dua menit dan langsung pulih. Bagaimana dengan profesi resminya? Sembari tersenyum getir, Wahyu berujar, "Saya terpaksa berhenti nyopitseak harga onderdil melangit dan penumpang sepi karena naiknya tarif angkutan."

5. Para pedagang minuman botol tak urung mendapat berkah dari aksi mahasiswa. "Di sini, kan, banyak mahasiswa. Pasti banyak juga yang haus. Makanya, sudah empat hari saya di sini," kata Suyatno (32), pedagang minuman asal Pemalang (Jateng).

Karena permintaan meningkal, harga jual juga ikut melonjak. Teh botol, misalnya, yang normalnya dijual Rp 700, saat itu dijual Rp 1.000.

"Tapi tetap saja pembelinya banyak. Bisa dapat Rp 100 ribu tiap harinya. Apalagi tak perlu bayar retribusi. Paling cuma bantu-bantu membersihkan halaman gedung sore harinya," aku Suyatno.

Source : tabloid nova
Penulis : Ade Sulaeman
Editor : Ade Sulaeman