Pendidikan Seks pada Anak, Kenalkan Bagian Tubuh dengan Nama Sebenarnya

Pendidikan Seks pada Anak, Kenalkan Bagian Tubuh dengan Nama Sebenarnya

  • Editor : K. Tatik Wardayati
  • Sunday, 08 June 2014
  • 08:30 pm

Pendidikan seks pada anak bukan lagi suatu hal yang tabu atau porno. Anak sedini mungkin harus diajarkan juga cara untuk melindungi diri dari kekerasan seksual.

Intisari-Online.com – “Orangtua sebaiknya tidak lagi menganggap pendidikan seksualitas pada anak sebagai suatu hal yang tabu atau porno. Mulailah bersikap lebih terbuka, santai, dalam memberikan pendidikan seks kepada anak. Termasuk mengajarkan anak untuk melindungi diri dari kekerasan seksual,” jelas Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi., psikolog dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia.

Orangtua perlu mengajarkan pada anak pengenalan anggota tubuhnya termasuk nama alat kelaminnya. Gunakan nama sebenarnya, bukan nama kiasan, agar anak tidak bingung. Penis untuk alat kelamin anak laki-laki, dan vagina untuk perempuan. Anak-anak boleh saja menggunakan nama lain untuk menyebutnya, tapi mereka tetap harus tahu nama sebenarnya. Berikan pesan kepada anak bahwa dua nama tadi tidak boleh sembarang diucapkan atau diucapkan keras-keras atau dijadikan bahan bercandaan, karena itu menyangkut bagian tubuh yang sangat pribadi.

Anak wajib diberi pemahaman tentang bagian tubuh pribadi, yaitu mulai bawah leher sampai lutut, hanya boleh disentuh atau dilihat oleh diri sendiri, orangtua terutama ibu, dan dokter yang ditemani oleh orangtua. Di luar itu, jika ada orang lain yang memaksa, membujuk, hingga mengancam, ingin melihat atau menyentuh bagian itu, ajarkan anak-anak agar berani menolak. Ajarkan anak untuk berteriak minta tolong bila terpaksa, kemudian lari, atau membela diri dengan aksi fisik sebisa mungkin. Tekankan pula pada anak-anak bahwa mereka harus menceritakan apa yang terjadi, tidak perlu takut untuk bercerita kepada orangtua.

(Baca juga: Jangan risih bicara seks pada anak)

Pendidikan seks pada anak  tidak bisa hanya dilakukan sekali, tapi perlu diulang dalam setiap kesempatan. Ketika menonton film, misalnya, ketika tiba-tiba terdapat adegan mesra. Pun bisa dilakukan ketika sambil memandikan anak. Dalam setiap tahapan usia, anak juga mengalami hal yang berbeda. Ketika anak berumur balita tentunya berbeda ketika ia mulai memasuki usia pubertas.

“Hal-hal seperti tadi, saya terapkan juga pada anak-anak di rumah. Intinya adalah menjalin komunikasi yang hangat, terbuka, dan rutin, sehingga anak nyaman berbicara tentang apa saja kepada orangtua,” jelas Vera.

Selengkapnya bagaimana mengenali dan melindungi anak dari predator seksual di lingkungan kita, simak Intisari Juni 2014.

Author :

K. Tatik Wardayati

I like food

I like eat

I like cooking

Komentar

Berita Terkait

Lima Mitos Seks Ini Sebaiknya Jangan Dipercaya Lagi

Lima mitos seks seperti berikut ini jangan dipercaya lagi.

Orangtua Harus Tahu, Skip Chalenge Hanya Salah Satu

Selain Skip Challenge, ada beberapa permainan berbahaya

Tergantung pada Obat Tidur? Itu Tandanya Kita Kecanduan

Gangguan tidur memang membuat hidup berantakan, lalu Anda

Ingin Tetap Sehat dan Terlihat Langsing, Mulailah

Mau tetap sehat dan langsing? Ikuti sepuluh tips berikut

Berita Lainnya

Inilah Cara yang Bisa Dilakukan Agar Memiliki Lebih

Sering menghadapi kesibukan dan merasa tidak punya waktu

Tentang Kejantanan, Benarkah 'Hanya' Soal Kemampuan

Apa yang dimaksud dengan 'kejantanan' sebenarnya? Meski

Lima Mitos Seks Ini Sebaiknya Jangan Dipercaya Lagi

Lima mitos seks seperti berikut ini jangan dipercaya lagi.

Orangtua Harus Tahu, Skip Chalenge Hanya Salah Satu

Selain Skip Challenge, ada beberapa permainan berbahaya