Pandangan Keliru Tentang Pendidikan Seks

Pandangan Keliru Tentang Pendidikan Seks

  • Editor : K. Tatik Wardayati
  • Friday, 06 January 2017
  • 06:22 pm

Selama ini banyak anak tumbuh tanpa bekal pendidikan seksual. Salah satu penyebabnya adalah banyaknya anggapan keliru tentang pendidikan seksual. Dalam tulisan ini bisa diketahui hal-hal yang salah dan benar soal itu.

Intisari-Online.com - Pendidikan seksual seharusnya menjadi bagian pendidikan anak di sekolah maupun di rumah dan dimulai sejak dini. Konsepnya lebih berorientasi pada unsur anatomi, fungsi, tata nilai, dan sikap kepribadian sehubungan dengan kepemilikan organ reproduksi masing-masing. Juga, untuk mempersiapkan remaja agar mampu membawakan peran gender organ reproduksinya secara matang dan dewasa.

(Kapan Pendidikan Seks Mulai Perlu Diberikan pada Anak?)

Jadi, pendidikan seksual sebetulnya lebih pada pendidikan pembentukan kepribadian sehubungan dengan kepemilikan organ reproduksi. Untuk itu, pendidikan seksual ditunjang oleh unsur-unsur pendidikan etika, psikologi, sosiologi, agama, dan tata krama yang membekali setiap orang untuk berperan membawakan diri sesuai dengan jenis organ reproduksinya.

Untuk menyampaikan pendidikan seksual yang baik memang bukan pekerjaan mudah. Salah satu kendalanya, masih banyak anggapan keliru soal pendidikan seksual yang beredar di masyarakat. Berikut ini beberapa anggapan keliru tadi dan uraian yang benar.

(Pentingkah Pendidikan Seks untuk Remaja?)

  • Pendidikan seksual cuma pantas untuk suami-istri 

    Anggapan ini tidak benar. Kekeliruan muncul karena masih banyak pihak beranggapan, pendidikan seksual identik dengan praktik seks. Pendidikan seksual adalah urusan suami-istri, urusan orang dewasa. Pendidikan seksual bukan seperti itu. Pendidikan seksual tidak mengajarkan atau mempraktikkan teknik atau seni berkegiatan seks.

  • Dengan pendidikan seksual, anak atau remaja justru ingin mencoba-coba melakukan kegiatan seksual

    Pendidikan seksual sama sekali tidak berisi hal-ihwal praktik dan teknik seks, sehingga tidak menggugah anak maupun remaja melakukan kegiatan yang sebetulnya memang belum waktunya mereka lakukan. Pendidikan seksual justru untuk membekali anak dan remaja agar tidak melakukan sesuatu yang "sudah bisa tapi tidak boleh" itulah maka pendidikan seksual dibutuhkan.

  • Pendidikan seksual hanya layak untuk usia remaja

    Jika tujuannya mendidik, maka pendidikan seksual seyogianya diberikan sejak kecil. Bahkan, sejak dalam kandungan. Orangtua mesti menanamkan pengertian bahwa perbedaan gender itu alami. Perbedaan itu sesuatu yang sehat dan organ reproduksi bukan sesuatu yang jorok dan dosa.

    Pada hakikatnya, pendidikan seksual memberikan pendidikan tengan bagaimana membawakan peran sebagai laki-laki atau perempuan secara dewasa dan matang. Bekal ini yang diperlukan dan hanya mungkin lengkap ditanamkan jika sudah dilakukan sejak kecil.

  • Pendidikan seksual merupakan tugas sekolah, bukan orangtua

    Sebelum anak sekolah, tugas orangtualah untuk mulai menanamkan bekal, antara lain tentang mengapa ada perbedaan gender, dari mana adik datang, anatomi dan struktur keluarga sehat, seks bukan sesuatu yang tabu atau dosa, dan seterusnya.

    Pendidikan seksual secara formal menjadi bagian dari pendidikan di sekolah. Materi dan cara pemberiannya dilakukan secara berjenjang sesuai dengan kemampuan daya serap anak. Untuk anak kelas 1 dan anak kelas 5 tentu berbeda cara penyajian dan sifat uraian mengenai materi alat KB, misalnya, atau tentang asal adik dan hal ihwal seputar itu.

  • Pendidikan seksual hanya pantas untuk anak-anak di negara maju dan tidak sesuai dengan budaya timur

    Jika pendidikan seksual diberikan secara benar, tidak ada yang menyimpang dari nilai-nilai ketimuran. Justru setiap orang Timur harus memiliki nilai-nilai yang ditanamkan orangtua atau guru. Tanpa pembekalan ini remaja justru tak memiliki kendali bagaimana menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab terhadap keluhuran nilai seksualitas yang dimilikinya. Misalnya, penanaman nilai bahwa kegadisan itu hanya untuk suami.

  • Pendidikan seksual tidak pantas diberikan secara luas dan terbuka

    Selama pendidikan berorientasi pada penanaman nilai-nilai, pantas dan sah saja diberikan kepada semua orang. Lain halnya jika pendidikan seksual diartikan sebagai konseling seks perkawinan yang tentu bukan untuk semua umur.

    Sikap menabukan atau melihat seks sebagai sesuatu yang kotor dan dosa, justru tidak menyehatkan perkembangan psikoseksual anak. Kelak anak akan memiliki kepribadian yang menyimpang justru oleh anggapan salahnya tentang seks.

  • Pendidikan seksual tidak mengurangi kenakalan dan kejahatan seksual

    Tujuan pendidikan seksual memang bukan untuk menekan kejahatan dan kenakalan seksual. Kenakalan dan kejahatan seksual merupakan bagian yang berbeda dari upaya menyehatkan kematangan seksual pria-wanita. Ada unsur lain di luar jangkauan pendidikan seksual yang menjadikan seseorang cenderung melakukan kenakalan dan kejahatan seksual. Mungkin saja bisa sebagai akibat tidak diterimanya pendidikan seksual semasa kecil, sehingga muncul salah satu bentuk penyimpangan seksual yang dapat menjadi awal dari bentuk kenakalan dan kejahatan seksualnya.

  • Selama ini, tanpa pendidikan seksual toh tidak apa-apa

    WHO sudah menyimpulkan pentingnya pendidikan seksual bagi semua anak di dunia. Tanpa itu, angka-angka kawin dan hamil muda, aborsi ilegal, penyimpangan seksual dan penyakit kelamin remaja, serta bentuk penyimpangan seksual di dunia meningkat terus.

  • Pendidikan seksual hanya bisa diberikan oleh dokter atau konselor seksologi

    Semua orangtua dan guru bisa belajar dan diajarkan untuk memberikan pendidikan seksual. Ada banyak panduan yang bisa dirujuk untuk tujuan itu. Selama mengacu pada dasar pendidikan seksual, yakni pengetahuan anatomi-faal organ reproduksi, nilai-nilai agama dan etika, nilai kehidupan untuk berkembangnya kepribadian yang matang dan sehat, akibat buruk tidak akan terjadi.

  • Pendidikan seksual harus diberikan secara terpisah antara anak laki-laki dan perempuan

    Selama makna seks diterima sebagai sesuatu yang wajar dan alami, bukan sebagai sesuatu yang kotor dan dosa, semua anak pria dan wanita menjadi sehat menerimanya bersama-sama. Anak pria perlu sama-sama tahu tentang organ reproduksi wanita, dan sebaliknya.

Pendidikan seksual yang benar dan diberikan oleh pihak berkompeten untuk itu, disampaikan dengan sikap wajar dan tanpa rasa negatif, agaknya selalu akan menyehatkan.


Sumber :

Author :

K. Tatik Wardayati

I like food

I like eat

I like cooking

Komentar

Berita Terkait

10 Pandangan Keliru soal Pendidikan Seks (2)

Selama ini banyak anak tumbuh tanpa bekal pendidikan

10 Pandangan Keliru soal Pendidikan Seks (1)

Selama ini banyak anak tumbuh tanpa bekal pendidikan

Mengapa Remaja Sering Terjerumus dalam Seks Bebas?

Kisah remaja hamil di sekitar kita masih sering terdengar.

3 Kerugian Hamil di Usia Remaja

Remaja yang hamil memang dihadapkan pada pilihan sulit. Jika

Berita Lainnya

Inilah Cara yang Bisa Dilakukan Agar Memiliki Lebih

Sering menghadapi kesibukan dan merasa tidak punya waktu

Tentang Kejantanan, Benarkah 'Hanya' Soal Kemampuan

Apa yang dimaksud dengan 'kejantanan' sebenarnya? Meski

Lima Mitos Seks Ini Sebaiknya Jangan Dipercaya Lagi

Lima mitos seks seperti berikut ini jangan dipercaya lagi.

Orangtua Harus Tahu, Skip Chalenge Hanya Salah Satu

Selain Skip Challenge, ada beberapa permainan berbahaya